'Celoteh' SBY buat luka Demokrat semakin menganga

Rabu, 06 Februari 2013 - 06:30 WIB
Celoteh SBY buat luka...
'Celoteh' SBY buat luka Demokrat semakin menganga
A A A
Sindonews.com - Pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Jeddah, Arab Saudi, yang menyebutkan agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperjelas status Ketua Umum Anas Urbaningrum lantaran terbelit kasus korupsi sport center Hambalang, Bogor, Jawa Barat, dinilai akan menambah friksi di Partai Demokrat semakin meluas.

Menurut Pengamat Politik LIPI Siti Zuhro, borok dalam partai berlambang mercy tersebut juga dinilai akan semakin menganga, lantaran diantara kubu SBY dan kubu Anas akan saling melakukan aksi dukungan.

"Friksi sudah tak bisa ditutupi lagi, konflik di Demokrat akan semakin menganga," jelas Siti Zuhro kepada Sindonews, Rabu (6/2/2013).

Menurutnya, hal itu memang diperlukan jika SBY berbicara dalam kapasitasnya sebagai Dewan Pembina Partai Demokrat, tetapi saat itu SBY dinilai berbicara sebagai kepala negara, sehingga tak dipantaskannya.

"Baiknya SBY juga berkaca diri, sebagai Presiden fokuslah menjadi presiden yang baik," jelasnya.

Maka itu, Siti-pun menyebut, Partai Demokrat dinilai tidak matang meski sudah berjalan 10 tahun bersama rakyat. Karena dinilainya belum mampu mengelola konflik.

"Sulit dipetakan, Partai Demokrat partai tidak matang," tegasnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara tegas meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk segera menuntaskan sejumlah kasus yang menimpa kader Partai Demokrat, termasuk Ketua Umumnya Anas Urbaningrum.

Kata SBY, jika seorang kader partai berlambang bintang mercy itu dinyatakan bersalah, pihaknya akan menerima kenyataan tersebut. Namun, jika seorang kader Partai Demokrat itu dinyatakan tak bersalah, pihaknya ingin dijelaskan, mengapa dinyatakan tak bersalah.

"Jika salah, ya kita terima memang salah. Kalau tidak salah, kami juga ingin tahu kalau itu tidak salah. Termasuk Ketua Umum PD, Anas Urbanigrum yang juga diperiksa dan dicitrakan publik secara luas di tanah air sebagai bersalah atau terlibat dalam korupsi ini, meskipun KPK belum menentukan hasil pemeriksaan," ujar Presiden SBY di Jeddah, Arab Saudi, Senin 4 Februari 2013.
(rsa)
Berita Terkait
Tolak KLB Sibolangit,...
Tolak KLB Sibolangit, Demokrat Sumut Tetap Loyal Pada AHY
Pesan Moeldoko ke AHY:...
Pesan Moeldoko ke AHY: Jadi Pemipin Harus Kuat, Jangan Baperan
Makin Panas, Moeldoko...
Makin Panas, Moeldoko Disebut Bagi-bagi Uang dan Ponsel saat KLB Demokrat di Deli Serdang
Kader Muda Demokrat...
Kader Muda Demokrat Dukung KLB Partai Demokrat
Penyerahan Surat Rekomendasi...
Penyerahan Surat Rekomendasi Partai Demokrat untuk Pilkada 2024
Partai Demokrat Keluarkan...
Partai Demokrat Keluarkan 60 Rekomendasi Pilkada 2024, Ada Marshel Widianto dan Gilang Dirga
Berita Terkini
PM India Akan ke Indonesia...
PM India Akan ke Indonesia Bertemu Prabowo, Bahas Ketahanan Pangan hingga Pertahanan
FSP BUMN Bersatu Sebut...
FSP BUMN Bersatu Sebut Gelombang PHK Cerminkan Persoalan Struktural Ekonomi Nasional
BMKG: 48,9% Wilayah...
BMKG: 48,9% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, Puncaknya Juli-September 2026
Retorika Visual Diplomasi...
Retorika Visual Diplomasi Prabowo dan Lukashenko
KPK: Bupati Langkat...
KPK: Bupati Langkat Minta Upeti Proyek hingga Terima Gratifikasi Pengadaan Seragam Sekolah
AAI Satukan Kepengurusan...
AAI Satukan Kepengurusan lewat Munaslub Bersama di Jakarta
Infografis
Indonesia Diprediksi...
Indonesia Diprediksi Bakal Masuk Jebakan Utang Semakin Dalam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved