Anas bantah pidatonya bernada keras & tajam
Rabu, 27 Februari 2013 - 10:49 WIB
Anas bantah pidatonya bernada keras & tajam
A
A
A
Sindonews.com - Anas Urbaningrum membantah anggapan yang menyatakan bahwa pidatonya di DPP Demokrat pada Sabtu 23 Februari 2013 lalu, bernada cukup keras.
"Siapa bilang keras, saya bicara normal, saya sampaikan dengan bahasa yang punya nilai ketimuran yang menurut saya takarannya pas untuk adat ketimuran kita," kata Anas, seperti dikutip Sindonews dari hasil wawancara khusus RCTI, Rabu (27/2/2013) dini hari.
Lebih lanjut Anas mengatakan, pada pidatonya itu dia katakan, bawah apa yang disampaikannya itu merupakan inti dari apa yang terjadi pada dirinya, hingga berhenti dari jabatannya di Partai Demokrat.
"Substansi-substansi yang terkait dengan mengapa saya berhenti menjadi Ketua Umum Partai Demokrat. Jadi tidak ada yang aneh, tidak ada yang ganjil, tidak ada yang di luar takaran. Tetapi ada yang tafsirkan itu keras, tajam, punya agenda yang jauh ke depan, itu kan tafsir-tafsir yang bebas saja," ujarnya.
Seperti diberitakan Sindonews sebelumnya, pasca penetapan sebagai tersangka oleh KPK, Anas resmi berhentidari jabatannya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.
Menurut dia, status tersangka yang disandangnya telah membuat dirinya sadar untuk segera mengundurkan diri sesuai dengan kode etik pribadi dan pakta integritas yang dijadikan pedoman.
"Karena saya sudah punya status hukum sebagai tersangka, meskipun saya yakin posisi saya sebagai tersangka lebih karena faktor non hukum yang saya yakini, tetapi saya punya standar etik pribadi," jelas Anas dalam konferensi pers di Kantor DPP Partai Demokrat, Jalan Kramat No 7, Salemba, Jakarta Pusat, Sabtu 23 Februari 2013.
"Siapa bilang keras, saya bicara normal, saya sampaikan dengan bahasa yang punya nilai ketimuran yang menurut saya takarannya pas untuk adat ketimuran kita," kata Anas, seperti dikutip Sindonews dari hasil wawancara khusus RCTI, Rabu (27/2/2013) dini hari.
Lebih lanjut Anas mengatakan, pada pidatonya itu dia katakan, bawah apa yang disampaikannya itu merupakan inti dari apa yang terjadi pada dirinya, hingga berhenti dari jabatannya di Partai Demokrat.
"Substansi-substansi yang terkait dengan mengapa saya berhenti menjadi Ketua Umum Partai Demokrat. Jadi tidak ada yang aneh, tidak ada yang ganjil, tidak ada yang di luar takaran. Tetapi ada yang tafsirkan itu keras, tajam, punya agenda yang jauh ke depan, itu kan tafsir-tafsir yang bebas saja," ujarnya.
Seperti diberitakan Sindonews sebelumnya, pasca penetapan sebagai tersangka oleh KPK, Anas resmi berhentidari jabatannya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.
Menurut dia, status tersangka yang disandangnya telah membuat dirinya sadar untuk segera mengundurkan diri sesuai dengan kode etik pribadi dan pakta integritas yang dijadikan pedoman.
"Karena saya sudah punya status hukum sebagai tersangka, meskipun saya yakin posisi saya sebagai tersangka lebih karena faktor non hukum yang saya yakini, tetapi saya punya standar etik pribadi," jelas Anas dalam konferensi pers di Kantor DPP Partai Demokrat, Jalan Kramat No 7, Salemba, Jakarta Pusat, Sabtu 23 Februari 2013.
(maf)