Pelatihan kesehatan, Kemenkes minta bantuan Pemda

Rabu, 10 April 2013 - 15:17 WIB
Pelatihan kesehatan,...
Pelatihan kesehatan, Kemenkes minta bantuan Pemda
A A A
Sindonews.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berharap Pemerintah Daerah (Pemda) bisa bekerja sama untuk pemberian pelatihan kepada para tenaga medis agar bisa memberiakan diagnosa dan konseling kepada masyarakat.

Direktur Bina Kesehatan Jiwa (Keswa) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Diah Setia mengatakan, Kemenkes menyediakan dana dekonsentrasi yang diberikan kepada Pemda untuk merealisasikan peningkatan pelatihan ini.

Tetapi, tidak semua Pemda tertarik mengadakan pelatihan untuk tenaga kesehatan primer untuk permasalahan jiwa termasuk autis ini.

"Mana mungkin kami bisa memberikan kepelatihan kepada 10.000 Puskesmas yang tersebar sampai pelosok. Tentu-nya peran aktif Pemda sangat dibutuhkan untuk mempercepat tenaga kesehatan yang dibutuhkan," katanya saat ditemui di kantornya, di Jakarta, Rabu (10/4/2013).

Menurutnya, saat ini baru sekira 30 persen Puskesmas yang sudah mendapat pelatihan khusus untuk melakukan pelayanan primer terhadap penyakit seperti autisme. Namun hal ini masih sangat kurang, untuk itu mau tidak mau RS jiwa harus mau penyandang autis.

"Saat ini baru terdapat 33 RS jiwa yang terdapat di 26 provinsi untuk melayani rujukan permasalahan autisme," ungkapnya.

Diah mengatakan, saat ini memang yang dibutuhkan adalah penditeksian dini. Untuk itu Pemda harus mau memberikan pelatihan kepada petugas kesehatan dan para dokter untuk memberikan pengatuhuan kepada masyarakat untuk berikan diteksi dini.

Karena, Urgentsinya ada pad apelayanan primer yang tidak bisa dilakukan oleh petugas kesehatan biasa.

Lanjut dia, hal yang harus dicurigai apabila seorang anak senang bermain sendiri seperti berbicara sendiri atau senang menyendiri, tidak adanya kontak sosial yang dilakukan seperti kontak emosional dan fisik, hyperaktif dan mengalami keterlambatan berbicara dan berjalan disarankan untuk para orangtua cepat membawa ke RS untuk memeriksa kesehatannya.

"Biasanya dalam keterlambatan berjalan atau berbicara ada pada usia dua tahunan. Selain itu dikarenakan faktor genetik juga bisa didekteksi lebih awal untuk para orangtua," tandasnya.
(mhd)
Berita Terkait
Saleh Husin: Kerukunan...
Saleh Husin: Kerukunan Warga Dapat dan Olahraga juga Dapat
Buka Cabang di GDC,...
Buka Cabang di GDC, Satu Dental Ingin Kesehatan Gigi Masyarakat Terjaga
Fenomena Bocah Disunat...
Fenomena Bocah Disunat Jin, Begini Penjelasan Ketua IDI Tangsel
Kondisi Kesehatan Dinilai...
Kondisi Kesehatan Dinilai Sangat Mempengaruhi Kualitas Fokus Otak
Menjaga Kesehatan Masyarakat...
Menjaga Kesehatan Masyarakat Indonesia
Derita Kanker Stadium...
Derita Kanker Stadium 3, Bocah 7 Tahun Warga Tangsel Ini Butuh Biaya
Berita Terkini
Istana: Presiden Prabowo...
Istana: Presiden Prabowo Bakal Angkat Jampidsus Definitif dalam 1-2 Hari
Paripurna DPR Setujui...
Paripurna DPR Setujui Wahidah Suaib Jadi Anggota Ombudsman Pengganti Hery Susanto
Alasan KPK Kembalikan...
Alasan KPK Kembalikan Mobil Noel Ebenezer
Bos Blueray John Field...
Bos Blueray John Field Yakin Uang Suap Tersalurkan ke Dirjen Bea Cukai, Uangnya Tidak Pernah Kembali
Dasco Sebut RUU Perampasan...
Dasco Sebut RUU Perampasan Aset dan RUU Ketenagakerjaan Tetap Dibahas pada Masa Reses
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Infografis
Penerima Bansos 2026...
Penerima Bansos 2026 Wajib Tahu! Ini Penjelasan Desil yang Jadi Penentu Kelayakan Bantuan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved