67 tahun, TNI kalah melawan neokolonialisme
Jum'at, 05 Oktober 2012 - 05:02 WIB
67 tahun, TNI kalah melawan neokolonialisme
A
A
A
Sindonews.com - Tidak terasa, 67 tahun sudah usia Tentara Nasional Indonesia (TNI). Peringatan hari ulang tahun TNI yang jatuh hari ini, Jumat 5 Oktober 2012, harus dimaknai dengan renungan mendalam. TNI dinyatakan gagal dalam menjaga kedaulatan bangsa dari modal asing.
"Indonesia telah jatuh ke tangan penjajah asing. Seluas 42 juta ha tanah kita, dikuasai perusahaan tambang. Seluas 95 juta ha tanah kita, telah dikuasi perusahaan migas," ujar aktivis Petisi 28 Haris Rusly membuka obrolan dalam pesan BlackBerry Mesengger (BBM), di Jakarta, Kamis (4/10/2012).
Ditambahkan dia, 32 juta ha tanah kita, jatuh ke perusahaan perkebunan (HPH, HTI, HPL). Seluas sembilan juta ha hanya untuk HGU sawit. Total tanah yang jatuh ke tangan asing dan antek-anteknya mencapai 173 juta ha.
"Berapa luas Indonesia? 195 juta ha. Jadi tanah yang dikuasai imperialisme dan antek-anteknya setara dengan 93 persen luas daratan Indonesia," terangnya.
Masih kata dia, 65-70 persen perbankan nasional dikuasi asing. Sekira 95 persen keuangan pertambangan mineral, dikuasai asing, 75 persen keuangan pertambangan batubara juga dikuasai asing. Mayoritas keuangan perkebunan, dan kehutanan juga dikontrol asing. Bahkan, 95 persen sektor keuangan asuransi dikuasai asing.
"Utang luar negeri membumbung tinggi. Mencapai Rp2000 triliun lebih. Indonesia tempat yang paling empuk untuk mengeruk bunga, premi. Perdagangan telah dikuasai asing, ritel-ritel asing tumbuh bagaikan jamur dimusim hujan. Sebanyak 65 persen bahan pangan diimpor," terangnya.
Selain itu, sektor pertanian juga jatuh ke tangan asing. Bahkan tanah rakyat dirampas semena-mena. Pertanian dikontrol asing dari hulu sampai ke hilir. Petani tidak lagi dapat memproduksi bibit, karena paten benih telah jatuh ke tangan asing. Petani yang mencoba memproduksi bibit, di penjarakan secara semena mena.
"Penghisapan asing lengkap sudah. Ditambah dengan perampokan uang rakyat yang dilakukan oleh birokrasi negara. Di mana TNI ketika neokolonialisme semakin merajalela? Di mana Sapta Marga? Di mana sumpah prajurit? Selamat hari ABRI, selamat bertugas di bawah panji-panji imperialisme dam neokolonialisme," tukasnya.
"Indonesia telah jatuh ke tangan penjajah asing. Seluas 42 juta ha tanah kita, dikuasai perusahaan tambang. Seluas 95 juta ha tanah kita, telah dikuasi perusahaan migas," ujar aktivis Petisi 28 Haris Rusly membuka obrolan dalam pesan BlackBerry Mesengger (BBM), di Jakarta, Kamis (4/10/2012).
Ditambahkan dia, 32 juta ha tanah kita, jatuh ke perusahaan perkebunan (HPH, HTI, HPL). Seluas sembilan juta ha hanya untuk HGU sawit. Total tanah yang jatuh ke tangan asing dan antek-anteknya mencapai 173 juta ha.
"Berapa luas Indonesia? 195 juta ha. Jadi tanah yang dikuasai imperialisme dan antek-anteknya setara dengan 93 persen luas daratan Indonesia," terangnya.
Masih kata dia, 65-70 persen perbankan nasional dikuasi asing. Sekira 95 persen keuangan pertambangan mineral, dikuasai asing, 75 persen keuangan pertambangan batubara juga dikuasai asing. Mayoritas keuangan perkebunan, dan kehutanan juga dikontrol asing. Bahkan, 95 persen sektor keuangan asuransi dikuasai asing.
"Utang luar negeri membumbung tinggi. Mencapai Rp2000 triliun lebih. Indonesia tempat yang paling empuk untuk mengeruk bunga, premi. Perdagangan telah dikuasai asing, ritel-ritel asing tumbuh bagaikan jamur dimusim hujan. Sebanyak 65 persen bahan pangan diimpor," terangnya.
Selain itu, sektor pertanian juga jatuh ke tangan asing. Bahkan tanah rakyat dirampas semena-mena. Pertanian dikontrol asing dari hulu sampai ke hilir. Petani tidak lagi dapat memproduksi bibit, karena paten benih telah jatuh ke tangan asing. Petani yang mencoba memproduksi bibit, di penjarakan secara semena mena.
"Penghisapan asing lengkap sudah. Ditambah dengan perampokan uang rakyat yang dilakukan oleh birokrasi negara. Di mana TNI ketika neokolonialisme semakin merajalela? Di mana Sapta Marga? Di mana sumpah prajurit? Selamat hari ABRI, selamat bertugas di bawah panji-panji imperialisme dam neokolonialisme," tukasnya.
(san)