Pengamat: Sejarah Muhaimin & Yenny yang kelam

Kamis, 18 April 2013 - 09:04 WIB
Pengamat: Sejarah Muhaimin...
Pengamat: Sejarah Muhaimin & Yenny yang kelam
A A A
Sindonews.com - Pernyataan Ketua Umum Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB) Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny Wahid) yang melarang kadernya bergabung ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bukan tanpa alasan.

Pernyataan itu dilatarbelakangi sejarah persinggungan Yenny dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar di partai tersebut. Seperti diketahui, keduanya memperebutkan PKB. Keduanya merasa berhak untuk meneruskan rumah politik yang dibangun KH Abdurrahman Wahid dan para kiai Nahdlatul Ulama tersebut.

"Absolutely (betul tentang sejarah). Sejarah hubungan Muhaimin Iskandar dan Yenny Wahid yang kelam," kata Pengamat Politik Founding Fathers House (FFH) Dian Permata saat berbincang dengan Sindonews, Kamis (18/4/2013).

Ketegangan keduanya bisa terlihat ketika pengambilan nomor urut partai peserta pemilu di Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tahun 2009 silam. Kedua tokoh yang masih bersaudara itu berebut mengambil nomor urut PKB.

"Seperti pada waktu pengambilan nomor urut partai pada Pileg (Pemilihan Legislatif) 2009. Meskipun di antara keduanya ada hubungan keluarga. Terlihat sekali (perang dingin itu)," ujar pria jebolan Universitas Jayabaya itu.

Sekadar diketahui, Yenny Wahid mempersilakan kader PKBIB untuk bergabung ke partai politik (parpol) lain, kecuali PKB dan PKS. "Kami sedang membuat rambu-rambu, yang penting jangan ke PKB dan PKS," kata Direktur Wahid Institute ini saat jumpa pers di kantor DPP PKBIB, Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa 16 April 2013 lalu.

Alasannya, kata dia, karena visi misi PKB dan PKS berbeda dengan PKBIB. Maka itu, dia menyerukan kepada adernya untuk memilih partai yang sesuai dengan visi misi partainya.

"Ini berhubungan dengan visi dan misi kebangsaan yang jadi landasan PKBIB. Kami perjuangkan salah satunya dasar ideologi partai yang mengusung nilai-nilai ahlusunah waljamaah. Sehingga ada batasan-batasan wadah politik," katanya.

Jadi, kata dia, parpol yang tidak mengusung nilai-nilai ahlussunnah wal jamaah, tentu tidak mengusung kehormatan mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). "Ini sangat penting bagi kami," tandasnya.
(mhd)
Berita Terkait
4 Jenderal Jadi Tokoh...
4 Jenderal Jadi Tokoh Penting Penjaga Kedaulatan Bangsa
PKB Serahkan Bantuan...
PKB Serahkan Bantuan Peduli Covid-19
Prabowo Hadiri ke-27...
Prabowo Hadiri ke-27 Partai Kebangkitan Bangsa
5 Pekerjaan Rumah Presiden...
5 Pekerjaan Rumah Presiden Prabowo Jaga Kedaulatan Bangsa
Panggung Inspirator...
Panggung Inspirator Muda PKB
Pidato Kebangsaan, Ketua...
Pidato Kebangsaan, Ketua Umum Partai Golkar Yakin Indonesia Akan Jadi Bangsa Maju
Berita Terkini
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved