Lumrah polisi Malaysia peras TKW
Jum'at, 16 November 2012 - 17:55 WIB
Lumrah polisi Malaysia peras TKW
A
A
A
Sindonews.com - Tenaga Kerja Indonesia (TKI) mengakui jika polisi Malaysia sangat tidak bermoral dan kerap melakukan aksi pemerasan.
Salah satu mantan tenaga kerja wanita yang pernah bekerja di Malaysia membenarkan perilaku para polisi Malaysia yang sangat tidak bermoral.
Seorang mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia Siti Badria mengungkapkan, dirinya yang sempat menjadi pelayan di salah satu kantin pabrik di daerah Prai, Malaysia itu kerap dimintai uang keamanan kepada majikannya karena telah mempekerjakan dirinya secara ilegal.
Padahal, Siti mengaku dirinya memiliki dokumen izin bekerja setelah akhirnya diambil oleh agen yang memperkerjakannya karena dia memilih kabur.
“Polisi Malaysia itu selalu datang setiap bulan ke majikan saya meminta uang karena tahu telah mempekerjakan saya seorang ilegal,“ kata Siti saat menggelar aksi unjuk rasa di depan kedutaan Besar (Kedubes) Malaysia, Jakarta, Jumat (16/11/2012).
Perempuan yang sudah bekerja selama satu setengah tahun di Malaysia itu pun mengakui, akibat ulah pemerasan polisi itulah akhirnya upah yang diterimanya menjadi tidak utuh karena harus dipotong.
“Karena majikan saya selalu membayar ke mereka, gaji saya jadi dipotong. Padahal, saya bekerja lima hari saja dari Senin sampai Jumat dan dari jam lima pagi sampai jam lima sore dengan gaji 700 ringgit,“ jelasnya.
Siti juga mengungkapkan, salah satu teman lainnya yang bekerja di Malaysia pernah mendapatkan pekerjaan melalui polisi Malaysia. Namun, akhirnya rekannya tersebut, menurut Siti, tidak pernah mendapatkan upah sama sekali sebagai pembantu rumah tangga.
“Karena yang terima gaji itu polisinya,“ tegasnya.
Ditambahkan Siti, hal tersebut sudah lumrah terjadi di Malaysia. Pasalnya, cara tersebut merupakan cara empuk mereka untuk mendapatkan uang secara mudah.
“Itu sudah lumrah, kalau polisi Malaysia itu mengetahui kita ilegal mereka pasti akan membuat apa saja yang bisa membuat kita mengeluarkan uang untuk membayar mereka agar tidak menangkap. Minimal 100 ringgit untuk itu,“ pungkasnya.
Salah satu mantan tenaga kerja wanita yang pernah bekerja di Malaysia membenarkan perilaku para polisi Malaysia yang sangat tidak bermoral.
Seorang mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia Siti Badria mengungkapkan, dirinya yang sempat menjadi pelayan di salah satu kantin pabrik di daerah Prai, Malaysia itu kerap dimintai uang keamanan kepada majikannya karena telah mempekerjakan dirinya secara ilegal.
Padahal, Siti mengaku dirinya memiliki dokumen izin bekerja setelah akhirnya diambil oleh agen yang memperkerjakannya karena dia memilih kabur.
“Polisi Malaysia itu selalu datang setiap bulan ke majikan saya meminta uang karena tahu telah mempekerjakan saya seorang ilegal,“ kata Siti saat menggelar aksi unjuk rasa di depan kedutaan Besar (Kedubes) Malaysia, Jakarta, Jumat (16/11/2012).
Perempuan yang sudah bekerja selama satu setengah tahun di Malaysia itu pun mengakui, akibat ulah pemerasan polisi itulah akhirnya upah yang diterimanya menjadi tidak utuh karena harus dipotong.
“Karena majikan saya selalu membayar ke mereka, gaji saya jadi dipotong. Padahal, saya bekerja lima hari saja dari Senin sampai Jumat dan dari jam lima pagi sampai jam lima sore dengan gaji 700 ringgit,“ jelasnya.
Siti juga mengungkapkan, salah satu teman lainnya yang bekerja di Malaysia pernah mendapatkan pekerjaan melalui polisi Malaysia. Namun, akhirnya rekannya tersebut, menurut Siti, tidak pernah mendapatkan upah sama sekali sebagai pembantu rumah tangga.
“Karena yang terima gaji itu polisinya,“ tegasnya.
Ditambahkan Siti, hal tersebut sudah lumrah terjadi di Malaysia. Pasalnya, cara tersebut merupakan cara empuk mereka untuk mendapatkan uang secara mudah.
“Itu sudah lumrah, kalau polisi Malaysia itu mengetahui kita ilegal mereka pasti akan membuat apa saja yang bisa membuat kita mengeluarkan uang untuk membayar mereka agar tidak menangkap. Minimal 100 ringgit untuk itu,“ pungkasnya.
(rsa)