Hartati salahkan manajemen perizinan di Indonesia
Selasa, 31 Juli 2012 - 09:42 WIB
Hartati salahkan manajemen perizinan di Indonesia
A
A
A
Sindonews.com - Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Hartati Murdaya menuding lemahnya sistem perijinan Hak Guna Usaha (HGU) di Indonesia, menjadi salah satu faktor dirinya tersandung kasus dugaan penyuapan terhadap Bupati Buol, Amran Batalipu.
Hartati mengatakan, perbaikan sistem manajemen perizinan HGU di Indonesia harus segera diperbaiki. Manajemen kekuasaan, harus dipisahkan dengan manajemen perizinan.
"Kesimpulan saya, di negeri kita perlu ada suatu perbaikan sistem. Suatu sistem manajemen kekuasaan, dan manajemen perizinan," katanya kepada wartawan usai menjalani pemeriksaan selama 13 jam di Gedung KPK, Jakarta, Senin 30 Juli 2012 malam.
Dia mengungkapkan, perbaikan tersebut mutlak segera dilakukan agar nantinya tidak ada lagi pihak yang merasa dirugikan seperti yang dialaminya saat ini. Pasalnya, Hartati merasa terpojok dengan kasus dugaan suap penerbitan ijin HGU lahan perkebunan kelapa sawit di Buol, Sulawesi Tengah yang belakangan menyeret namanya.
"Supaya tidak membuka peluang yang menyusahkan banyak pihak. Karena seperti kami ini sudah berjuang ke daerah terpencil karena terpanggil dan sebagainya tapi terjadi salah paham seperti ini. Saya kan akhirnya jadi korban," keluh Hartati.
Hartati mengatakan, perbaikan sistem manajemen perizinan HGU di Indonesia harus segera diperbaiki. Manajemen kekuasaan, harus dipisahkan dengan manajemen perizinan.
"Kesimpulan saya, di negeri kita perlu ada suatu perbaikan sistem. Suatu sistem manajemen kekuasaan, dan manajemen perizinan," katanya kepada wartawan usai menjalani pemeriksaan selama 13 jam di Gedung KPK, Jakarta, Senin 30 Juli 2012 malam.
Dia mengungkapkan, perbaikan tersebut mutlak segera dilakukan agar nantinya tidak ada lagi pihak yang merasa dirugikan seperti yang dialaminya saat ini. Pasalnya, Hartati merasa terpojok dengan kasus dugaan suap penerbitan ijin HGU lahan perkebunan kelapa sawit di Buol, Sulawesi Tengah yang belakangan menyeret namanya.
"Supaya tidak membuka peluang yang menyusahkan banyak pihak. Karena seperti kami ini sudah berjuang ke daerah terpencil karena terpanggil dan sebagainya tapi terjadi salah paham seperti ini. Saya kan akhirnya jadi korban," keluh Hartati.
(lil)