Istana klaim SBY masih fokus urus negara
Senin, 18 Februari 2013 - 16:17 WIB
Istana klaim SBY masih fokus urus negara
A
A
A
Sindonews.com - Pihak Istana Kepresidenan membantah jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disebut sudah tidak fokus lagi pada tugas negara karena sibuk mengurus Partai Demokrat.
Hal itu dikatakan Sekretaris Kabinet Dipo Alam menanggapi hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI), yang merilis 68,42 persen publik khawatir kinerja Presiden SBY akan menurun karena terlalu mengurusi partai.
"Jadi, saya mengatakan itu tidak benar, bahwa Presiden tidak fokus pada tugasnya dalam memimpin pemerintahan, itu tidak benar. Jadi, saya bantahlah. Tidak benar hasil survei itu," ujar Dipo Alam kepada wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (18/2/2013).
Seperti diberitakan Sindonews sebelumnya, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis bahwa 68,42 persen publik khawatir atas kinerja SBY, 24,29 persen tidak khawatir dan 7,29 persen tidak tahu.
Lebih lanjut survei itu mengatakan masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan, lebih khawatir terhadap kinerja SBY setelah kembali aktif urus partai. Diketahui, 68,58 persen masyarakat pedesaan khawatir, sementara 24,34 persen tidak khawatir.
"Sedangkan masyarakat kota yang khawatir sebanyak 63,79 persen khawatir dan 24,14 persen tidak khawatir kinerja SBY akan merosot," jelas Peneliti LSI, Barkah Patimahu.
Sementara, untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah 78,97 persen khawatir, dan 12,12 persen tidak khawatir. Untuk ekonomi menengah 73,68 persen khawatir terhadap kinerja SBY dan 10,53 tidak khawatir dan menengah ke atas 62,67 persen dan 30,67 persen tidak khawatir.
Survei ini dilakukan pada 11-14 Februari 2013 dengan metode multistage random sampling, dengan jumlah responden awal 1200 responden. Pengumpulan data dengan wawancara handset (quick poll) dengan margin of error dua persen.
Menurutnya, survei dilengkapi dengan riset kualitatif, Fokus Gruop Discusion (FGD) di tujuh Ibu Kota Provinsi terbesar di Indonesia, dengan menggunakan teknik in depth interview dan analis media nasional.
Hal itu dikatakan Sekretaris Kabinet Dipo Alam menanggapi hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI), yang merilis 68,42 persen publik khawatir kinerja Presiden SBY akan menurun karena terlalu mengurusi partai.
"Jadi, saya mengatakan itu tidak benar, bahwa Presiden tidak fokus pada tugasnya dalam memimpin pemerintahan, itu tidak benar. Jadi, saya bantahlah. Tidak benar hasil survei itu," ujar Dipo Alam kepada wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (18/2/2013).
Seperti diberitakan Sindonews sebelumnya, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis bahwa 68,42 persen publik khawatir atas kinerja SBY, 24,29 persen tidak khawatir dan 7,29 persen tidak tahu.
Lebih lanjut survei itu mengatakan masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan, lebih khawatir terhadap kinerja SBY setelah kembali aktif urus partai. Diketahui, 68,58 persen masyarakat pedesaan khawatir, sementara 24,34 persen tidak khawatir.
"Sedangkan masyarakat kota yang khawatir sebanyak 63,79 persen khawatir dan 24,14 persen tidak khawatir kinerja SBY akan merosot," jelas Peneliti LSI, Barkah Patimahu.
Sementara, untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah 78,97 persen khawatir, dan 12,12 persen tidak khawatir. Untuk ekonomi menengah 73,68 persen khawatir terhadap kinerja SBY dan 10,53 tidak khawatir dan menengah ke atas 62,67 persen dan 30,67 persen tidak khawatir.
Survei ini dilakukan pada 11-14 Februari 2013 dengan metode multistage random sampling, dengan jumlah responden awal 1200 responden. Pengumpulan data dengan wawancara handset (quick poll) dengan margin of error dua persen.
Menurutnya, survei dilengkapi dengan riset kualitatif, Fokus Gruop Discusion (FGD) di tujuh Ibu Kota Provinsi terbesar di Indonesia, dengan menggunakan teknik in depth interview dan analis media nasional.
(kri)