Pemilih pemula jadi sasaran empuk parpol

Selasa, 09 April 2013 - 16:17 WIB
Pemilih pemula jadi...
Pemilih pemula jadi sasaran empuk parpol
A A A
Sindonews.com - Jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2014, pelajar atau pemilih pemula akan menjadi sasaran empuk 'serangan fajar' partai politik (parpol). Mantan Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Pusat Bambang Eka Cahya Widodo mengatakan, politik uang atau serangan fajar sudah lazim terjadi saat pemilu.

Meski secara harfiah diartikan sebagai tindakan yang dilakukan pada permulaan hari, dalam pemilu, makna 'serangan fajar' menjadi luas.

"Sekarang modus suap makin bervariasi. Ada serangan dhuha, serangan dhuhur, serangan maghrib dan lain-lain. Money politic juga tidak lagi diberikan paska-bayar, tetapi juga pra-bayar," ungkap dia dalam pelatihan pendidikan politik pemilih pemula SMA dan MA se-DIY di Kampus Terpadu UMY, Selasa (9/4/2013).

Sebagai contoh, kata dia, parpol memberikan uang kepada pemilih yang bersedia 'dibeli' suaranya dan kembali memberikan uang pada pemilih yang mengirimkan bukti konkret berupa foto lembar pencoblosan.

Belum lagi, kata dia, ulah parpol yang menerbitkan voucer uang dengan nominal dari Rp20.000 hingga Rp100.000. Pemilih yang berhak mendapatkan uang seperti nominal dalam voucer ialah orang yang bersedia melakukan serangkaian aksi seperti permintaan tim sukses.

Meliputi partisipasi dalam kampanye, datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) hingga masa pencoblosan.

Maraknya aksi suap saat pemilu dinilai Bambang lantaran usia demokrasi di Indonesia masih muda. Sejak diperjuangkan pada tahun 1999, praktis Indonesia baru menjalani 14 tahun masa demokrasi. Pada usia ini, pemilih cenderung bereuforia atau bersenang-senang.

"Pemilih kita masih bermasalah. Apalagi pemilih pemula yang belum tahu apa-apa jadi incaran. Seharusnya forum dan edukasi mengenai pendidikan politik seperti ini diperbanyak," terangnya.

Sayang, kata dia, program sejenis belum banyak diadakan parpol. Sebab, parpol tidak memiliki uang untuk menyelenggarakan acara sejenis dan pelatihan akan berujung pemilih menjadi kritis. Alhasil, kata dia, pemilih sulit ditipu.

Antisipasi politik uang, dapat dilakukan dengan berbagai cara. Seperti memilih sesuai hati nurani maupun memperbaiki masalah teknis yang meliputi menciptakan sistem dan pengawas yang lebih baik maupun hukum pidana lebih berat.
(mhd)
Berita Terkait
Pemerintah Belum Tuntaskan...
Pemerintah Belum Tuntaskan Hak 2.747 Penyelenggara Pemilu 2014
Kebocoran Data Pemilih...
Kebocoran Data Pemilih Pemilu 2014, Ini Kata KPU DIY
Capaian Partai Gerindra...
Capaian Partai Gerindra di Pemilu 2009, 2014, dan 2019
DPR Minta Pemerintah...
DPR Minta Pemerintah Bayar Uang Penghargaan Penyelenggara Pemilu 2014
Peretas Diduga Bobol...
Peretas Diduga Bobol Data Pemilih Pemilu 2014 Melalui KPU
Data Pemilih Pemilu...
Data Pemilih Pemilu 2014 Diduga Dibobol, Termasuk DPT Bantul
Berita Terkini
Bahas RUU Polri, Habiburokhman...
Bahas RUU Polri, Habiburokhman Soroti Polisi Aktif di Ormas
Alasan Prabowo Pilih...
Alasan Prabowo Pilih Nanik S Deyang jadi Kepala BGN Gantikan Dadan Hindayana
Silmy Karim Tersangka...
Silmy Karim Tersangka Korupsi, Komisi III DPR: Usut Tuntas Tanpa Pandang Bulu
Hebat! Kota Semarang...
Hebat! Kota Semarang Raih Penghargaan Nasional Creative Financing, Bukti Inovasi Pemkot Hadirkan Pembangunan yang Berdampak
2 Wamen Kabinet Prabowo...
2 Wamen Kabinet Prabowo Terjerat Korupsi, Nomor 1 Divonis 4,5 Tahun Penjara
Perang Iran 2026: Ketika...
Perang Iran 2026: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved