Dibilang obral grasi narkoba, Menkum HAM meradang
Selasa, 13 November 2012 - 15:50 WIB
Dibilang obral grasi narkoba, Menkum HAM meradang
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsudin membantah bahwa pihaknya bekerja sama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah mengobral pemberian grasi kepada para terpidana narkoba, khususnya kelas kakap.
Amir bahkan mengklaim, pihaknya hanya mengabulkan sekitar 10% permintaan grasi dari total 127 permohonan grasi yang diajukan ke Presiden.
“Apa yang salah. Supaya anda tahu, 127 orang meminta permohonan grasi. Yang dikabulkan 10 anak-anak kecil, tunatra 1 orang, 4 Warga negara dewasa, dan 2 WNS,“ ujar Amir, saat ditemui di kantor Kemenkumham, Jakarta, Selasa (13/11/2012).
Amir juga mengatakan, pemberian grasi itu tidak sepenuhnya bebas. Dia berkilah, pemberian grasi itu hanya berupa pengurangan hukuman. “Itu semua berubah dari yang berat saja. Dewasa dilepaskan, hukuman mati ke seumur hidup, anak dilepaskan semua,“ jelasnya.
Amir juga akhirnya meradang ketika pemberian grasi tersebut dianggap tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya telah terjadi. Dia pun kembali beralasan, bahwa sampai saat ini Presiden dan pihaknya hanya menyetujui 10% dan itupun lebih banyak diberikan kepada anak anak.
“Siapa yang obral grasi? Tidak mengerti saudara ini. Sudah saya katakan, 90 persen ditolak. Dimana obralnya? Yang ditolak bandar-bandar besar. Yang diterima anak kecll dan tuna netra,“ tandasnya.
Amir bahkan mengklaim, pihaknya hanya mengabulkan sekitar 10% permintaan grasi dari total 127 permohonan grasi yang diajukan ke Presiden.
“Apa yang salah. Supaya anda tahu, 127 orang meminta permohonan grasi. Yang dikabulkan 10 anak-anak kecil, tunatra 1 orang, 4 Warga negara dewasa, dan 2 WNS,“ ujar Amir, saat ditemui di kantor Kemenkumham, Jakarta, Selasa (13/11/2012).
Amir juga mengatakan, pemberian grasi itu tidak sepenuhnya bebas. Dia berkilah, pemberian grasi itu hanya berupa pengurangan hukuman. “Itu semua berubah dari yang berat saja. Dewasa dilepaskan, hukuman mati ke seumur hidup, anak dilepaskan semua,“ jelasnya.
Amir juga akhirnya meradang ketika pemberian grasi tersebut dianggap tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya telah terjadi. Dia pun kembali beralasan, bahwa sampai saat ini Presiden dan pihaknya hanya menyetujui 10% dan itupun lebih banyak diberikan kepada anak anak.
“Siapa yang obral grasi? Tidak mengerti saudara ini. Sudah saya katakan, 90 persen ditolak. Dimana obralnya? Yang ditolak bandar-bandar besar. Yang diterima anak kecll dan tuna netra,“ tandasnya.
(san)