Ratusan anggota Polri dipecat tahun ini
Kamis, 04 Oktober 2012 - 19:48 WIB
Ratusan anggota Polri dipecat tahun ini
A
A
A
Sindonews.com – Ratusan anggota Polri sepanjang tahun 2012 dipecat dari keanggotaannya karena melanggar kode etik kepolisian. Setiap tahunnya terdapat 300-500 anggota yang dipecat.
“Tahun ini sudah seratusan lebih yang dipecat,” ungkap Nanan saat ditemui di Hotel Royal Panghegar, Kamis (4/10/2012).
Dia menegaskan, anggotanya yang dipecat lantaran tidak mematuhi aspek afektif atau menyangkut ketaatan terhadap hukum, seperti narkoba, pemerasan, hingga kelakuan dan aspek emosional.
"Tidak ada polisi yang dipecat karena bodoh, ini bukan masalah kognitif, tapi afektif,” tegasnya.
Menurut Nanan, anggota yang dipecat kebanyakan berasal dari golongan Bintara dan sebagian kecil berasal dari golongan Perwira. Diduga, waktu pendidikan yang minim menjadi sebab munculnya oknum-oknum tersebut.
“80 persen adalah Bintara. Mereka itu masuk kepolisian hanya menjalani pendidikan selama tujuh bulan. Dan itu tugas berat untuk Polri, untuk mengubah mindset orang yang rata-rata berusia tujuh belas tahun hanya dalam waktu tujuh bulan," jelasnya.
Nanan berharap, masyarakat tidak terlalu memojokkan institusi Polri dalam kasus ini. Pasalnya, polisi hanya manusia biasa yang dapat melakukan kesalahan.
Selain itu dia juga berharap, adanya kritik membangun yang dapat memunculkan solusi tanpa menimbulkan masalah baru.
Kini jajarannya masih terus mencoba untuk mengubah kultur yang tidak baik. Hal itu dimaksudkan sebagai langkah antisipasi untuk merubah emosional para anggota agar tidak terjerumus.
“Kasus pidana atau pelanggaran apa pun dapat dilakukan siapa saja, baik polisi maupun masyarakat biasa. Polisi kan bukan malaikat atau Robocop," tutupnya.
“Tahun ini sudah seratusan lebih yang dipecat,” ungkap Nanan saat ditemui di Hotel Royal Panghegar, Kamis (4/10/2012).
Dia menegaskan, anggotanya yang dipecat lantaran tidak mematuhi aspek afektif atau menyangkut ketaatan terhadap hukum, seperti narkoba, pemerasan, hingga kelakuan dan aspek emosional.
"Tidak ada polisi yang dipecat karena bodoh, ini bukan masalah kognitif, tapi afektif,” tegasnya.
Menurut Nanan, anggota yang dipecat kebanyakan berasal dari golongan Bintara dan sebagian kecil berasal dari golongan Perwira. Diduga, waktu pendidikan yang minim menjadi sebab munculnya oknum-oknum tersebut.
“80 persen adalah Bintara. Mereka itu masuk kepolisian hanya menjalani pendidikan selama tujuh bulan. Dan itu tugas berat untuk Polri, untuk mengubah mindset orang yang rata-rata berusia tujuh belas tahun hanya dalam waktu tujuh bulan," jelasnya.
Nanan berharap, masyarakat tidak terlalu memojokkan institusi Polri dalam kasus ini. Pasalnya, polisi hanya manusia biasa yang dapat melakukan kesalahan.
Selain itu dia juga berharap, adanya kritik membangun yang dapat memunculkan solusi tanpa menimbulkan masalah baru.
Kini jajarannya masih terus mencoba untuk mengubah kultur yang tidak baik. Hal itu dimaksudkan sebagai langkah antisipasi untuk merubah emosional para anggota agar tidak terjerumus.
“Kasus pidana atau pelanggaran apa pun dapat dilakukan siapa saja, baik polisi maupun masyarakat biasa. Polisi kan bukan malaikat atau Robocop," tutupnya.
(rsa)