Ini yang perlu dicermati dari kepengurusan baru Demokrat
Senin, 22 April 2013 - 07:05 WIB
Ini yang perlu dicermati dari kepengurusan baru Demokrat
A
A
A
Sindonews.com - Tak sampai sebulan pasca Kongres Luar Biasa (KLB) di Bali, Partai Demokrat kini memiliki susunan kepengurusan baru untuk periode 2013-2015. Ada empat hal yang harus dilihat dari komposisi pengurusan baru tersebut.
Pertama, komposisi kepengurusan terlihat masih mengakomodir loyalis mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Dengan mempertahankan Saan Mustopa di posisi Wakil Sekjen dan Andi Nurpati naik kelas dari Ketua DPP menjadi Wakil Sekjen (Wasekjen).
"Ini bisa dilihat sebagai bagian dari karakteristik SBY yang menginginkan untuk tetap merangkul semua faksi di Partai Demokrat. Meski ada juga yang terbuang," ujar Pengamat Politik dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Muradi kepada Sindonews, Senin (22/4/2013).
Kedua, ia menilai, komposisi kepengurusan baru Partai Demokrat cenderung melebar dan tidak fokus. Menurutnya, sangat rentan terhadap kemungkinan faksi-faksi yang ada menyebar ke para wakil ketua yang akan berupaya mendapatkan atensi dari SBY.
"Ada lima wakil ketua, ada empat wakil sekjen dan ada tiga wakil direktur eksekutif. Peluang faksionis jadi makin terbuka. Sekedar gambaran saja antara Wasekjen Ramadhan Pohan dan Saan. Yang diprediksi akan terus berseteru dengan berbasis pada faksionis kepengurusan lama. Belum lagi komposisi wakil ketua yang melebar pada lima wakil ketua tersebut," paparnya.
Ketiga, komposisi kepengurusan yang melebar dan tidak fokus bukan hanya menebar kemungkinan faksionis tapi juga kemungkinan tidak konsentrasinya kader dalam pemenangan politik pada Pemilu 2014.
Yang keempat, kata Muradi, komposisi kepengurusan juga terlalu percaya diri dengan menempatkan beberapa orang baru yang belum teruji kapasitasnya. Hal tersebut bisa menjadi bumerang buat Partai Demokrat pada Pemilu 2014 mendatang.
"Karena selain menegasikan mekanisme internal dalam membuka ruang bagi kader berprestasi. Juga memperkuat asumsi publik akan masih mengakarnya faksionis di internal Demokrat," ujarnya.
Ditambahkannya, komposisi kepengurusan Partai Demokrat tersebut juga dapat dilihat dibangun untuk tetap bergantung pada figur SBY. Sehingga, ketidakfokusan tersebut mengarah pada keinginan SBY agar Partai Demokrat dan kadernya tetap tergantung pada figurnya.
"Selain itu, menempatkan orang baru yang belum teruji kapasitasnya akan membuat situasi pemenangan Partai Demokrat menjadi masalah. Yang kecenderungannya bermasalah pada koordinasi dan visi politik pemenangan. Dan hal tersebut makin terganggu dan berlarut karena menyebarnya kepengurusan dan faksi-faksi yang belum sepenuhnya hilang," pungkasnya.
Pertama, komposisi kepengurusan terlihat masih mengakomodir loyalis mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Dengan mempertahankan Saan Mustopa di posisi Wakil Sekjen dan Andi Nurpati naik kelas dari Ketua DPP menjadi Wakil Sekjen (Wasekjen).
"Ini bisa dilihat sebagai bagian dari karakteristik SBY yang menginginkan untuk tetap merangkul semua faksi di Partai Demokrat. Meski ada juga yang terbuang," ujar Pengamat Politik dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Muradi kepada Sindonews, Senin (22/4/2013).
Kedua, ia menilai, komposisi kepengurusan baru Partai Demokrat cenderung melebar dan tidak fokus. Menurutnya, sangat rentan terhadap kemungkinan faksi-faksi yang ada menyebar ke para wakil ketua yang akan berupaya mendapatkan atensi dari SBY.
"Ada lima wakil ketua, ada empat wakil sekjen dan ada tiga wakil direktur eksekutif. Peluang faksionis jadi makin terbuka. Sekedar gambaran saja antara Wasekjen Ramadhan Pohan dan Saan. Yang diprediksi akan terus berseteru dengan berbasis pada faksionis kepengurusan lama. Belum lagi komposisi wakil ketua yang melebar pada lima wakil ketua tersebut," paparnya.
Ketiga, komposisi kepengurusan yang melebar dan tidak fokus bukan hanya menebar kemungkinan faksionis tapi juga kemungkinan tidak konsentrasinya kader dalam pemenangan politik pada Pemilu 2014.
Yang keempat, kata Muradi, komposisi kepengurusan juga terlalu percaya diri dengan menempatkan beberapa orang baru yang belum teruji kapasitasnya. Hal tersebut bisa menjadi bumerang buat Partai Demokrat pada Pemilu 2014 mendatang.
"Karena selain menegasikan mekanisme internal dalam membuka ruang bagi kader berprestasi. Juga memperkuat asumsi publik akan masih mengakarnya faksionis di internal Demokrat," ujarnya.
Ditambahkannya, komposisi kepengurusan Partai Demokrat tersebut juga dapat dilihat dibangun untuk tetap bergantung pada figur SBY. Sehingga, ketidakfokusan tersebut mengarah pada keinginan SBY agar Partai Demokrat dan kadernya tetap tergantung pada figurnya.
"Selain itu, menempatkan orang baru yang belum teruji kapasitasnya akan membuat situasi pemenangan Partai Demokrat menjadi masalah. Yang kecenderungannya bermasalah pada koordinasi dan visi politik pemenangan. Dan hal tersebut makin terganggu dan berlarut karena menyebarnya kepengurusan dan faksi-faksi yang belum sepenuhnya hilang," pungkasnya.
(kri)