Bentrok Lampung, 1.596 orang masih mengungsi
Jum'at, 02 November 2012 - 15:35 WIB
Bentrok Lampung, 1.596 orang masih mengungsi
A
A
A
Sindonews.com - Sebanyak 1.596 orang masih mengungsi di Sekolah Kepolisian Negara Lampung, setelah kerusuhan di sejumlah kampung di Kecamatan Kalianda dengan warga Desa Balinuraga, Kecamatan Waypanji, Kabupaten Lampung Selatan.
Data total pengungsi itu didapat dari assisten operasional Lampung. Bersama Kapolda, Korem dan Pemda setempat, petugas masih terus mengupayakan untuk memulihkan kondisi Lampung. Mulai dari mengerjakan patroli bersama masyarakat setempat, pembangunan kembali rumah-rumah, dan sekolah yang rusak.
"Kami terus berusaha memulihkan kondisi di sana. Kami juga terus mengkomunikasikan kepada masyarakat. Agar masyarakat bisa pulang kembali ke kampung halamannya," kata Brigjen Pol Boy Rafli Amar di kantor Divisi Humas Mabes Polri, Jakarta, Kamis (2/11/2012).
Ditambahkan dia, hingga kini perwakilan kedua belah pihak masih belum mendapatkan titik temu. Namun masyarakat jangan sampai terpancing dengan bentrok semula. Karena menurutnya, Lampung Selatan, khususnya daerah Way Panji, saat ini kondisi berangsur normal.
Seperti diketahui, bentrokan antar warga tersebut bermula pada Sabtu 27 Oktober 2012, sekira pukul 23.00 WIB. Saat itu, dua gadis Lampung asal Desa Agom yang sedang mengendarai sepeda motor mendapatkan gangguan dari pemuda asal Desa Balinuraga, sehingga terjatuh dan mengalami luka-luka.
Insiden itu diduga memicu kemarahan warga Desa Agom, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan. Sehingga, ratusan warga Agom sontak mendatangi Desa Balinuraga yang mayoritas warganya beretnis Bali dengan menenteng senjata tajam, parang, pedang, golok, celurit, bahkan senjata senapan angin.
Bentrokan antarsuku pun tidak terhindarkan. Bentrok antarsuku di Lampung Selatan tersebut bukanlah peristiwa pertama kali. Sebelumnya, pada Agustus 2012, bentrokan serupa terjadi Desa Banyuwangi dan Desa Purwosari, di Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Data total pengungsi itu didapat dari assisten operasional Lampung. Bersama Kapolda, Korem dan Pemda setempat, petugas masih terus mengupayakan untuk memulihkan kondisi Lampung. Mulai dari mengerjakan patroli bersama masyarakat setempat, pembangunan kembali rumah-rumah, dan sekolah yang rusak.
"Kami terus berusaha memulihkan kondisi di sana. Kami juga terus mengkomunikasikan kepada masyarakat. Agar masyarakat bisa pulang kembali ke kampung halamannya," kata Brigjen Pol Boy Rafli Amar di kantor Divisi Humas Mabes Polri, Jakarta, Kamis (2/11/2012).
Ditambahkan dia, hingga kini perwakilan kedua belah pihak masih belum mendapatkan titik temu. Namun masyarakat jangan sampai terpancing dengan bentrok semula. Karena menurutnya, Lampung Selatan, khususnya daerah Way Panji, saat ini kondisi berangsur normal.
Seperti diketahui, bentrokan antar warga tersebut bermula pada Sabtu 27 Oktober 2012, sekira pukul 23.00 WIB. Saat itu, dua gadis Lampung asal Desa Agom yang sedang mengendarai sepeda motor mendapatkan gangguan dari pemuda asal Desa Balinuraga, sehingga terjatuh dan mengalami luka-luka.
Insiden itu diduga memicu kemarahan warga Desa Agom, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan. Sehingga, ratusan warga Agom sontak mendatangi Desa Balinuraga yang mayoritas warganya beretnis Bali dengan menenteng senjata tajam, parang, pedang, golok, celurit, bahkan senjata senapan angin.
Bentrokan antarsuku pun tidak terhindarkan. Bentrok antarsuku di Lampung Selatan tersebut bukanlah peristiwa pertama kali. Sebelumnya, pada Agustus 2012, bentrokan serupa terjadi Desa Banyuwangi dan Desa Purwosari, di Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
(san)