2013, Bencana hidrometeorologi tetap dominan
Kamis, 27 Desember 2012 - 15:08 WIB
2013, Bencana hidrometeorologi tetap dominan
A
A
A
Sindonews.com - Bencana hidrometeorologi pada tahun 2013 diperkirakan akan tetap dominan. Banjir, longsor, puting beliung, kekeringan, kebakaran lahan dan hutan, dan gelombang pasang akan mendominasi dibandingkan dengan bencana geologi, sosial dan biologi.
Diperkirakan lebih dari 80 persen bencana hidrometeorologi akan terjadi dari total kejadian bencana selama 2013 mendatang.
Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Benaca (BNPB) Dr Sutopo Purwo Nugroho, peningkatan bencana hidrometeorologi tersebut tidak lepas dari pengaruh perubahan iklim global dan antropogenik.
"Menurut laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) 2012, pemanasan global telah menyebabkan wilayah tropis meluas," jelas Sutopo dalam rilisnya yang diterima Sindonews, Kamis (27/12/2012).
Menurutnya, tidak aneh jika hujan bertambah deras dan sering terjadi. Kondisi ini diperparah dengan antropogenik yang menyebabkan daya dukung dan daya tampung lingkungan terlampaui.
Dia menambahkan, urbanisasi, kemiskinan, pelanggaran tata ruang, pertambahan, berkurangnya resapan air, perubahan penggunaan lahan, permukiman di bantaran sungai dan di lereng perbukitan, dan lainnya menyebabkan makin rentan terhadap bencana.
BMKG sendiri menyatakan musim penghujan normal hingga bulan Mei 2013 mendatang. Dengan melihat pola dan karakteristik hujan di Indonesia, maka diperkirakan puting beliung berpotensi hingga Maret-April 2013.
"Selama tahun 2012, data sementara terjadi 295 puting beliung di Indonesia. Atau 36 persen dari total bencana selama 2012. Tren kejadian puting beliung cenderung mengalami peningkatan di setiap tahunnya. Selama 2002-2011 meningkat 28 kali lipat," jelasnya.
Terdapat 404 kabupaten/kota dengan jumlah penduduk 115 juta jiwa tinggal di daerah rawan sedang hingga tinggi dari bahaya puting beliung di Indonesia. Pasalnya, hingga kini sistem peringatan dini puting beliung belum tersedia.
Hal ini disebabkan kecilnya cakupan terjangan puting beliung kurang dari 2 km, waktu kejadian kurang dari 10 menit, dan tidak semua awan Cumulonimbus selalu terjadi puting beliung.
"Banjir dan longsor berpotensi terjadi hingga April 2013. Puncak banjir dan longsor Januari-Februari 2013," jelasnya.
BNPB juga mengingatkan, sebanyak 315 kabupaten/kota dengan 60,9 juta jiwa tinggal di daerah rawan sedang-tinggi banjir di Indonesia. Sedangkan untuk longsor terdapat 270 kab/kota dengan 124 juta jiwa tinggal di daerah rawan sedang-tinggi longsor.
Untuk banjir lahar dingin, berpotensi di Gunung Merapi, Gamalama, Bromo, Lokon dan Soputan hingga Maret 2013. Menurutnya, ada 77 juta m3 material lahar dingin di Merapi.
Menyoal kebakaran lahan dan hutan, selama musim kemarau berpotensi terjadi di delapan provinsi langganan yaitu Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
"Kekeringan berpotensi terjadi selama Agustus-Oktober di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan daerah-daerah yang defisit air," jelasnya.
Untuk gempabumi dan tsunami, BNPB belum dapat memprediksikan secara pasti kapan, besaran dan dimana.
Namun berdasarkan Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI BNPB) dari tahun 1825-2012, jumlah korban meninggal dan hilang akibat bencana geologi lebih banyak dibandingkan hidrometeorologi.
Dari 292.330 orang meninggal dan hilang, sekira 74 persen akibat bencana geologi. Sedangkan 26 persen bencana hidrome geologi. Untuk bencana hidrometeorologi dan lainnya 26 persen.
"Dengan kondisi tersebut, diimbau masyarakat siap siaga. Bencana datang ketika kita tidak siap. Semoga tidak ada bencana besar di tahun mendatang," jelasnya.
Diperkirakan lebih dari 80 persen bencana hidrometeorologi akan terjadi dari total kejadian bencana selama 2013 mendatang.
Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Benaca (BNPB) Dr Sutopo Purwo Nugroho, peningkatan bencana hidrometeorologi tersebut tidak lepas dari pengaruh perubahan iklim global dan antropogenik.
"Menurut laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) 2012, pemanasan global telah menyebabkan wilayah tropis meluas," jelas Sutopo dalam rilisnya yang diterima Sindonews, Kamis (27/12/2012).
Menurutnya, tidak aneh jika hujan bertambah deras dan sering terjadi. Kondisi ini diperparah dengan antropogenik yang menyebabkan daya dukung dan daya tampung lingkungan terlampaui.
Dia menambahkan, urbanisasi, kemiskinan, pelanggaran tata ruang, pertambahan, berkurangnya resapan air, perubahan penggunaan lahan, permukiman di bantaran sungai dan di lereng perbukitan, dan lainnya menyebabkan makin rentan terhadap bencana.
BMKG sendiri menyatakan musim penghujan normal hingga bulan Mei 2013 mendatang. Dengan melihat pola dan karakteristik hujan di Indonesia, maka diperkirakan puting beliung berpotensi hingga Maret-April 2013.
"Selama tahun 2012, data sementara terjadi 295 puting beliung di Indonesia. Atau 36 persen dari total bencana selama 2012. Tren kejadian puting beliung cenderung mengalami peningkatan di setiap tahunnya. Selama 2002-2011 meningkat 28 kali lipat," jelasnya.
Terdapat 404 kabupaten/kota dengan jumlah penduduk 115 juta jiwa tinggal di daerah rawan sedang hingga tinggi dari bahaya puting beliung di Indonesia. Pasalnya, hingga kini sistem peringatan dini puting beliung belum tersedia.
Hal ini disebabkan kecilnya cakupan terjangan puting beliung kurang dari 2 km, waktu kejadian kurang dari 10 menit, dan tidak semua awan Cumulonimbus selalu terjadi puting beliung.
"Banjir dan longsor berpotensi terjadi hingga April 2013. Puncak banjir dan longsor Januari-Februari 2013," jelasnya.
BNPB juga mengingatkan, sebanyak 315 kabupaten/kota dengan 60,9 juta jiwa tinggal di daerah rawan sedang-tinggi banjir di Indonesia. Sedangkan untuk longsor terdapat 270 kab/kota dengan 124 juta jiwa tinggal di daerah rawan sedang-tinggi longsor.
Untuk banjir lahar dingin, berpotensi di Gunung Merapi, Gamalama, Bromo, Lokon dan Soputan hingga Maret 2013. Menurutnya, ada 77 juta m3 material lahar dingin di Merapi.
Menyoal kebakaran lahan dan hutan, selama musim kemarau berpotensi terjadi di delapan provinsi langganan yaitu Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
"Kekeringan berpotensi terjadi selama Agustus-Oktober di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan daerah-daerah yang defisit air," jelasnya.
Untuk gempabumi dan tsunami, BNPB belum dapat memprediksikan secara pasti kapan, besaran dan dimana.
Namun berdasarkan Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI BNPB) dari tahun 1825-2012, jumlah korban meninggal dan hilang akibat bencana geologi lebih banyak dibandingkan hidrometeorologi.
Dari 292.330 orang meninggal dan hilang, sekira 74 persen akibat bencana geologi. Sedangkan 26 persen bencana hidrome geologi. Untuk bencana hidrometeorologi dan lainnya 26 persen.
"Dengan kondisi tersebut, diimbau masyarakat siap siaga. Bencana datang ketika kita tidak siap. Semoga tidak ada bencana besar di tahun mendatang," jelasnya.
(rsa)