Perbaiki hubungan Indonesia-Malaysia dengan EPG
Kamis, 13 Desember 2012 - 07:53 WIB
Perbaiki hubungan Indonesia-Malaysia dengan EPG
A
A
A
Sindonews.com - Hubungan Indonesia dengan Malaysia akhir-akhir ini terus memanas. Mulai dari lapangan hijau, sampai dunia politik. Harus ada formula yang tepat untuk mengatasi krisis hubungan diplomatik kedua negara ini.
Pengamat politik internasional Hikmahanto Juwana mengatakan, langkah yang paling tepat untuk memperbaiki komunikasi politik kedua negara adalah dengan menghidupkan kembali Eminent Persons Group (EPG) Indonesia–Malaysia yang diresmikan pada 7 Juli 2008.
"Upayanya diaktifkan kembali EPG. Ada yang menjembatani, ada yang sosialisasi, ada masalah apa diantara keduanya. Itulah yang dikaji," ujarnya Hikmahanto saat dihubungi Sindonews, di Jakarta, Rabu (13/12/2012).
Dengan dihidupkannya kembali forum itu, diharapkan segala persoalan dan komunikasi yang tak sejalan dapat diluruskan. Untuk itu, segala isu dan intrik yang sengaja dihembuskan untuk memecah hubungan baik kedua negara dapat di atasi bersama.
"Harapannya, ya masing-masing harus lebih sensitif supaya enggak jadi permasalahan. Enggak perlu reaktif, harus ambil tindakan yang proporsional. Jangan menjadikan isu-isu seperti ini menjadi rame. Habibie juga tidak tersinggung ko, dia tidak apa-apa," terang Hikmahanto.
Eminent Persons Group (EPG) Indonesia–Malaysia diresmikan pada 7 Juli 2008, sebagai hasil pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi di Putrajaya, Malaysia, pada 11 Januari 2008, yang menyepakati perlunya pembentukan EPG yang beranggotakan tujuh orang dari masing-masing negara.
Dalam pertemuan informal EPG disepakati bahwa isu-isu prioritas yang akan dibahas oleh EPG adalah peningkatan hubungan antara masyarakat kedua negara (people-to-people), misperception, kurangnya dipahami sejarah oleh generai muda (generation gap) dan sebagainya.
Pengamat politik internasional Hikmahanto Juwana mengatakan, langkah yang paling tepat untuk memperbaiki komunikasi politik kedua negara adalah dengan menghidupkan kembali Eminent Persons Group (EPG) Indonesia–Malaysia yang diresmikan pada 7 Juli 2008.
"Upayanya diaktifkan kembali EPG. Ada yang menjembatani, ada yang sosialisasi, ada masalah apa diantara keduanya. Itulah yang dikaji," ujarnya Hikmahanto saat dihubungi Sindonews, di Jakarta, Rabu (13/12/2012).
Dengan dihidupkannya kembali forum itu, diharapkan segala persoalan dan komunikasi yang tak sejalan dapat diluruskan. Untuk itu, segala isu dan intrik yang sengaja dihembuskan untuk memecah hubungan baik kedua negara dapat di atasi bersama.
"Harapannya, ya masing-masing harus lebih sensitif supaya enggak jadi permasalahan. Enggak perlu reaktif, harus ambil tindakan yang proporsional. Jangan menjadikan isu-isu seperti ini menjadi rame. Habibie juga tidak tersinggung ko, dia tidak apa-apa," terang Hikmahanto.
Eminent Persons Group (EPG) Indonesia–Malaysia diresmikan pada 7 Juli 2008, sebagai hasil pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi di Putrajaya, Malaysia, pada 11 Januari 2008, yang menyepakati perlunya pembentukan EPG yang beranggotakan tujuh orang dari masing-masing negara.
Dalam pertemuan informal EPG disepakati bahwa isu-isu prioritas yang akan dibahas oleh EPG adalah peningkatan hubungan antara masyarakat kedua negara (people-to-people), misperception, kurangnya dipahami sejarah oleh generai muda (generation gap) dan sebagainya.
(san)