Syamsuddin dicecar 11 pertanyaan
Senin, 27 Agustus 2012 - 20:42 WIB
Syamsuddin dicecar 11 pertanyaan
A
A
A
Sindonews.com - Kepala Biro Perencanaan Kementerian Agama (Kemenag) Syamsuddin mengaku, dicecar sebelas pertanyaan oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pertanyaan itu sendiri hanya menyangkut soal mekanisme perencanaan proyek pengadaan Alquran di Kemenag.
"Sekitar sebelas pertanyaan. Saya ditanyakan seputar mekanisme perencanaan saja," ungkap Syamsuddin usai diperiksa sebagai saksi, di Gedung KPK, Jakarta, Senin (27/8/2012).
KPK memeriksa Syamsuddin sebagai saksi dalam kasus pengurusan anggaran Kemenag. Dalam pemeriksaannya itu Syamsuddin kurang lebih sekira delapan jam.
Sebelumnya, Sekretaris Ditjen Bimas Islam kemenag Abdul Karim, juga menjalani pemeriksaan terhadap kasus yang sama. Dia mengaku jika dirinya disuruh menjelaskan soal revisi pengadaan Alquran oleh penyidik KPK.
"Terkait dengan revisinya. Sebelum direvisi itu, Alquran harganya Rp75 ribu per eksemplar. Kita minta direvisi menjadi Rp35 ribu. Menyesuaikan dengan anggaran APBN tahun 2011 begitu. Itu saja yang ditanya," jelas Abdul.
Sedangkan Kasubdit Kepenghuluan dan Pemberdayaan KUA Kemenag Mashuri enggan berkomentar sedikitpun terkait pemeriksaan terhadap dirinya. "Oh enggak, terima kasih," ujarnya singkat.
Namun, ketika disinggung soal Dzulkarnaen Djabar, dia mengakui tidak mengenal. "Saya enggak kenal Pak Dzul, terus terang ya," kilahnya.
"Sekitar sebelas pertanyaan. Saya ditanyakan seputar mekanisme perencanaan saja," ungkap Syamsuddin usai diperiksa sebagai saksi, di Gedung KPK, Jakarta, Senin (27/8/2012).
KPK memeriksa Syamsuddin sebagai saksi dalam kasus pengurusan anggaran Kemenag. Dalam pemeriksaannya itu Syamsuddin kurang lebih sekira delapan jam.
Sebelumnya, Sekretaris Ditjen Bimas Islam kemenag Abdul Karim, juga menjalani pemeriksaan terhadap kasus yang sama. Dia mengaku jika dirinya disuruh menjelaskan soal revisi pengadaan Alquran oleh penyidik KPK.
"Terkait dengan revisinya. Sebelum direvisi itu, Alquran harganya Rp75 ribu per eksemplar. Kita minta direvisi menjadi Rp35 ribu. Menyesuaikan dengan anggaran APBN tahun 2011 begitu. Itu saja yang ditanya," jelas Abdul.
Sedangkan Kasubdit Kepenghuluan dan Pemberdayaan KUA Kemenag Mashuri enggan berkomentar sedikitpun terkait pemeriksaan terhadap dirinya. "Oh enggak, terima kasih," ujarnya singkat.
Namun, ketika disinggung soal Dzulkarnaen Djabar, dia mengakui tidak mengenal. "Saya enggak kenal Pak Dzul, terus terang ya," kilahnya.
(mhd)