Ruhut tanggapi survei LSI
Senin, 19 November 2012 - 16:15 WIB
Ruhut tanggapi survei LSI
A
A
A
Sindonews.com - Belum lama ini Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis hasil penelitiannya yang menyebutkan 56,43 persen orangtua tak ingin anaknya duduk di parlemen.
Hal ini mendapat tanggapan dari anggota Komisi III DPR Ruhut Sitompul. Menurutnya, jika ada orangtua melarang anaknya menjadi anggota dewan, karena takut larut terlibat korupsi seperti yang dilakukan oknum DPR selama ini.
"Orangtua itu, dia punya feeling akan gagal mendidik anaknya, dia takut anaknya di DPR larut ikut jadi perampok," ujar Ketua DPP partai Demokrat Bidang Komunikasi dan Informasi (Kominfo), di DPR, Senayan, Jakarta, Senin (19/11/2012).
Menurutnya, semua tergantung keberanian orangtua bersikap dan optimis ketika anaknya akan menjadi anggota DPR yang baik."Bapak gua bangga gua calon DPR. Gua tanya sama kau, aku maling enggak? Karena bapak gua mendidik gua baik. Sedangkan mami papi aku tidak takut. Nyatanya lihat anaknya, jadi anggota DPR," paparnya.
Peran orangtua, imbuh Ruhut sangat diperlukan dalam membimbing anaknya, jadi tidak perlu terlalu takut dengan sikap anaknya. "Ortu itu janngan kalah sebelum berperang. Didik anaknya jadi profesional," ujarnya.
Orangtua sebaiknya tidak terlalu berlebihan dalam bersikap cemas dan khawatir jika menjadi menjadi anggota DPR kemudian terlarut dalam praktik yang tidak sehat, yang cendrung merugikan kepentingan rakyat.
Sebelumnya, peneliti LSI Rully Akbar mengumumkan, pihaknya telah melakukan survei pada 12-15 November 2012, dengan jumlah responden 1.200 orang yang ditentukan dengan multistage random sampling.
Sebanyak 56,43 persen responden menyatakan, tidak ingin anaknya menjadi anggota Dewan di Pemilu 2014. Hanya 37,62 persen orangtua yang ingin anaknya duduk di parlemen, dan 5,95 persen menjawab tidak tahu.
Menurut Rully, ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan jumlah orangtua yang enggan jika anaknya menjadi anggota DPR. "Pertama dan yang paling tampak adalah maraknya kasus korupsi yang melibatkan anggota DPR," ujarnya di kantor LSI, Jakarta, Minggu 18 November 2012 lalu.
Hal ini mendapat tanggapan dari anggota Komisi III DPR Ruhut Sitompul. Menurutnya, jika ada orangtua melarang anaknya menjadi anggota dewan, karena takut larut terlibat korupsi seperti yang dilakukan oknum DPR selama ini.
"Orangtua itu, dia punya feeling akan gagal mendidik anaknya, dia takut anaknya di DPR larut ikut jadi perampok," ujar Ketua DPP partai Demokrat Bidang Komunikasi dan Informasi (Kominfo), di DPR, Senayan, Jakarta, Senin (19/11/2012).
Menurutnya, semua tergantung keberanian orangtua bersikap dan optimis ketika anaknya akan menjadi anggota DPR yang baik."Bapak gua bangga gua calon DPR. Gua tanya sama kau, aku maling enggak? Karena bapak gua mendidik gua baik. Sedangkan mami papi aku tidak takut. Nyatanya lihat anaknya, jadi anggota DPR," paparnya.
Peran orangtua, imbuh Ruhut sangat diperlukan dalam membimbing anaknya, jadi tidak perlu terlalu takut dengan sikap anaknya. "Ortu itu janngan kalah sebelum berperang. Didik anaknya jadi profesional," ujarnya.
Orangtua sebaiknya tidak terlalu berlebihan dalam bersikap cemas dan khawatir jika menjadi menjadi anggota DPR kemudian terlarut dalam praktik yang tidak sehat, yang cendrung merugikan kepentingan rakyat.
Sebelumnya, peneliti LSI Rully Akbar mengumumkan, pihaknya telah melakukan survei pada 12-15 November 2012, dengan jumlah responden 1.200 orang yang ditentukan dengan multistage random sampling.
Sebanyak 56,43 persen responden menyatakan, tidak ingin anaknya menjadi anggota Dewan di Pemilu 2014. Hanya 37,62 persen orangtua yang ingin anaknya duduk di parlemen, dan 5,95 persen menjawab tidak tahu.
Menurut Rully, ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan jumlah orangtua yang enggan jika anaknya menjadi anggota DPR. "Pertama dan yang paling tampak adalah maraknya kasus korupsi yang melibatkan anggota DPR," ujarnya di kantor LSI, Jakarta, Minggu 18 November 2012 lalu.
(lns)