Demokrat dapat berkoalisi dengan Gerindra
Senin, 30 Juli 2012 - 09:42 WIB
Demokrat dapat berkoalisi dengan Gerindra
A
A
A
Sindonews.com - Kedekatan personal antara Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto menguatkan spekulasi bahwa Demokrat akan mendukung Prabowo sebagai capres.
“Kedekatan antara Presiden SBY dan Prabowo adalah kedekatan politik, dan itu berangkat dari kedekatan keduanya sebagai alumni satu angkatan di Akademi Militer. Muncul spekulasi bahwa peralihan kepemimpinan nasional bisa estafet dari militer ke militer. Spekulasi itu tidak jadi masalah asalkan komitmen pada demokrasi tetap terjaga,” ujar pengamat politik dari CSIS Bantarto Bandoro di Jakarta kemarin.
Dia menyatakan, kedekatan SBY dan Prabowo sangat sulit dilepas dari unsur politis. Terlebih keduanya adalah sosok sentral di parpol masing-masing. Karakter awal kedua partai ini pun sama-sama mengandalkan tokoh yakni SBY dan Prabowo. Sementara itu, pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Bachtiar Effendy mengakui bahwa kemungkinan didukungnya Prabowo sebagai capres oleh Par tai Demokrat memang bisa terjadi.
Terlebih Demokrat saat ini tak memiliki figur yang benar-benar dikenal dan memiliki elek tabilitas kuat di masyarakat.
“Partai-partai besar seperti Demokrat maupun PDIP saat ini krisis figur tokoh yang bisa diusung ke level presiden. Ini masalah serius yang dihadapi partai-partai besar pada Pilpres 2014. Padahal era Presiden SBY sudah habis dua tahun mendatang,” ujarnya.
Dia menegaskan, PDIP saat ini sudah pasti berpikir realistis sehingga kecil ke mungkinan mengusung kembali ketua umumnya, Megawati Soekarnoputri, sebagai capres. Adapun Partai Demokrat akan kebingungan karena mereka tak mungkin lagi mencalonkan SBY menjadi capres 2014.
Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani menyatakan, pertemuan Presiden SBY dan Prabowo di sela reuni mantan Akabri 73 di Istana Tampaksiring, Bali, beberapa waktu lalu, belum bisa dikatakan sebagai bentuk dukungan SBY ataupun Partai Demokrat kepada Prabowo sebagai capres 2014.
“Tolong jangan diartikan macam-macam dululah,” kata Muzani.
“Kedekatan antara Presiden SBY dan Prabowo adalah kedekatan politik, dan itu berangkat dari kedekatan keduanya sebagai alumni satu angkatan di Akademi Militer. Muncul spekulasi bahwa peralihan kepemimpinan nasional bisa estafet dari militer ke militer. Spekulasi itu tidak jadi masalah asalkan komitmen pada demokrasi tetap terjaga,” ujar pengamat politik dari CSIS Bantarto Bandoro di Jakarta kemarin.
Dia menyatakan, kedekatan SBY dan Prabowo sangat sulit dilepas dari unsur politis. Terlebih keduanya adalah sosok sentral di parpol masing-masing. Karakter awal kedua partai ini pun sama-sama mengandalkan tokoh yakni SBY dan Prabowo. Sementara itu, pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Bachtiar Effendy mengakui bahwa kemungkinan didukungnya Prabowo sebagai capres oleh Par tai Demokrat memang bisa terjadi.
Terlebih Demokrat saat ini tak memiliki figur yang benar-benar dikenal dan memiliki elek tabilitas kuat di masyarakat.
“Partai-partai besar seperti Demokrat maupun PDIP saat ini krisis figur tokoh yang bisa diusung ke level presiden. Ini masalah serius yang dihadapi partai-partai besar pada Pilpres 2014. Padahal era Presiden SBY sudah habis dua tahun mendatang,” ujarnya.
Dia menegaskan, PDIP saat ini sudah pasti berpikir realistis sehingga kecil ke mungkinan mengusung kembali ketua umumnya, Megawati Soekarnoputri, sebagai capres. Adapun Partai Demokrat akan kebingungan karena mereka tak mungkin lagi mencalonkan SBY menjadi capres 2014.
Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani menyatakan, pertemuan Presiden SBY dan Prabowo di sela reuni mantan Akabri 73 di Istana Tampaksiring, Bali, beberapa waktu lalu, belum bisa dikatakan sebagai bentuk dukungan SBY ataupun Partai Demokrat kepada Prabowo sebagai capres 2014.
“Tolong jangan diartikan macam-macam dululah,” kata Muzani.
(lns)