Golkar sebut PKS tak konsisten terkait RAPBNP
Senin, 17 Juni 2013 - 21:12 WIB
Golkar sebut PKS tak konsisten terkait RAPBNP
A
A
A
Sindonews.com - Anggota DPR dari Fraksi Golkar Harry Azhar Azis menyindir sikap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang ditudingnya tidak konsisten dan berubah sikap.
Hal itu terkait dengan sikap PKS dari sebelumnya menyetujui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013, tetapi tiba-tiba PKS belum menyetujui Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBNP) 2013.
"Ketika PKS menolak kenaikan (harga) BBM (Bahan Bakar Minyak), memang itu hak partainya. Tapi artinya mereka sudah berbeda dengan ketika menyetujui APBN 2013 yang mereka setujui waktu Oktober 2012, berarti mereka berubah," ujarnya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Senin (17/6/2013).
"Silakan rakyat melihat, dulu kenapa setuju sekarang mereka berubah. Rakyat yang cerdas kan pasti bertanya, ada apa kok tiba-tiba PKS berubah sikap, menjadi ngotot. Tentu alasannya adalah demi rakyat tapi itu kan alasan-alasan politik," tambah Harry.
Dia menyebut Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) lebih cerdas dalam menentukan sikap politik dengan fokus pada inflasi sebesar bukan kepada naiknya harga BBM.
"PDIP lebih cerdas menurut saya, karena PDIP tidak menyatakan secara tegas menolak kenaikan harga BBM. Mereka cuma berpatok pada inflasi. Sekarang inflasi sebesar 5,57 persen, mereka minta 6 persen. Berarti ruang yg diberikan kepada pemerintah 0,43 persen," paparnya.
Angka inflasi 6 persen yang diutarakan PDIP disebut Harry tantangan bagi pemerintah agar dapat menjaga harga komoditas dengan baik.
"Bisa enggak pemerintah menaikkan harga BBM tapi inflasi di sisa setahun ini 0,43 persen. Artinya pemerintah harus perhatikan betul itu agar harga cabai tidak naik, beras tidak naik, gula, daging tidak naik, bisa nggak itu dilakukan. Kalau itu bisa dilakukan menurut saya mungkin PDIP tidak ada masalah," pungkas Harry.
Hal itu terkait dengan sikap PKS dari sebelumnya menyetujui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013, tetapi tiba-tiba PKS belum menyetujui Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBNP) 2013.
"Ketika PKS menolak kenaikan (harga) BBM (Bahan Bakar Minyak), memang itu hak partainya. Tapi artinya mereka sudah berbeda dengan ketika menyetujui APBN 2013 yang mereka setujui waktu Oktober 2012, berarti mereka berubah," ujarnya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Senin (17/6/2013).
"Silakan rakyat melihat, dulu kenapa setuju sekarang mereka berubah. Rakyat yang cerdas kan pasti bertanya, ada apa kok tiba-tiba PKS berubah sikap, menjadi ngotot. Tentu alasannya adalah demi rakyat tapi itu kan alasan-alasan politik," tambah Harry.
Dia menyebut Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) lebih cerdas dalam menentukan sikap politik dengan fokus pada inflasi sebesar bukan kepada naiknya harga BBM.
"PDIP lebih cerdas menurut saya, karena PDIP tidak menyatakan secara tegas menolak kenaikan harga BBM. Mereka cuma berpatok pada inflasi. Sekarang inflasi sebesar 5,57 persen, mereka minta 6 persen. Berarti ruang yg diberikan kepada pemerintah 0,43 persen," paparnya.
Angka inflasi 6 persen yang diutarakan PDIP disebut Harry tantangan bagi pemerintah agar dapat menjaga harga komoditas dengan baik.
"Bisa enggak pemerintah menaikkan harga BBM tapi inflasi di sisa setahun ini 0,43 persen. Artinya pemerintah harus perhatikan betul itu agar harga cabai tidak naik, beras tidak naik, gula, daging tidak naik, bisa nggak itu dilakukan. Kalau itu bisa dilakukan menurut saya mungkin PDIP tidak ada masalah," pungkas Harry.
(maf)