Jangan ada yang berpihak dalam konflik Rohingya
Minggu, 05 Agustus 2012 - 21:34 WIB
Jangan ada yang berpihak dalam konflik Rohingya
A
A
A
Sindonews.com - Aksi solidaritas dan keprihatinan terhadap konflik Rohingya di Myanmar mendapat perhatian dari mantan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK).
Menurut dia, keprihatinan boleh saja ditunjukan namun sebaiknya tidak ada pihak manapun yang berpihak pada etnik Rohingya maupun Rakhine yang sekarang ini tengah berkonflik.
"Tujuan kita kan sederhana, ialah bagaimana orang Rohingya itu kembali hidup dengan damai. Jangan kita marah-marah terus sama Myanmar. Sama seperti di Ambon, Poso, karena adanya kecemburuan. Maka kita tidak boleh berpihak. Tidak boleh ada tindakan yang hanya memihak pada satu pihak," kata Jusuf Kalla di Jakarta, Minggu (5/8/2012).
Ketidakberpihakan ini kata JK bertujuan agar tidak ada kecemburuan yang bisa memicu konflik menjadi semakin panas. Jika memang ingin membantu, maka bantulah kedua belah pihak.
Menurutnya, permasalahan kedua etnik ini, tidak hanya menyangkut permasalahan agama, namun juga menyangkut permasalahan politik dan kultur di dalamnya. Namun, agama memang menjadi pemicu konflik paling cepat.
"Kenapa agama cepat sekali menjadi pemicu setiap masalah dan berhentinya susah. Karena, kalau sudah masuk agama, masalah membunuh dan dibunuh itu masalah masuk surga," tukas JK.
Menurut dia, keprihatinan boleh saja ditunjukan namun sebaiknya tidak ada pihak manapun yang berpihak pada etnik Rohingya maupun Rakhine yang sekarang ini tengah berkonflik.
"Tujuan kita kan sederhana, ialah bagaimana orang Rohingya itu kembali hidup dengan damai. Jangan kita marah-marah terus sama Myanmar. Sama seperti di Ambon, Poso, karena adanya kecemburuan. Maka kita tidak boleh berpihak. Tidak boleh ada tindakan yang hanya memihak pada satu pihak," kata Jusuf Kalla di Jakarta, Minggu (5/8/2012).
Ketidakberpihakan ini kata JK bertujuan agar tidak ada kecemburuan yang bisa memicu konflik menjadi semakin panas. Jika memang ingin membantu, maka bantulah kedua belah pihak.
Menurutnya, permasalahan kedua etnik ini, tidak hanya menyangkut permasalahan agama, namun juga menyangkut permasalahan politik dan kultur di dalamnya. Namun, agama memang menjadi pemicu konflik paling cepat.
"Kenapa agama cepat sekali menjadi pemicu setiap masalah dan berhentinya susah. Karena, kalau sudah masuk agama, masalah membunuh dan dibunuh itu masalah masuk surga," tukas JK.
(lns)