Virus flu burung 2012 baru, bukan hasil mutasi
Rabu, 26 Desember 2012 - 14:31 WIB
Virus flu burung 2012 baru, bukan hasil mutasi
A
A
A
Sindonews.com - Kasus serangan virus flu burung (H5N1) yang terjadi selama bulan Desember 2012 ini dinilai pakar kesehatan hewan UGM sebagai virus yang termasuk baru.
Hal ini dikarenakan virus yang ditemukan sebagai penyebab kematian ribuan itik ini teridentifikasi memiliki perbedaan clade (pengelompokan kromosom virus) dengan virus flu burung yang dikenal selama ini.
“Virus yang baru ini ialah virus A1 sub-tipe H5N1 clade 2.3.2.1, sedangkan virus yang kita tahu selama ini dan dulunya juga pernah mewabah di Indonesia adalah virus A1 sub-tipe H5N1 clade 2.1. Namun demikian, virus baru ini bukan merupakan mutasi dari virus sebelumnya,” ujar Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM Widya Asmara, di Fakultas Kedokteran, UGM, Rabu (26/12/2012).
Widya menuturkan, dari tingkat keganasan, virus dengan clade 2.3.2.1 ini termasuk virus yang ganas. Untuk kejadian di dunia, virus ini sudah menyerang peternakan unggas di Nepal pada 2010 lalu dan baru memasuki Indonesia di akhir-akhir tahun ini. Kemungkinan penyebaran virus flu burung baru ini masuk ke Indonesia dikarenakan dua hal yakni migrasinya burung liar dari bagian utara bumi menuju selatan dan perdagangan itik dari negara-negara Asia ke Indonesia yang dapat dikatakan ilegal.
“Sampai saat ini, memang belum ada vaksin untuk jenis virus baru ini di Indonesia. Sedangkan vaksin A1 yang sekarang tersedia bisa dikatakan tidak mampu mengatasi virus A1 yang baru ini meski di lapangan dilakukan pemberian dosis tinggi. Memang perlu dipikirkan pengembangan vaksin baru,” tegasnya.
Menurut Widya, pihaknya sudah ada yang mulai melakukan penelitian mengenai vaksin untuk virus baru tersebut. Namun untuk pengembangan vaksin secara maksimal apalagi produksi massal, masih terkendala izin dari pemerintah pusat.
Dengan pemberlakuan aturan baru pemerintah yang melarang pembuatan vaksin baru, FKH UGM belum bisa melakukan pembuatan vaksin untuk virus A1 sub-tipe H5N1 clade 2.3.2.1.
“Jika memang ada itik yang mati dan positif terkena virus ini, maka kami menyarankan dilakukan pemusnahan terbatas. Yang terpenting lagi ialah pencegahan perdagangan unggas dari daerah yang terjangkit karena pasar menjadi lokasi efektif penyebaran virus ini,” paparnya.
Hal ini dikarenakan virus yang ditemukan sebagai penyebab kematian ribuan itik ini teridentifikasi memiliki perbedaan clade (pengelompokan kromosom virus) dengan virus flu burung yang dikenal selama ini.
“Virus yang baru ini ialah virus A1 sub-tipe H5N1 clade 2.3.2.1, sedangkan virus yang kita tahu selama ini dan dulunya juga pernah mewabah di Indonesia adalah virus A1 sub-tipe H5N1 clade 2.1. Namun demikian, virus baru ini bukan merupakan mutasi dari virus sebelumnya,” ujar Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM Widya Asmara, di Fakultas Kedokteran, UGM, Rabu (26/12/2012).
Widya menuturkan, dari tingkat keganasan, virus dengan clade 2.3.2.1 ini termasuk virus yang ganas. Untuk kejadian di dunia, virus ini sudah menyerang peternakan unggas di Nepal pada 2010 lalu dan baru memasuki Indonesia di akhir-akhir tahun ini. Kemungkinan penyebaran virus flu burung baru ini masuk ke Indonesia dikarenakan dua hal yakni migrasinya burung liar dari bagian utara bumi menuju selatan dan perdagangan itik dari negara-negara Asia ke Indonesia yang dapat dikatakan ilegal.
“Sampai saat ini, memang belum ada vaksin untuk jenis virus baru ini di Indonesia. Sedangkan vaksin A1 yang sekarang tersedia bisa dikatakan tidak mampu mengatasi virus A1 yang baru ini meski di lapangan dilakukan pemberian dosis tinggi. Memang perlu dipikirkan pengembangan vaksin baru,” tegasnya.
Menurut Widya, pihaknya sudah ada yang mulai melakukan penelitian mengenai vaksin untuk virus baru tersebut. Namun untuk pengembangan vaksin secara maksimal apalagi produksi massal, masih terkendala izin dari pemerintah pusat.
Dengan pemberlakuan aturan baru pemerintah yang melarang pembuatan vaksin baru, FKH UGM belum bisa melakukan pembuatan vaksin untuk virus A1 sub-tipe H5N1 clade 2.3.2.1.
“Jika memang ada itik yang mati dan positif terkena virus ini, maka kami menyarankan dilakukan pemusnahan terbatas. Yang terpenting lagi ialah pencegahan perdagangan unggas dari daerah yang terjangkit karena pasar menjadi lokasi efektif penyebaran virus ini,” paparnya.
(rsa)