Intelijen lemah, tak mampu deteksi rusuh Sampang
Rabu, 29 Agustus 2012 - 09:01 WIB
Intelijen lemah, tak mampu deteksi rusuh Sampang
A
A
A
Sindonews.com - Kerusuhan Sampang, bukan pertama kalinya terjadi. Bentrok dua kelompok berbeda keyakinan ini sudah berulang-ulang terjadi.
Bentrokan yang terjadi di Nangkernang Desa Karang Gayam, Kecamata Omben, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, dinilai banyak pihak sebagai bentuk kecolongan pemerintah dalam menciptakan keamanan dan ketertiban di masyarakat.
Polisi dinilai kurang koordinasi dengan pemerintah setempat. Akibat kurangnya koordinasi itulah membuat sistem intelijen kepolisian menjadi lemah.
“Deteksi inteligen lemah sekali. Ini karena sistemnya yang salah, harusnya koordinasi dengan pihak pemerintahan setempat harus terus terjalin," tegas Pengamat Kepolisian Bambang Widodo Umar ketika dikonfirmasi Sindonews, Rabu (29/8/2012).
Intelijen tak mampu membaca situasi yang ada. "Harusnya intelijen bisa menjadi radar. Kalau lemah, ya akan kebobolan terus. Jika intelijen tidak lemah, semua sudah terbaca sehingga bisa menyiapkan langkah pengamanan jauh hari, sehingga insiden itu tak menyebabkan kerugian besar," tukasnya.
Jika memang inteligen di lapangan lemah, Kapolri harus bertindak untuk memperbaikinya. Pihak-pihak yang bertanggungjawab atas keamanan itu segera diganti.
"Ini bisa sistem yang lemah, tapi juga bisa karena pimpinannya. Kalau disebabkan pimpinan lemah, sebaiknya segera diganti saja," ujarnya.
Persoalan Sampang ini, menurut Bambang diperlukan penanganan khusus dari pemerintah pusat mulai dari menteri dalam hal ini Menteri Agama (Menag) dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sebagai pengambil kebijakan dan Kapolri sebagai pelaksana kebijakan itu. (lns)
Baca ulasannya di Koran Sindo
Bentrokan yang terjadi di Nangkernang Desa Karang Gayam, Kecamata Omben, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, dinilai banyak pihak sebagai bentuk kecolongan pemerintah dalam menciptakan keamanan dan ketertiban di masyarakat.
Polisi dinilai kurang koordinasi dengan pemerintah setempat. Akibat kurangnya koordinasi itulah membuat sistem intelijen kepolisian menjadi lemah.
“Deteksi inteligen lemah sekali. Ini karena sistemnya yang salah, harusnya koordinasi dengan pihak pemerintahan setempat harus terus terjalin," tegas Pengamat Kepolisian Bambang Widodo Umar ketika dikonfirmasi Sindonews, Rabu (29/8/2012).
Intelijen tak mampu membaca situasi yang ada. "Harusnya intelijen bisa menjadi radar. Kalau lemah, ya akan kebobolan terus. Jika intelijen tidak lemah, semua sudah terbaca sehingga bisa menyiapkan langkah pengamanan jauh hari, sehingga insiden itu tak menyebabkan kerugian besar," tukasnya.
Jika memang inteligen di lapangan lemah, Kapolri harus bertindak untuk memperbaikinya. Pihak-pihak yang bertanggungjawab atas keamanan itu segera diganti.
"Ini bisa sistem yang lemah, tapi juga bisa karena pimpinannya. Kalau disebabkan pimpinan lemah, sebaiknya segera diganti saja," ujarnya.
Persoalan Sampang ini, menurut Bambang diperlukan penanganan khusus dari pemerintah pusat mulai dari menteri dalam hal ini Menteri Agama (Menag) dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sebagai pengambil kebijakan dan Kapolri sebagai pelaksana kebijakan itu. (lns)
Baca ulasannya di Koran Sindo
(hyk)