Bahasa daerah mulai tergerus zaman
Jum'at, 26 April 2013 - 02:47 WIB
Bahasa daerah mulai tergerus zaman
A
A
A
Sindonews.com - Staf pengajar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, B Rahmanto mengatakan, transformasi budaya merupakan salah satu proses yang turut menarik budaya etnik ke tatanan budaya negara kebangsaan.
Menurutnya, negara kebangsaan memiliki naluri untuk menyisihkan dan mengesampingkan nilai lama yang dianggap menghambat efisiensi mesin negara kebangsaan.
"Dalam persoalan jati diri budaya etnik, naluri negara kebangsaan yang menekankan nilai efisiensi dan efektivitas menimbulkan pergeseran budaya yang jauh," kata Rahmanto, saat memaparkan hasil pemikiran kebudayaan Prof Umar Kayam, dalam diskusi Jelajah Pemikiran Budaya Umar Kayam dan Kuntowijoyo, di Yogyakarta, Kamis 25 April 2013.
Dia menjelaskan, salah satu dampak pemaksaan budaya barat dalam negara kebangsaan, terlihat pada bahasa nasional yang mulai mendesak bahasa daerah. Bahasa Indonesia dikembangkan menjadi bahasa politik, ilmu pengetahuan, teknologi, kesusateraan, dan pergaulan kehidupan kontemporer.
"Sosok bahasa-bahasa daerah saat ini sedang dalam kondisi 'rusak', bercampur dengan bahasa nasional menjadi semacam bahasa 'indo'," tuturnya.
Menurutnya, negara kebangsaan memiliki naluri untuk menyisihkan dan mengesampingkan nilai lama yang dianggap menghambat efisiensi mesin negara kebangsaan.
"Dalam persoalan jati diri budaya etnik, naluri negara kebangsaan yang menekankan nilai efisiensi dan efektivitas menimbulkan pergeseran budaya yang jauh," kata Rahmanto, saat memaparkan hasil pemikiran kebudayaan Prof Umar Kayam, dalam diskusi Jelajah Pemikiran Budaya Umar Kayam dan Kuntowijoyo, di Yogyakarta, Kamis 25 April 2013.
Dia menjelaskan, salah satu dampak pemaksaan budaya barat dalam negara kebangsaan, terlihat pada bahasa nasional yang mulai mendesak bahasa daerah. Bahasa Indonesia dikembangkan menjadi bahasa politik, ilmu pengetahuan, teknologi, kesusateraan, dan pergaulan kehidupan kontemporer.
"Sosok bahasa-bahasa daerah saat ini sedang dalam kondisi 'rusak', bercampur dengan bahasa nasional menjadi semacam bahasa 'indo'," tuturnya.
(maf)