Dipo instruksikan menteri agar bantah rilis LSI
Senin, 18 Februari 2013 - 16:16 WIB
Dipo instruksikan menteri agar bantah rilis LSI
A
A
A
Sindonews.com - Hasil penelitian Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang merilis masyarakat mulai khawatir dengan kinerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sejak mengurusi Partai Demokrat rupanya membuat pihak istana risau.
Sekretaris Kabinet Dipo Alam pun mengimbau agar seluruh menteri di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II untuk menyampaikan menyampaikan kesaksiannya terhadap kinerja Presiden selama ini.
Menteri diminta menyampaikan dengan jujur kepada publik melalui media massa, tidak benar jika Presiden tidak fokus lagi pada tugas negara dan tidak benar ada pengurangan kegiatan Presiden SBY dalam memimpin pemerintahan.
"Tidak ada pengurangan sekalipun. Mengurus partai juga hanya weekend, utamanya dalam upaya penyelamatan Partai Demokrat, dan tidak mengganggu tugas beliau sebagai Presiden. Harap Menteri dengan hormat memberi penjelasan kepada publik ke media sejujurnya, bahwa tidak ada pengurangan kegiatan Presiden memimpin Pemerintahan atau Negara," ujar Dipo Alam dihadapan jajaran menteri KIB Jilid II, di kantor Presiden, Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (18/2/2013).
Seperti diberitakan Sindonews sebelumnya, LSI merilis 68,42 persen publik khawatir atas kinerja SBY, 24,29 persen tidak khawatir dan 7,29 persen tidak tahu.
Lebih lanjut survei itu mengatakan masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan, lebih khawatir terhadap kinerja SBY setelah kembali aktif urus partai. Diketahui, 68,58 persen masyarakat pedesaan khawatir, sementara 24,34 persen tidak khawatir.
"Sedangkan masyarakat kota yang khawatir sebanyak 63,79 persen khawatir dan 24,14 persen tidak khawatir kinerja SBY akan merosot," jelas Peneliti LSI, Barkah Patimahu.
Sementara, untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah 78,97 persen khawatir, dan 12,12 persen tidak khawatir.
Untuk ekonomi menengah 73,68 persen khawatir terhadap kinerja SBY dan 10,53 tidak khawatir dan menengah keatas 62,67 persen dan 30,67 persen tidak khawatir.
Survei ini dilakukan pada 11-14 Februari 2013 dengan metode multistage random sampling, dengan jumlah responden awal 1200 responden. Pengumpulan data dengan wawancara handset (quick poll) dengan margin of eror dua Persen.
Menurutnya, survei dilengkapi dengan riset kualitatif, Fokus Gruop Discusion (FGD) di tujuh Ibu Kota Provinsi terbesar di Indonesia, dengan menggunakan teknik in depth interview dan analis media nasional.
Sekretaris Kabinet Dipo Alam pun mengimbau agar seluruh menteri di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II untuk menyampaikan menyampaikan kesaksiannya terhadap kinerja Presiden selama ini.
Menteri diminta menyampaikan dengan jujur kepada publik melalui media massa, tidak benar jika Presiden tidak fokus lagi pada tugas negara dan tidak benar ada pengurangan kegiatan Presiden SBY dalam memimpin pemerintahan.
"Tidak ada pengurangan sekalipun. Mengurus partai juga hanya weekend, utamanya dalam upaya penyelamatan Partai Demokrat, dan tidak mengganggu tugas beliau sebagai Presiden. Harap Menteri dengan hormat memberi penjelasan kepada publik ke media sejujurnya, bahwa tidak ada pengurangan kegiatan Presiden memimpin Pemerintahan atau Negara," ujar Dipo Alam dihadapan jajaran menteri KIB Jilid II, di kantor Presiden, Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (18/2/2013).
Seperti diberitakan Sindonews sebelumnya, LSI merilis 68,42 persen publik khawatir atas kinerja SBY, 24,29 persen tidak khawatir dan 7,29 persen tidak tahu.
Lebih lanjut survei itu mengatakan masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan, lebih khawatir terhadap kinerja SBY setelah kembali aktif urus partai. Diketahui, 68,58 persen masyarakat pedesaan khawatir, sementara 24,34 persen tidak khawatir.
"Sedangkan masyarakat kota yang khawatir sebanyak 63,79 persen khawatir dan 24,14 persen tidak khawatir kinerja SBY akan merosot," jelas Peneliti LSI, Barkah Patimahu.
Sementara, untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah 78,97 persen khawatir, dan 12,12 persen tidak khawatir.
Untuk ekonomi menengah 73,68 persen khawatir terhadap kinerja SBY dan 10,53 tidak khawatir dan menengah keatas 62,67 persen dan 30,67 persen tidak khawatir.
Survei ini dilakukan pada 11-14 Februari 2013 dengan metode multistage random sampling, dengan jumlah responden awal 1200 responden. Pengumpulan data dengan wawancara handset (quick poll) dengan margin of eror dua Persen.
Menurutnya, survei dilengkapi dengan riset kualitatif, Fokus Gruop Discusion (FGD) di tujuh Ibu Kota Provinsi terbesar di Indonesia, dengan menggunakan teknik in depth interview dan analis media nasional.
(lns)