Nasdem harus selektif pilih caleg
Selasa, 24 Juli 2012 - 08:58 WIB
Nasdem harus selektif pilih caleg
A
A
A
Sindonews.com - Partai Nasdem diingatkan agar sangat selektif dalam menyeleksi para bakal calon anggota legislatif (caleg) untuk Pemilu 2014. Performa Nasdem yang sangat baik selama ini jangan sampai dirusak ulah politisi oportunis.
Pengamat politik dari Komite Pemilih Indonesia (Tepi) Jeirry Sumampow mengatakan, Partai Nasdem saat ini menghadapi tantangan berat dalam mempertahankan performa dan citra yang sudah sangat baik di masyarakat. Perkembangan Nasdem sangat pesat, bahkan infrastrukturnya sudah sangat lengkap hingga pelosok seluruh provinsi.
Isu restorasi Indonesia pun mendapat sambutan luas dari khalayak calon pemilih. Keberpihakan pada rakyat kecil pun sangat terasa. Banyaknya politisi yang bergabung dengan Nasdem adalah indikator nyata yang paling mudah dilihat betapa besarnya apresiasi publik.
“Nah, hasil sekaligus modal yang sangat baik ini jangan sampai ternoda oleh ulah politisinya saat menjadi wakil rakyat nanti. Karena itu, proses seleksi caleg harus sangat ketat. Ini juga perlu dimulai dari rekrutmen kader yang juga harus selektif,” ungkap Jeirry saat dihubungi di Jakarta, Senin 23 Juli 2012.
Mencermati fenomena politik banyaknya anggota DPR dari parpol lain yang bersiap pindah ke Nasdem, Jeirry berharap, parpol yang dideklarasikan pada Juli 2011 ini juga selektif dalam merekrut kader. “Lihat rekam jejaknya. Jangan asal populer lantas diterima. Lengah sedikit, risikonya besar,” kata Jeirry.
Dia menyambut positif kabar bahwa akan ada puluhan anggota DPR dari parpol lain yang akan pindah ke Nasdem. Eksodus politisi bukan hal negatif dan berpotensi semakin memperkuat parpol baru, terlebih mereka yang masuk sudah cukup berpengalaman di dunia politik. “Yang penting, kualitas politisinya jelas. Hati-hati ada politisi oportunis yang hanya mengejar jabatan,” ujarnya.
Sementara itu, peneliti dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi menilai, popularitas dan dana yang ada tidak serta merta membuat elektabilitas sebuah parpol terangkat. Karena itu, Nasdem juga butuh figur-figur yang mampu menarik elektabilitas di tingkat lokal. NasDem perlu mengakomodasi tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki basis massa di tingkat lokal.
Burhanuddin mengaku yakin Nasdem telah memiliki analisis dan strategi yang tepat dalam pertarungan politik nasional yang berbasis elektoral serta multipartai ekstrem. Sistem ini juga mengharuskan masyarakat memilih caleg, bukan sekadar lambang parpol. Karena itu, parpol harus memprioritaskan calag-caleg yang dikenal konstituen agar bisa dipilih.
Pada saat bersamaan para caleg juga harus melihat partai yang kuat agar kerja keras politik mereka tidak sia-sia. “Pertemuan saling menguntungkan seperti ini yang sebenarnya terjadi antara Partai Nasdem dan sejumlah politisi,” ungkapnya.
Diberitakan sebelumnya, Ketua Umum Partai Nasdem Patrice Rio Capella mengungkapkan bahwa sedikitnya ada 37 politisi DPR yang segera bergabung menjadi kader Partai Nasdem menjelang Pemilu 2014. Menurut Rio, para wakil rakyat itu tertarik dengan semangat perubahan yang konsisten disuarakan partainya. “Selama ini kami sudah membangun komunikasi yang intens. Mereka dari lintas partai. Kami tentu menyambut baik niat mereka untuk berjuang bersama kami dalam gerbong perubahan. Tinggal menunggu waktu,” ungkap Rio.
Para anggota DPR yang akan bergabung dengan Nasdem ini, lanjut Rio, semuanya merupakan politisi populer. Menanggapi masukan dari kalangan pengamat agar Nasdem menggelar seleksi kader dan caleg yang sangat ketat, Rio menyatakan bahwa pihaknya memang memiliki mekanisme rekrutmen caleg tersendiri.
“Para kader Nasdem berkualitas dan selalu dibekali pendidikan serta latihan. Setelah resmi bergabung, kita akan persilakan mereka ikut seleksi seperti kader lainnya,” jawab Rio.
Pengamat politik dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung Asep Warlan Yusuf menekankan, mereka yang pindah partai tidak bisa langsung disebut sebagai kutu loncat.
Terlebih bila si politikus baru sekali ini pindah partai. Menurut Asep, harus dibedakan antara politikus yang mudah pindah partai, dan politikus yang baru sekali pindah partai karena menemukan wadah perjuangan lebih ideal.
Pengamat politik dari Komite Pemilih Indonesia (Tepi) Jeirry Sumampow mengatakan, Partai Nasdem saat ini menghadapi tantangan berat dalam mempertahankan performa dan citra yang sudah sangat baik di masyarakat. Perkembangan Nasdem sangat pesat, bahkan infrastrukturnya sudah sangat lengkap hingga pelosok seluruh provinsi.
Isu restorasi Indonesia pun mendapat sambutan luas dari khalayak calon pemilih. Keberpihakan pada rakyat kecil pun sangat terasa. Banyaknya politisi yang bergabung dengan Nasdem adalah indikator nyata yang paling mudah dilihat betapa besarnya apresiasi publik.
“Nah, hasil sekaligus modal yang sangat baik ini jangan sampai ternoda oleh ulah politisinya saat menjadi wakil rakyat nanti. Karena itu, proses seleksi caleg harus sangat ketat. Ini juga perlu dimulai dari rekrutmen kader yang juga harus selektif,” ungkap Jeirry saat dihubungi di Jakarta, Senin 23 Juli 2012.
Mencermati fenomena politik banyaknya anggota DPR dari parpol lain yang bersiap pindah ke Nasdem, Jeirry berharap, parpol yang dideklarasikan pada Juli 2011 ini juga selektif dalam merekrut kader. “Lihat rekam jejaknya. Jangan asal populer lantas diterima. Lengah sedikit, risikonya besar,” kata Jeirry.
Dia menyambut positif kabar bahwa akan ada puluhan anggota DPR dari parpol lain yang akan pindah ke Nasdem. Eksodus politisi bukan hal negatif dan berpotensi semakin memperkuat parpol baru, terlebih mereka yang masuk sudah cukup berpengalaman di dunia politik. “Yang penting, kualitas politisinya jelas. Hati-hati ada politisi oportunis yang hanya mengejar jabatan,” ujarnya.
Sementara itu, peneliti dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi menilai, popularitas dan dana yang ada tidak serta merta membuat elektabilitas sebuah parpol terangkat. Karena itu, Nasdem juga butuh figur-figur yang mampu menarik elektabilitas di tingkat lokal. NasDem perlu mengakomodasi tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki basis massa di tingkat lokal.
Burhanuddin mengaku yakin Nasdem telah memiliki analisis dan strategi yang tepat dalam pertarungan politik nasional yang berbasis elektoral serta multipartai ekstrem. Sistem ini juga mengharuskan masyarakat memilih caleg, bukan sekadar lambang parpol. Karena itu, parpol harus memprioritaskan calag-caleg yang dikenal konstituen agar bisa dipilih.
Pada saat bersamaan para caleg juga harus melihat partai yang kuat agar kerja keras politik mereka tidak sia-sia. “Pertemuan saling menguntungkan seperti ini yang sebenarnya terjadi antara Partai Nasdem dan sejumlah politisi,” ungkapnya.
Diberitakan sebelumnya, Ketua Umum Partai Nasdem Patrice Rio Capella mengungkapkan bahwa sedikitnya ada 37 politisi DPR yang segera bergabung menjadi kader Partai Nasdem menjelang Pemilu 2014. Menurut Rio, para wakil rakyat itu tertarik dengan semangat perubahan yang konsisten disuarakan partainya. “Selama ini kami sudah membangun komunikasi yang intens. Mereka dari lintas partai. Kami tentu menyambut baik niat mereka untuk berjuang bersama kami dalam gerbong perubahan. Tinggal menunggu waktu,” ungkap Rio.
Para anggota DPR yang akan bergabung dengan Nasdem ini, lanjut Rio, semuanya merupakan politisi populer. Menanggapi masukan dari kalangan pengamat agar Nasdem menggelar seleksi kader dan caleg yang sangat ketat, Rio menyatakan bahwa pihaknya memang memiliki mekanisme rekrutmen caleg tersendiri.
“Para kader Nasdem berkualitas dan selalu dibekali pendidikan serta latihan. Setelah resmi bergabung, kita akan persilakan mereka ikut seleksi seperti kader lainnya,” jawab Rio.
Pengamat politik dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung Asep Warlan Yusuf menekankan, mereka yang pindah partai tidak bisa langsung disebut sebagai kutu loncat.
Terlebih bila si politikus baru sekali ini pindah partai. Menurut Asep, harus dibedakan antara politikus yang mudah pindah partai, dan politikus yang baru sekali pindah partai karena menemukan wadah perjuangan lebih ideal.
(lil)