Minta menterinya fokus kerja, SBY tersandera ucapan sendiri
Senin, 18 Februari 2013 - 13:48 WIB
Minta menterinya fokus kerja, SBY tersandera ucapan sendiri
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai saat ini tengah tersandera dengan imbauannya agar menteri di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid (KIB) II fokus bekerja di akhir masa jabatannya, tetapi dirinya justru terlihat sibuk dengan Partai Demokrat belakangan ini.
Kritikan itu dilontarkan oleh Pengamat Politik dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Sebastian Salang. Menurut dia, akhir-akhir ini banyak menteri dari KIB II yang ikut mengurusi partai. Namun, SBY tidak dapat mengingatkan hal itu lantaran dirinya menjalani sikap yang sama.
Sebastian mengungkapkan hal itu pun berkaca dari hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang merilis hasil bahwa 68,42% publik khawatir dengan kinerja presiden lantaran sibuk mengurusi Partai Demokrat.
"Anda lihat hampir semua menteri dari kabinet punya event masing-masing (dengan partai) dan kebanyakan anggota kabinet dari parpol, jadi (SBY) sulit melarang," jelas Sebastian saat dihubungi Sindonews, Senin (18/2/2013).
Lanjut dia, hal ini pun tidak terlepas karena SBY yang sebelumnya mengimbau agar menteri fokus kerja namun dia ikut sibuk mengurusi partai, tak khayal itu pun dicontoh pembantu lainnya.
"Ini tidak lepas karena menjelang Pemilu ini karena itu menteri juga sibuk dengan partai dan ini juga karena Pak SBY."
"Jadi larangan tidak efektif dan dia tidak bisa mengatakan kepada menterinya, hal yang telah dia larang tetapi dia lakukan juga," lanjutnya.
Seperti diberitakan Sindonews sebelumnya, LSI merilis bahwa 68,42% publik khawatir atas kinerja SBY, 24,29% tidak khawatir dan 7,29% tidak tahu. Lebih lanjut survei itu mengatakan masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan, lebih khawatir terhadap kinerja SBY setelah kembali aktif urus partai. Diketahui, 68,58 persen masyarakat pedesaan khawatir, sementara 24,34 persen tidak khawatir.
"Sedangkan masyarakat kota yang khawatir sebanyak 63,79 persen khawatir dan 24,14 persen tidak khawatir kinerja SBY akan merosot," jelas Peneliti LSI, Barkah Patimahu.
Sementara, untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah 78,97 persen khawatir, dan 12,12 persen tidak khawatir.
Untuk ekonomi menengah 73,68 persen khawatir terhadap kinerja SBY dan 10,53 tidak khawatir dan menengah keatas 62,67 persen dan 30,67 persen tidak khawatir.
Survei ini dilakukan pada 11-14 Februari 2013 dengan metode multistage random sampling, dengan jumlah responden awal 1200 responden. Pengumpulan data dengan wawancara handset (quick poll) dengan margin of eror dua Persen.
Menurutnya, Survei dilengkapi dengan riset kualitatif, Fokus Gruop Discusion (FGD) di tujuh Ibu Kota Provinsi terbesar di Indonesia, dengan menggunakan teknik in depth interview dan analis media nasional.
Kritikan itu dilontarkan oleh Pengamat Politik dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Sebastian Salang. Menurut dia, akhir-akhir ini banyak menteri dari KIB II yang ikut mengurusi partai. Namun, SBY tidak dapat mengingatkan hal itu lantaran dirinya menjalani sikap yang sama.
Sebastian mengungkapkan hal itu pun berkaca dari hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang merilis hasil bahwa 68,42% publik khawatir dengan kinerja presiden lantaran sibuk mengurusi Partai Demokrat.
"Anda lihat hampir semua menteri dari kabinet punya event masing-masing (dengan partai) dan kebanyakan anggota kabinet dari parpol, jadi (SBY) sulit melarang," jelas Sebastian saat dihubungi Sindonews, Senin (18/2/2013).
Lanjut dia, hal ini pun tidak terlepas karena SBY yang sebelumnya mengimbau agar menteri fokus kerja namun dia ikut sibuk mengurusi partai, tak khayal itu pun dicontoh pembantu lainnya.
"Ini tidak lepas karena menjelang Pemilu ini karena itu menteri juga sibuk dengan partai dan ini juga karena Pak SBY."
"Jadi larangan tidak efektif dan dia tidak bisa mengatakan kepada menterinya, hal yang telah dia larang tetapi dia lakukan juga," lanjutnya.
Seperti diberitakan Sindonews sebelumnya, LSI merilis bahwa 68,42% publik khawatir atas kinerja SBY, 24,29% tidak khawatir dan 7,29% tidak tahu. Lebih lanjut survei itu mengatakan masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan, lebih khawatir terhadap kinerja SBY setelah kembali aktif urus partai. Diketahui, 68,58 persen masyarakat pedesaan khawatir, sementara 24,34 persen tidak khawatir.
"Sedangkan masyarakat kota yang khawatir sebanyak 63,79 persen khawatir dan 24,14 persen tidak khawatir kinerja SBY akan merosot," jelas Peneliti LSI, Barkah Patimahu.
Sementara, untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah 78,97 persen khawatir, dan 12,12 persen tidak khawatir.
Untuk ekonomi menengah 73,68 persen khawatir terhadap kinerja SBY dan 10,53 tidak khawatir dan menengah keatas 62,67 persen dan 30,67 persen tidak khawatir.
Survei ini dilakukan pada 11-14 Februari 2013 dengan metode multistage random sampling, dengan jumlah responden awal 1200 responden. Pengumpulan data dengan wawancara handset (quick poll) dengan margin of eror dua Persen.
Menurutnya, Survei dilengkapi dengan riset kualitatif, Fokus Gruop Discusion (FGD) di tujuh Ibu Kota Provinsi terbesar di Indonesia, dengan menggunakan teknik in depth interview dan analis media nasional.
(kri)