Partai Nasionalis-Islam, hanya beda nama
Rabu, 17 Oktober 2012 - 16:56 WIB
Partai Nasionalis-Islam, hanya beda nama
A
A
A
Sindonews.com - Dalam perkembangan demokrasi di Indonesia sekarang ini, sudah tak ada lagi perbedaan signifikan antara partai nasionalis dan partai Islam di masyarakat.
Pada praktiknya di lapangan, seluruh parpol memiliki agenda atau program yang sama atau minimal beda-beda tipis dalam hal cara mencapai program itu.
Misalnya soal penegakan hukum, antikorupsi, memberantas kemiskinan, kebodohan, meningkatkan kesejahteraan sosial, dan lainnya. Semua partai agendanya ya seperti itu.
"Jadi perbedaan ideologi politik antar parpol sudah tidak terasakan secara kental di masyarakat. Karena itu, dikotomi partai Islam dan Nasionalis pun sudah tak relevan," kata Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Viva Yoga Mauladi di Jakarta, Rabu (17/10/2012).
Viva menambahkan, masyarakat sebenarnya sudah tidak melihat apakah parpol itu berideologi Islam atau nasional. Dalam menentukan pilihan, masyarakat pun mendasarkan pilihannya pada sejauh mana partai tersebut bekerja dan memberi dampak pada kehidupannya.
Lebih dari itu, Viva juga mengatakan masyarakat saat ini masih terpengaruh dengan politik pencitraan utamanya melalui media massa. Karena itu, menjual parpol dan figur melalui kemasan iklan di media massa adalah faktor yang banyak mempengaruhi persepsi masyarakat secara nasional.
Namun, situasi sosial politik di Indonesia masih sangat dinamis. Karena itu, bagi PAN kerja keras adalah keniscayaan dalam artian harus benar-benar mendasarkan kerja pada aspek yang langsung menyentuh masyarakat. Baik dalam bidang ekonomi, sosial, dan sebagainya.
"Dalam dua tahun menuju Pemilu 2014, saya yakin akan banyak perubahan politik. Nah, PAN masih terus merealisasikan program pemenangan pemilu, sampai ke tingkat desa. PAN terus merapikan infrastruktur organisasi pemenangan pemilu. PAN yakin akan mampu mengusung Hatta Rajasa sebagai capres di pilpres 2014," tegasnya.
Pada praktiknya di lapangan, seluruh parpol memiliki agenda atau program yang sama atau minimal beda-beda tipis dalam hal cara mencapai program itu.
Misalnya soal penegakan hukum, antikorupsi, memberantas kemiskinan, kebodohan, meningkatkan kesejahteraan sosial, dan lainnya. Semua partai agendanya ya seperti itu.
"Jadi perbedaan ideologi politik antar parpol sudah tidak terasakan secara kental di masyarakat. Karena itu, dikotomi partai Islam dan Nasionalis pun sudah tak relevan," kata Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Viva Yoga Mauladi di Jakarta, Rabu (17/10/2012).
Viva menambahkan, masyarakat sebenarnya sudah tidak melihat apakah parpol itu berideologi Islam atau nasional. Dalam menentukan pilihan, masyarakat pun mendasarkan pilihannya pada sejauh mana partai tersebut bekerja dan memberi dampak pada kehidupannya.
Lebih dari itu, Viva juga mengatakan masyarakat saat ini masih terpengaruh dengan politik pencitraan utamanya melalui media massa. Karena itu, menjual parpol dan figur melalui kemasan iklan di media massa adalah faktor yang banyak mempengaruhi persepsi masyarakat secara nasional.
Namun, situasi sosial politik di Indonesia masih sangat dinamis. Karena itu, bagi PAN kerja keras adalah keniscayaan dalam artian harus benar-benar mendasarkan kerja pada aspek yang langsung menyentuh masyarakat. Baik dalam bidang ekonomi, sosial, dan sebagainya.
"Dalam dua tahun menuju Pemilu 2014, saya yakin akan banyak perubahan politik. Nah, PAN masih terus merealisasikan program pemenangan pemilu, sampai ke tingkat desa. PAN terus merapikan infrastruktur organisasi pemenangan pemilu. PAN yakin akan mampu mengusung Hatta Rajasa sebagai capres di pilpres 2014," tegasnya.
(kur)