Idris Sugeng bantah tudingan Dirut RNI
Sabtu, 10 November 2012 - 14:47 WIB
Idris Sugeng bantah tudingan Dirut RNI
A
A
A
Sindonews.com - Anggota Komisi VI Fraksi Partai Demokrat, Idris Sugeng membantah tudingan Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Ismed Hasan Putro, yang mengatakan dirinya sempat meminta upeti kepada PT RNI, seperti yang disamapikan Ismed di Badan Kehormatan (BK) beberapa pekan lalu.
Idris mengkonfirmasikan hal itu kepada rekan satu komisinya, Hendrawan Supratikno. Menurut Hendrawan, Idris menghubungi Ismed untuk menyalurkan program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk daerah pemilihannya, di Jawa Tengah.
"Saya bertemu Pak Idris dalam kunjungan kerja di Sulawesi Selatan. Saya tanya bahwa namanya disebut oleh Ismed Hasan, bagaimana tanggapannya. Kemudian Pak Idris bilang, dia bertemu Ismed itu hanya menceritakan tentang tiga isu," ujar Politikus Partai PDIP ini di Warung Daun Cikini, Sabtu (10/11/2012).
Isu-isu tersebut, dilanjut Hendrawan, adalah mengenai CSR yang akan disalurkan ke dapil, bisnis gula yang akan dikerjakan temannya, dan beberapa istri Partai Demokrat terkait pembelian gula.
"Dia hanya ceritakan tiga isu. Pertama soal CSR, apa ada yang disalurkan ke Dapil. Kedua soal temannya yang mau bisnis gula, bisa apa enggak. Lalu soal kerja istri-istri Fraksi Partai Demokrat yang di Depok yang mau beli gula itu. Nah beli gula ini bukti transfernya sudah kita miliki," terangnya.
Hendrawan menambahkan Idris membantu untuk program bakti sosial. Kemudian Idris pun membeli gula sebanyak lima ton untuk disalurkan dalam program bakti sosial dengan harga Rp55 juta.
Hendrawan menilai apa yang disampaikan oleh Ismed merupakan penggabungan dari beberapa cerita yang disampaikan Idris.
"Nah Ismed ini segmen ceritanya dijadikan satu seolah-olah menjadi proses pemerasan. Padahal itu yang tidak benar," pungkas Hendrawan.
Sebelumnya, Direktur Utama PT RNI Ismed Hasan Putro mengaku sempat diminta jatah oleh anggota DPR. Namun, ia enggan mengungkapkan nama anggota DPR tersebut. Inisial nama tersebut kemudian diungkap oleh anggota Badan Kehormatan DPR RI, Usman Jafar, dengan menyebut inisial IS.
Ismed mengatakan sempat dimintai jatah oleh anggota DPR berupa gula sebanyak 2.000 ton. Tetapi, ia menolak memberikannya. "Dua ribu ton saya tolak untuk program CSR gratis, kalau mau dibeli," kata Ismed di Gedung DPR, Senin 5 November 2012 lalu.
Ismed mengatakan, akhirnya anggota DPR itu menyepakati 200 ton gula. Ismed kemudian melimpahkan transaksi itu kepada direktur operasional. "Akhirnya berkembang jadi 20 ton, pembelian secara bisnis, tidak jadi CSR dengan gratis. Hanya enam ton, dan dibeli bukan diperas," katanya.
Idris mengkonfirmasikan hal itu kepada rekan satu komisinya, Hendrawan Supratikno. Menurut Hendrawan, Idris menghubungi Ismed untuk menyalurkan program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk daerah pemilihannya, di Jawa Tengah.
"Saya bertemu Pak Idris dalam kunjungan kerja di Sulawesi Selatan. Saya tanya bahwa namanya disebut oleh Ismed Hasan, bagaimana tanggapannya. Kemudian Pak Idris bilang, dia bertemu Ismed itu hanya menceritakan tentang tiga isu," ujar Politikus Partai PDIP ini di Warung Daun Cikini, Sabtu (10/11/2012).
Isu-isu tersebut, dilanjut Hendrawan, adalah mengenai CSR yang akan disalurkan ke dapil, bisnis gula yang akan dikerjakan temannya, dan beberapa istri Partai Demokrat terkait pembelian gula.
"Dia hanya ceritakan tiga isu. Pertama soal CSR, apa ada yang disalurkan ke Dapil. Kedua soal temannya yang mau bisnis gula, bisa apa enggak. Lalu soal kerja istri-istri Fraksi Partai Demokrat yang di Depok yang mau beli gula itu. Nah beli gula ini bukti transfernya sudah kita miliki," terangnya.
Hendrawan menambahkan Idris membantu untuk program bakti sosial. Kemudian Idris pun membeli gula sebanyak lima ton untuk disalurkan dalam program bakti sosial dengan harga Rp55 juta.
Hendrawan menilai apa yang disampaikan oleh Ismed merupakan penggabungan dari beberapa cerita yang disampaikan Idris.
"Nah Ismed ini segmen ceritanya dijadikan satu seolah-olah menjadi proses pemerasan. Padahal itu yang tidak benar," pungkas Hendrawan.
Sebelumnya, Direktur Utama PT RNI Ismed Hasan Putro mengaku sempat diminta jatah oleh anggota DPR. Namun, ia enggan mengungkapkan nama anggota DPR tersebut. Inisial nama tersebut kemudian diungkap oleh anggota Badan Kehormatan DPR RI, Usman Jafar, dengan menyebut inisial IS.
Ismed mengatakan sempat dimintai jatah oleh anggota DPR berupa gula sebanyak 2.000 ton. Tetapi, ia menolak memberikannya. "Dua ribu ton saya tolak untuk program CSR gratis, kalau mau dibeli," kata Ismed di Gedung DPR, Senin 5 November 2012 lalu.
Ismed mengatakan, akhirnya anggota DPR itu menyepakati 200 ton gula. Ismed kemudian melimpahkan transaksi itu kepada direktur operasional. "Akhirnya berkembang jadi 20 ton, pembelian secara bisnis, tidak jadi CSR dengan gratis. Hanya enam ton, dan dibeli bukan diperas," katanya.
(mhd)