Pemerintah harus buka server telepon Nurul
Kamis, 27 September 2012 - 22:25 WIB
Pemerintah harus buka server telepon Nurul
A
A
A
Sindonews.com - Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah meminta kepada pemerintah Indonesia untuk mau membuka server telepon milik Nurul Khasanah Binti Nasirin (25), Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kediri, di Arab Saudi yang dikabarkan tewas karena terjatuh.
Dalam server telepon milik korban, diduga berisi bukti yang bisa menunjukkan ketidakwajaran kematian Nurul. Sebab, sebelum meninggal, korban pernah bercerita kepada keluarganya, telah mendapatkan siksaan dan kerap mendapatkan perlakuan senonoh dari majikan.
"Keluarga menginginkan pemerintah memfasilitasi pembukaan server telepon seluler korban, hal itu dilakukan sebagai bukti bahwa Nurul meninggal karena mendapatkan siksaan dari majikannya karena seluruh tindakan keji majikannya diinformasikan Nurul melalui SMS pada suaminya," kata Anis di Tangerang, Kamis (27/9/2012).
Namun begitu, Anis mengakui, tidak mudah bagi pemerintah Indonesia mengabulkan permintaan keluarga korban. Sebab, upaya yang telah dilakukan pihak keluarga selalui menemui jalan buntu.
"Keluarga pernah meminta bantuan ke Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan Ombudsman. Bahkan kepada Mabes Polri, tapi belum membuahkan hasil. Makanya kita akan melakukan otopsi ulang kepada jenazah Nurul," terangnya.
Lebih lanjut, Anis meminta kepada pemerintah untuk mengusut tuntas penyebab kematian Nurul. Jika dalam proses otopsi ulang nanti ditemukan keganjilan dan tindak pidana, agar diproses secara hukum.
"Kami ingin mengklarifikasi kesimpangsiuran informasi penyebab kematian Nurul dan segera mengajukan bukti yang dimiliki keluarga ke Pemerintah Arab Saudi," ungkapnya.
Pihaknya juga meminta, kinerja pejabat KJRI Jeddah dievaluasi. Karena membiarkan kelambatan pemulangan jenazah Nurul hingga hampir satu tahun.
Dalam server telepon milik korban, diduga berisi bukti yang bisa menunjukkan ketidakwajaran kematian Nurul. Sebab, sebelum meninggal, korban pernah bercerita kepada keluarganya, telah mendapatkan siksaan dan kerap mendapatkan perlakuan senonoh dari majikan.
"Keluarga menginginkan pemerintah memfasilitasi pembukaan server telepon seluler korban, hal itu dilakukan sebagai bukti bahwa Nurul meninggal karena mendapatkan siksaan dari majikannya karena seluruh tindakan keji majikannya diinformasikan Nurul melalui SMS pada suaminya," kata Anis di Tangerang, Kamis (27/9/2012).
Namun begitu, Anis mengakui, tidak mudah bagi pemerintah Indonesia mengabulkan permintaan keluarga korban. Sebab, upaya yang telah dilakukan pihak keluarga selalui menemui jalan buntu.
"Keluarga pernah meminta bantuan ke Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan Ombudsman. Bahkan kepada Mabes Polri, tapi belum membuahkan hasil. Makanya kita akan melakukan otopsi ulang kepada jenazah Nurul," terangnya.
Lebih lanjut, Anis meminta kepada pemerintah untuk mengusut tuntas penyebab kematian Nurul. Jika dalam proses otopsi ulang nanti ditemukan keganjilan dan tindak pidana, agar diproses secara hukum.
"Kami ingin mengklarifikasi kesimpangsiuran informasi penyebab kematian Nurul dan segera mengajukan bukti yang dimiliki keluarga ke Pemerintah Arab Saudi," ungkapnya.
Pihaknya juga meminta, kinerja pejabat KJRI Jeddah dievaluasi. Karena membiarkan kelambatan pemulangan jenazah Nurul hingga hampir satu tahun.
(san)