Mencerna Revolusi Sunyi milik Anas Urbaningrum
Kamis, 28 Februari 2013 - 16:12 WIB
Mencerna Revolusi Sunyi milik Anas Urbaningrum
A
A
A
Sindonews.com - Permasalahan yang menimpa Partai Demokrat diperkirakan akan semakin menemui jalan terjal. Pasalnya, setelah berhentinya Anas Urbaningrum dari posisi Ketua Umum Partai Demokrat, Anas akan meniupkan peluit-peluit permasalahan yang diketahuinya.
Dalam buku Anas yang berjudul "Revolusi Sunyi", dia menyebutkan, kemenangan dan kekalahan dalam sebuah kompetisi adalah hal lumrah. Begitu pun dalam konteks kompetisi politik.
"Bagai sebuah ungkapan klasik tentang sebuah petualangan: Tidaklah terlalu indah ketika sudah sampai ke pulau harapan, namun keelokan tertinggi justru ada pada proses petualangan itu sendiri! Selebrasi kemenangan dan duka kekalahan bukanlah akhir segalanya, namun yang paling penting adalah proses persiapan diri untuk menghadapi," demikian Anas bertutur dalam kata pengantar di bukunya, Revolusi Sunyi.
Dalam buku yang digoreskan pada 2010 lalu itu, Anas mengungkapkan, menempuh perjalanan panjang dibutuhkan kesabaran dalam melampaui berbagai rintangan terjal di sepanjang perjalanan. Termasuk perjalanan panjang dirinya bersama partai yang kini telah menendangnya dari kursi Ketua Umum Partai Demokrat.
Menurut politikus kelahiran Blitar, Jawa Timur, 15 Juli 1969 itu, di dalam buku tersebut, dirinya mengupas habis mengapa suara Partai Demokrat terus melejit dan mampu duduk di posisi pertama di arena pertarungan politik?
"Mengapa pula SBY mampu tampil menjadi tokoh alternatif dan mampu bertahan di pertarungan politik episode kedua?" ungkap Anas.
Pria yang telah mengambil program Doktornya di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, itu menjelaskan, bagaimanapun kemunculan SBY dan Partai Demokrat, baginya merupakan bagian penting dalam memetakan keniscayaan demokrasi di Indonesia.
"Tidak hanya berkontribusi pada pendewasaan sikap politik rakyat Indonesia, namun sekaligus bereksperimen memadukan antara keterbukaan dan kebebasan politik dengan gerak maju pertumbuhan dan perkembangan ekonomi," ujarnya.
Namun, dari kesimpulan yang dituliskannya, ada catatan maha penting yang didapatkan Anas, adalah bahwa semua itu berlangsung secara diam-diam, bergerak maju dan cepat tanpa harus melahirkan kegaduhan.
"Sungguh fenomena SBY dan Partai Demokrat mencerminkan sebuah keadaan: Telah terjadi sebuah revolusi sunyi!" pungkasnya.
Dalam buku Anas yang berjudul "Revolusi Sunyi", dia menyebutkan, kemenangan dan kekalahan dalam sebuah kompetisi adalah hal lumrah. Begitu pun dalam konteks kompetisi politik.
"Bagai sebuah ungkapan klasik tentang sebuah petualangan: Tidaklah terlalu indah ketika sudah sampai ke pulau harapan, namun keelokan tertinggi justru ada pada proses petualangan itu sendiri! Selebrasi kemenangan dan duka kekalahan bukanlah akhir segalanya, namun yang paling penting adalah proses persiapan diri untuk menghadapi," demikian Anas bertutur dalam kata pengantar di bukunya, Revolusi Sunyi.
Dalam buku yang digoreskan pada 2010 lalu itu, Anas mengungkapkan, menempuh perjalanan panjang dibutuhkan kesabaran dalam melampaui berbagai rintangan terjal di sepanjang perjalanan. Termasuk perjalanan panjang dirinya bersama partai yang kini telah menendangnya dari kursi Ketua Umum Partai Demokrat.
Menurut politikus kelahiran Blitar, Jawa Timur, 15 Juli 1969 itu, di dalam buku tersebut, dirinya mengupas habis mengapa suara Partai Demokrat terus melejit dan mampu duduk di posisi pertama di arena pertarungan politik?
"Mengapa pula SBY mampu tampil menjadi tokoh alternatif dan mampu bertahan di pertarungan politik episode kedua?" ungkap Anas.
Pria yang telah mengambil program Doktornya di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, itu menjelaskan, bagaimanapun kemunculan SBY dan Partai Demokrat, baginya merupakan bagian penting dalam memetakan keniscayaan demokrasi di Indonesia.
"Tidak hanya berkontribusi pada pendewasaan sikap politik rakyat Indonesia, namun sekaligus bereksperimen memadukan antara keterbukaan dan kebebasan politik dengan gerak maju pertumbuhan dan perkembangan ekonomi," ujarnya.
Namun, dari kesimpulan yang dituliskannya, ada catatan maha penting yang didapatkan Anas, adalah bahwa semua itu berlangsung secara diam-diam, bergerak maju dan cepat tanpa harus melahirkan kegaduhan.
"Sungguh fenomena SBY dan Partai Demokrat mencerminkan sebuah keadaan: Telah terjadi sebuah revolusi sunyi!" pungkasnya.
(maf)