Ini 4 program besar BNPB kurangi risiko Tsunami
Minggu, 30 Desember 2012 - 08:30 WIB
Ini 4 program besar BNPB kurangi risiko Tsunami
A
A
A
Sindonews.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) segera menyusun masterplan pengurangan risiko bencana Tsunami dengan melibatkan berbagai institusi terkait serta perguruan tinggi. Setidaknya terdapat empat program besar dari pelaksanaan masterplan Tsunami yang segera disusun itu.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, empat program yang dimaksudnya itu adalah, pertama penguatan rantai peringatan dini, kedua pembangunan dan peningkatan tempat evakuasi sementara, ketiga penguatan kapasitas kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana, dan keempat pembangunan kemandirian industri kebencanaan.
"Masing-masing dari program besar ini memiliki sejumlah kegiatan, misalnya penguatan rantai peringatan dini Tsunami dilakukan dengan kegiatan pembangunan dan pengembangan sistem peringatan dini nasional dan daerah yang terintegrasi, sirine utama, sirine peringatan dini dengan teknologi sederhana di tingkat lokal berbasis komunitas, pemantauan pasang surut dengan teknologi sederhana dan penyediaan sarana dan prasarana informasi dan komunikasi peringatan dini termasuk prototype sensor bawah laut," papar Sutopo kepada Sindonews, Minggu (30/12/2012).
Sedangkan beberapa lokasi yang harus dibangun untuk evakuasi antara lain, shelter evakuasi vertikal, pembangunan jalur dan tangga evakuasi, pembuatan rambu evakuasi dan papan peringatan. Kemudian, pengembangan greenbelt untuk mitigasi Tsunami. Selain itu penyusunan peta jalur evakuasi, sosialisasi dan diseminasi tempat evakuasi sementara (TES) juga harus dilakukan.
Sedangkan untuk programm kapasitas kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana dapat dilakukan dengan menyusun peraturan, pedoman, petunjuk teknis kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana gempabumi dan Tsunami.
"Pembangunan dan penguatan Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) yang terintegrasi dengan sistem peringatan dini, penyusunan rencana penanggulangan bencana dan rencana kontijensi berbasis komunitas, pengembangan Desa Tangguh, pembentukan dan penguatan relawan penanggulangan bencana," papar Sutopo.
Selain itu, pemenuhan kebutuhan logistik dan peralatan penanggulangan bencana juga harus menjadi perhatian. Ditambah dengan penyediaan sarana dan prasarana pendukung penanggulangan bencana yang dilengkapi dengan pelatihan dan simulasi. Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan kebencanaan harus terus dilakukan.
"Dalam program kemandirian industri kebencanaan dapat dilakukan melalui kegiatan, pengembangan teknologi instrumentasi pemantauan dan pendeteksi gempa bumi dan Tsunami. Selain itu pembuatan prototipe dan ujicoba instrumentasi pemantauan dan pendeteksi gempa bumi dan Tsunami," pungkas Sutopo.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, empat program yang dimaksudnya itu adalah, pertama penguatan rantai peringatan dini, kedua pembangunan dan peningkatan tempat evakuasi sementara, ketiga penguatan kapasitas kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana, dan keempat pembangunan kemandirian industri kebencanaan.
"Masing-masing dari program besar ini memiliki sejumlah kegiatan, misalnya penguatan rantai peringatan dini Tsunami dilakukan dengan kegiatan pembangunan dan pengembangan sistem peringatan dini nasional dan daerah yang terintegrasi, sirine utama, sirine peringatan dini dengan teknologi sederhana di tingkat lokal berbasis komunitas, pemantauan pasang surut dengan teknologi sederhana dan penyediaan sarana dan prasarana informasi dan komunikasi peringatan dini termasuk prototype sensor bawah laut," papar Sutopo kepada Sindonews, Minggu (30/12/2012).
Sedangkan beberapa lokasi yang harus dibangun untuk evakuasi antara lain, shelter evakuasi vertikal, pembangunan jalur dan tangga evakuasi, pembuatan rambu evakuasi dan papan peringatan. Kemudian, pengembangan greenbelt untuk mitigasi Tsunami. Selain itu penyusunan peta jalur evakuasi, sosialisasi dan diseminasi tempat evakuasi sementara (TES) juga harus dilakukan.
Sedangkan untuk programm kapasitas kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana dapat dilakukan dengan menyusun peraturan, pedoman, petunjuk teknis kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana gempabumi dan Tsunami.
"Pembangunan dan penguatan Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) yang terintegrasi dengan sistem peringatan dini, penyusunan rencana penanggulangan bencana dan rencana kontijensi berbasis komunitas, pengembangan Desa Tangguh, pembentukan dan penguatan relawan penanggulangan bencana," papar Sutopo.
Selain itu, pemenuhan kebutuhan logistik dan peralatan penanggulangan bencana juga harus menjadi perhatian. Ditambah dengan penyediaan sarana dan prasarana pendukung penanggulangan bencana yang dilengkapi dengan pelatihan dan simulasi. Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan kebencanaan harus terus dilakukan.
"Dalam program kemandirian industri kebencanaan dapat dilakukan melalui kegiatan, pengembangan teknologi instrumentasi pemantauan dan pendeteksi gempa bumi dan Tsunami. Selain itu pembuatan prototipe dan ujicoba instrumentasi pemantauan dan pendeteksi gempa bumi dan Tsunami," pungkas Sutopo.
(lns)