Pemberontakan PKI, umat Islam juga jadi korban
Rabu, 17 Oktober 2012 - 17:13 WIB
Pemberontakan PKI, umat Islam juga jadi korban
A
A
A
Sindonews.com - Korban peristiwa pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1948-1965, tidak hanya pihak PKI saja yang menjadi korban, para ulama juga menjadi keganasan peristiwa pemberontakan tersebut.
Sesepuh Gerakan Pemuda (GP) Ansor KH Chalid Mawaradi menyatakan, karena itu tidak relevan jika kejadian tersebut dipandang sepihak sebagai pembantaian satu pihak oleh pihak lain.
"Umat Islam, ulama dan santri pada kejadian itu juga banyak yang menjadi korban kebiadaban PKI. Kalau sekarang ada yang mengorek luka lama soal PKI, kita juga terkorek luka," kata KH Chalid, dalam penutupan sarasehan kebangsaan: Mengingat Kembali Pemberontakan PKI, di Tahun 1948 - 1965, di Jakarta, Rabu (17/10/2012).
Hal tersebut menanggapi pemberitaan sebuah majalah mingguan yang mengungkap kembali peristiwa 65 dari sisi yang cenderung menyudutkan umat Islam. Menurut Chalid, dalam konteks politik pada masa itu, kondisinya sangat berbeda dimana para ulama juga terancam nyawanya.
"Jadi kalau sekarang dikorek lagi, tuntutan minta maaf dan sebagainya, itu tidak relevan. Apalagi ini disampaikan ketika bangsa kita tengah menatap masa depan yang lebih baik secara bersama-sama," tandasnya.
Sesepuh Gerakan Pemuda (GP) Ansor KH Chalid Mawaradi menyatakan, karena itu tidak relevan jika kejadian tersebut dipandang sepihak sebagai pembantaian satu pihak oleh pihak lain.
"Umat Islam, ulama dan santri pada kejadian itu juga banyak yang menjadi korban kebiadaban PKI. Kalau sekarang ada yang mengorek luka lama soal PKI, kita juga terkorek luka," kata KH Chalid, dalam penutupan sarasehan kebangsaan: Mengingat Kembali Pemberontakan PKI, di Tahun 1948 - 1965, di Jakarta, Rabu (17/10/2012).
Hal tersebut menanggapi pemberitaan sebuah majalah mingguan yang mengungkap kembali peristiwa 65 dari sisi yang cenderung menyudutkan umat Islam. Menurut Chalid, dalam konteks politik pada masa itu, kondisinya sangat berbeda dimana para ulama juga terancam nyawanya.
"Jadi kalau sekarang dikorek lagi, tuntutan minta maaf dan sebagainya, itu tidak relevan. Apalagi ini disampaikan ketika bangsa kita tengah menatap masa depan yang lebih baik secara bersama-sama," tandasnya.
(maf)