40 juta orang Indonesia buang air besar sembarangan
Selasa, 02 Oktober 2012 - 15:31 WIB
40 juta orang Indonesia buang air besar sembarangan
A
A
A
Sindonews.com - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat masih ada 40 juta masyarakat Indonesia buang air besar (BAB) sembarangan. Hal ini terjadi karena akses sanitasi layak untuk masyarakat pedesaan baru terlayani 50 persen sedangkan di perkotaan 76 persen.
Padahal menurut Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PU Budi Yuwono, akses sanitasi layak berbanding lurus dengan kesehatan masyarakat terutama berkaitan dengan penyakit diare.
Akibatnya, jumlah penderita diare selalu meningkat dari tahun ke tahun. Berdasar catatan Data Kementerian Kesehatan jumlah penderita diare dari tahun ke tahun berkisar antara 3,5 juta jiwa sampai 4,5 juta jiwa.
Budi mengatakan, penanganan sanitasi pada dasarnya menjadi tanggung jawab dari pemerintah daerah (pemda). Sayangnya, masih banyak pemerintah daerah yang mengesampingkan isu sanitasi dan lebih fokus pada isu lain yang terkesan lebih seksi seperti transportasi.
"Karenanya hingga tahun 2012 ini jumlah kota kumuh belum berkurang bahkan cenderung bertambah. Sebagai contoh, adalah DKI Jakarta di mana masih banyak pemukiman kumuh," kata Budi kepada sejumlah media di Kementerian PU, Jakarta, Selasa (2/10/2012).
Tingginya tingkat urbanisasi mencapai 1,7 persen ikut menyumbang banyaknya pemukiman kumuh.
Budi mengkritik Pemerintah Daerah (Pemda) yang tidak memperhatikan masalah sanitasi sama saja dengan menelantarkan masyarakatnya.
Lebih lanjut Budi menjelaskan, pemerintah pusat hanya bisa menyumbang 25 persen anggaran dari pengelolaan sanitasi di daerah. Tahun 2013 mendatang, Kementerian PU mengalokasikan Rp3,4 triliun untuk membenahi sanitasi di seluruh Indonesia.
Anggaran tersebut nantinya akan digunakan untuk peningkatan pelayanan air limbah di 226 kabupaten/kota dan peningkatan sistem tempat pembuangan akhir sampah menjadi sanitary landfill di 240 kawasan perkotaan.
Secara global, kata Budi, di Asia Timur termasuk Indonesia tercatat 671 juta jiwa masih belum mendapatkan akses sanitasi yang layak. Bahkan 100 juta jiwa masih buang air besar sembarangan akibatnya ada 450 juta kasus diare tiap tahunnya.
Padahal menurut Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PU Budi Yuwono, akses sanitasi layak berbanding lurus dengan kesehatan masyarakat terutama berkaitan dengan penyakit diare.
Akibatnya, jumlah penderita diare selalu meningkat dari tahun ke tahun. Berdasar catatan Data Kementerian Kesehatan jumlah penderita diare dari tahun ke tahun berkisar antara 3,5 juta jiwa sampai 4,5 juta jiwa.
Budi mengatakan, penanganan sanitasi pada dasarnya menjadi tanggung jawab dari pemerintah daerah (pemda). Sayangnya, masih banyak pemerintah daerah yang mengesampingkan isu sanitasi dan lebih fokus pada isu lain yang terkesan lebih seksi seperti transportasi.
"Karenanya hingga tahun 2012 ini jumlah kota kumuh belum berkurang bahkan cenderung bertambah. Sebagai contoh, adalah DKI Jakarta di mana masih banyak pemukiman kumuh," kata Budi kepada sejumlah media di Kementerian PU, Jakarta, Selasa (2/10/2012).
Tingginya tingkat urbanisasi mencapai 1,7 persen ikut menyumbang banyaknya pemukiman kumuh.
Budi mengkritik Pemerintah Daerah (Pemda) yang tidak memperhatikan masalah sanitasi sama saja dengan menelantarkan masyarakatnya.
Lebih lanjut Budi menjelaskan, pemerintah pusat hanya bisa menyumbang 25 persen anggaran dari pengelolaan sanitasi di daerah. Tahun 2013 mendatang, Kementerian PU mengalokasikan Rp3,4 triliun untuk membenahi sanitasi di seluruh Indonesia.
Anggaran tersebut nantinya akan digunakan untuk peningkatan pelayanan air limbah di 226 kabupaten/kota dan peningkatan sistem tempat pembuangan akhir sampah menjadi sanitary landfill di 240 kawasan perkotaan.
Secara global, kata Budi, di Asia Timur termasuk Indonesia tercatat 671 juta jiwa masih belum mendapatkan akses sanitasi yang layak. Bahkan 100 juta jiwa masih buang air besar sembarangan akibatnya ada 450 juta kasus diare tiap tahunnya.
(lns)