Pelaksanaan kacau, UKG harus dihentikan
Kamis, 02 Agustus 2012 - 17:33 WIB
Pelaksanaan kacau, UKG harus dihentikan
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Sulistiyo meminta Ujian Kompetensi Guru (UKG) dihentikan. Pasalnya, jika pun ada daerah yang terhubung oleh server maka hasilnya tidak akan menggambarkan kompetensi yang dapat dijadikan pertimbangan dalam melaksanakan pembinaan guru.
“Digitalisasi soal tidak benar. Sistem yang belum professional atau rapuh jika dipaksa untuk dipetakan tidak akan mampu menghasilkan analisis yang tepat,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (2/8/2012).
Sulistiyo meminta Kemendikbud jangan membuat kebohongan publik dengan menyalahkan operator dan guru karena kegagalan UKG. Dia mengingatkan, petugas operator komputer sudah bekerja dengan keras untuk UKG ini.
Bahkan para guru satu minggu terakhir sudah membedah kisi-kisi soal, belajar bahan uji dan berlatih memakai komputer hingga waktu mengajarnya kurang maksimal. Oleh karena itu, Kemendikbud harus berani jujur dan instrospeksi diri untuk mengakui mutu sistem dan data guru serta digitalisasi soal yang buruk yang menyebabkan kegagalan ini.
Anggota DPD RI ini menerangkan, UKG memang sepatutnya dihentikan. Kemendikbud saat ini harus fokus untuk melakukan perbaikan. Setelah yakin perbaikan selesai maka diuji coba dulu sebelum UKG gelombang kedua dipaksakan kembali.
“Guru yang sudah datang ke TUK sudah meninggalkan tugas mengajarnya selama berhari-hari dan dengan biaya sendiri. Jadi tidak hanya siswa yang dirugikan namun guru juga dirugikan akan keadaan ini. Ini semua terjadi karena persiapan yang minim,” ungkapnya.
“Digitalisasi soal tidak benar. Sistem yang belum professional atau rapuh jika dipaksa untuk dipetakan tidak akan mampu menghasilkan analisis yang tepat,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (2/8/2012).
Sulistiyo meminta Kemendikbud jangan membuat kebohongan publik dengan menyalahkan operator dan guru karena kegagalan UKG. Dia mengingatkan, petugas operator komputer sudah bekerja dengan keras untuk UKG ini.
Bahkan para guru satu minggu terakhir sudah membedah kisi-kisi soal, belajar bahan uji dan berlatih memakai komputer hingga waktu mengajarnya kurang maksimal. Oleh karena itu, Kemendikbud harus berani jujur dan instrospeksi diri untuk mengakui mutu sistem dan data guru serta digitalisasi soal yang buruk yang menyebabkan kegagalan ini.
Anggota DPD RI ini menerangkan, UKG memang sepatutnya dihentikan. Kemendikbud saat ini harus fokus untuk melakukan perbaikan. Setelah yakin perbaikan selesai maka diuji coba dulu sebelum UKG gelombang kedua dipaksakan kembali.
“Guru yang sudah datang ke TUK sudah meninggalkan tugas mengajarnya selama berhari-hari dan dengan biaya sendiri. Jadi tidak hanya siswa yang dirugikan namun guru juga dirugikan akan keadaan ini. Ini semua terjadi karena persiapan yang minim,” ungkapnya.
(lil)