Parpol hanya kejar elektabilitas ketimbang perubahan
Sabtu, 29 Desember 2012 - 11:18 WIB
Parpol hanya kejar elektabilitas ketimbang perubahan
A
A
A
Sindonews.com - Partai politik (Parpol) di Indonesia dinilai hanya mengejar popularitas dan elektabilitas, ketimbang membuat gagasan untuk melakukan pembenahan terkait masalah krusial dalam menyelamatkan kehidupan bangsa.
"Semua partai politik lebih memburu dan mengutak-atik potensi popularitas dan elektabilitas bagi kandidatnya ketimbang mendesiminasikan gagasan alternatif terbaik untuk membenahi aneka persoalan krusial dan strategis bangsa kita," jelas Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris dalam seminar Budaya Politik Indonesia dan Kelas Menengah di Gren Alia Cikini, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (29/12/2012).
Dia menambahkan, hingga saat ini juga belum ada kekuatan masyarakat yang dapat melakukan partisipasi politik untuk melakukan perubahan terlebih bagi mereka kelas menengah.
"Di tengah krisis pemihakan parpol, para pemimpin, wakil rakyat, dan para politisi di dalam struktur kekuasaan, relatif belum ada tawaran atau agenda yang signifikan dari kekuatan civil society, khususnya kelas menengah," katanya.
Atas hal ini, Syamsuddin pesimis pada pemilihan umum (Pemilu) 2014 mendatang akan hadir calon pemimpin nasional yang membawa perubahan.
"Meskipun Pemilu 2014 hanya tinggal hitungan bulan ke depan hampir tak seorang pun calon pemimpin nasional yang menjanjikan masa depan yang lebih baik bagi bangsa kita," terangnya.
Karenanya, untuk dapat mengkontrol Parpol dan menghasilkan pemimpin yang berkualitas, dia menyarankan agar masyarakat sipil mau lebih aktif dalam melakukan perubahan politik di Indonesia.
"Perubahan menuju Indonesia yang lebih adil dan nyaman bagi segenap rakyatnya, hanya dapat diwujudkan apabila rakyat selaku warga negara pemilik kedaulatan politik dan pemberi mandat dalam Pemilu," pungkasnya.
"Semua partai politik lebih memburu dan mengutak-atik potensi popularitas dan elektabilitas bagi kandidatnya ketimbang mendesiminasikan gagasan alternatif terbaik untuk membenahi aneka persoalan krusial dan strategis bangsa kita," jelas Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris dalam seminar Budaya Politik Indonesia dan Kelas Menengah di Gren Alia Cikini, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (29/12/2012).
Dia menambahkan, hingga saat ini juga belum ada kekuatan masyarakat yang dapat melakukan partisipasi politik untuk melakukan perubahan terlebih bagi mereka kelas menengah.
"Di tengah krisis pemihakan parpol, para pemimpin, wakil rakyat, dan para politisi di dalam struktur kekuasaan, relatif belum ada tawaran atau agenda yang signifikan dari kekuatan civil society, khususnya kelas menengah," katanya.
Atas hal ini, Syamsuddin pesimis pada pemilihan umum (Pemilu) 2014 mendatang akan hadir calon pemimpin nasional yang membawa perubahan.
"Meskipun Pemilu 2014 hanya tinggal hitungan bulan ke depan hampir tak seorang pun calon pemimpin nasional yang menjanjikan masa depan yang lebih baik bagi bangsa kita," terangnya.
Karenanya, untuk dapat mengkontrol Parpol dan menghasilkan pemimpin yang berkualitas, dia menyarankan agar masyarakat sipil mau lebih aktif dalam melakukan perubahan politik di Indonesia.
"Perubahan menuju Indonesia yang lebih adil dan nyaman bagi segenap rakyatnya, hanya dapat diwujudkan apabila rakyat selaku warga negara pemilik kedaulatan politik dan pemberi mandat dalam Pemilu," pungkasnya.
(mhd)