Politisi tertarik perubahan
Senin, 23 Juli 2012 - 08:21 WIB
Politisi tertarik perubahan
A
A
A
Sindonews.com - Semangat perubahan yang ditawarkan Partai Nasional Demokrat (Nasdem) diyakini menjadi salah satu alasan banyaknya politikus yang tertarik bergabung.
Pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit mengatakan, Partai Nasdem berhasil menjadi wadah bagi kalangan yang jenuh dengan kondisi keterpurukan bangsa Indonesia saat ini. Ketika tawaran perubahan itu terus didengungkan, politisi pun tergerak hatinya untuk ikut ambil bagian dalam perubahan tersebut.
"Saya tidak kaget kalau banyak politikus pindah ke Partai Nasdem. Sebab, sebagai partai baru, Nasdem berhasil menyuarakan secara konsisten pentingnya perubahan. Angin perubahan itu sudah dekat sehingga banyak yang tergerak untuk masuk ke Nasdem,” ungkap Arbi di Jakarta, Minggu 22 Juli 2012.
Diberitakan sebelumnya, sekira 37 politikus di DPR dikabarkan sudah menjajaki bergabung dengan Partai Nasdem. Ketua Umum DPP Partai Nasdem Patrice Rio Capella mengatakan, rencana bergabungnya puluhan politikus Senayan dari lintas partai ke Nasdem tidak ada hubungannya dengan wacana Partai Nasdem memberikan dana sosialisasi atau kampanye bagi para calon anggota legislatif (caleg) yang akan bertarung pada Pemilu 2014.
Komunikasi dengan para politikus ini, kata Rio, sudah dibuka jauh hari sebelum Nasdem membahas rencana memodali para calegnya. Lebih lanjut Arbi mengatakan, alasan lain yang membuat para politikus pindah ke Nasdem adalah kejenuhan terhadap sistem politik biaya tinggi yang tengah membelenggu. Politisi yang sudah merasakan pahit getirnya politik transaksional sudah barang tentu tertarik ke Nasdem yang memberi konsep politik murah.
"Selama ini, orang masuk politik kesannya ingin mencari uang lalu mengeluarkan modal besar. Makanya, ketika Nasdem menawarkan konsep restorasi tanpa banyak uang, sudah barang tentu banyak politikus tertarik masuk. Pengalaman masuk dalam politik transaksional membuat mereka ingin berubah,” tandasnya.
Meski demikian, Arbi mengingatkan bahwa Nasdem mendapat tantangan berat ketika harus menyeleksi para kader untuk diusung menjadi caleg. Sebab, Nasdem harus bisa memastikan kedekatan caleg kepada masyarakat dan konstituen sebagai jaminan elektabilitas.
Kemudian, Nasdem harus memastikan adanya komitmen caleg untuk mengabdi dan berjuang membawa panji perjuangan Nasdem. Lebih dari itu, Arbi juga mengingatkan bahwa para caleg yang akan diusung Nasdem juga harus diukur kemampuannya untuk menjalankan tugas-tugas yang sudah ditargetkan Nasdem selama ini.
"Jangan sampai figur-figur yang diusung kemudian berhasil duduk di parlemen, lantas mereka tidak bisa memperjuangkan apa-apa. Ini bisa membuat apa yang didengungkan Nasdem selama ini terhambat, dan masyarakat gagal merasakan hasil perubahan itu,” terangnya.
Hal senada diungkapkan pengamat politik UI Boni Hargens. Menurut dia, Nasdem memang memiliki daya tarik bagi para politikus, dan masyarakat karena berhasil menghapus citra politik oligarki yang sudah puluhan tahun mengakar di Indonesia.
Ketika Nasdem muncul dengan konsep perubahan, sudah barang tentu banyak kalangan berbondong-bondong ingin ikut ambil peran dalam perubahan yang terbuka itu. "Selama ini, orang yang ingin masuk dan berbuat melalui lingkaran parpol sangat sulit karena semua celah sudah diisi para elite parpol dan kroninya. Ketika NasDem muncul, banyak pihak melihat celah kesempatan berbuat lebih banyak dibandingkan ketika ada di parpol lain. Ini gejala positif bagi sebuah partai baru,” ungkapnya.
Boni mengatakan, NasDem juga berisi sumber daya manusia dari kalangan muda yang siap menjadi pelaku perubahan. Hal ini memberi energi lebih bagi Partai Nasdem untuk tampil lebih meyakinkan dibandingkan partai lain. Para politikus pun akan memahami peluang ini sebagai jaminan keberhasilan dalam pemilu.
"Jadi, memang haus diakui bahwa tawaran konsep perubahan Nasdem juga diikuti dengan adanya figur-figur muda yang siap menjalankan konsep tersebut. Hal ini tentunya menjadi semacam ajakan kepada para politikus lain untuk ikut dalam tim perubahan tersebut,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Nasdem Ferry Mursyidan Baldan mengatakan, bergabungnya sejumlah anggota DPR ke Partai Nasdem sejatinya masih dalam tataran rencana. Hal ini pun belum menjadi fokus Nasdem yang saat ini tengah berusaha menghadapi proses verifikasi di Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk bisa menjadi peserta Pemilu 2014.
"Kita masih harus mengikuti tahapan verifikasi KPU agar bisa lolos sebagai peserta pemilu. Jadi, bagaimana mungkin partai yang belum menjadi peserta pemilu sudah dikatakan mengikat komitmen dengan anggota DPR yang masih menjalankan tugas negara di parlemen,” ungkapnya.
Ferry mengatakan, secara faktual Partai Nasdem sudah dikenal sebagai gerakan perubahan, dan mendapat banyak simpati dan dukungan dari kalangan masyarakat. Pada saat bersamaan, Nasdem juga terus membahas masalah figur-figur anak bangsa yang baik dan berkarakter agar bisa menjalankan gagasan perubahan tersebut.
Sebagai partai baru, ujarnya, Nasdem tentu akan membuka diri dan relasi dengan semua kalangan dalam rangka menyebarkan gagasan perubahan. Komunikasi tersebut bukan hanya dengan kalangan anggota DPR saja, tetapi juga dengan pemuka agama, tokoh masyarakat, mahasiswa, pemuda, kaum perempuan, kalangan media, musisi, pekerja, pedagang kecil, serta politisi.
Pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit mengatakan, Partai Nasdem berhasil menjadi wadah bagi kalangan yang jenuh dengan kondisi keterpurukan bangsa Indonesia saat ini. Ketika tawaran perubahan itu terus didengungkan, politisi pun tergerak hatinya untuk ikut ambil bagian dalam perubahan tersebut.
"Saya tidak kaget kalau banyak politikus pindah ke Partai Nasdem. Sebab, sebagai partai baru, Nasdem berhasil menyuarakan secara konsisten pentingnya perubahan. Angin perubahan itu sudah dekat sehingga banyak yang tergerak untuk masuk ke Nasdem,” ungkap Arbi di Jakarta, Minggu 22 Juli 2012.
Diberitakan sebelumnya, sekira 37 politikus di DPR dikabarkan sudah menjajaki bergabung dengan Partai Nasdem. Ketua Umum DPP Partai Nasdem Patrice Rio Capella mengatakan, rencana bergabungnya puluhan politikus Senayan dari lintas partai ke Nasdem tidak ada hubungannya dengan wacana Partai Nasdem memberikan dana sosialisasi atau kampanye bagi para calon anggota legislatif (caleg) yang akan bertarung pada Pemilu 2014.
Komunikasi dengan para politikus ini, kata Rio, sudah dibuka jauh hari sebelum Nasdem membahas rencana memodali para calegnya. Lebih lanjut Arbi mengatakan, alasan lain yang membuat para politikus pindah ke Nasdem adalah kejenuhan terhadap sistem politik biaya tinggi yang tengah membelenggu. Politisi yang sudah merasakan pahit getirnya politik transaksional sudah barang tentu tertarik ke Nasdem yang memberi konsep politik murah.
"Selama ini, orang masuk politik kesannya ingin mencari uang lalu mengeluarkan modal besar. Makanya, ketika Nasdem menawarkan konsep restorasi tanpa banyak uang, sudah barang tentu banyak politikus tertarik masuk. Pengalaman masuk dalam politik transaksional membuat mereka ingin berubah,” tandasnya.
Meski demikian, Arbi mengingatkan bahwa Nasdem mendapat tantangan berat ketika harus menyeleksi para kader untuk diusung menjadi caleg. Sebab, Nasdem harus bisa memastikan kedekatan caleg kepada masyarakat dan konstituen sebagai jaminan elektabilitas.
Kemudian, Nasdem harus memastikan adanya komitmen caleg untuk mengabdi dan berjuang membawa panji perjuangan Nasdem. Lebih dari itu, Arbi juga mengingatkan bahwa para caleg yang akan diusung Nasdem juga harus diukur kemampuannya untuk menjalankan tugas-tugas yang sudah ditargetkan Nasdem selama ini.
"Jangan sampai figur-figur yang diusung kemudian berhasil duduk di parlemen, lantas mereka tidak bisa memperjuangkan apa-apa. Ini bisa membuat apa yang didengungkan Nasdem selama ini terhambat, dan masyarakat gagal merasakan hasil perubahan itu,” terangnya.
Hal senada diungkapkan pengamat politik UI Boni Hargens. Menurut dia, Nasdem memang memiliki daya tarik bagi para politikus, dan masyarakat karena berhasil menghapus citra politik oligarki yang sudah puluhan tahun mengakar di Indonesia.
Ketika Nasdem muncul dengan konsep perubahan, sudah barang tentu banyak kalangan berbondong-bondong ingin ikut ambil peran dalam perubahan yang terbuka itu. "Selama ini, orang yang ingin masuk dan berbuat melalui lingkaran parpol sangat sulit karena semua celah sudah diisi para elite parpol dan kroninya. Ketika NasDem muncul, banyak pihak melihat celah kesempatan berbuat lebih banyak dibandingkan ketika ada di parpol lain. Ini gejala positif bagi sebuah partai baru,” ungkapnya.
Boni mengatakan, NasDem juga berisi sumber daya manusia dari kalangan muda yang siap menjadi pelaku perubahan. Hal ini memberi energi lebih bagi Partai Nasdem untuk tampil lebih meyakinkan dibandingkan partai lain. Para politikus pun akan memahami peluang ini sebagai jaminan keberhasilan dalam pemilu.
"Jadi, memang haus diakui bahwa tawaran konsep perubahan Nasdem juga diikuti dengan adanya figur-figur muda yang siap menjalankan konsep tersebut. Hal ini tentunya menjadi semacam ajakan kepada para politikus lain untuk ikut dalam tim perubahan tersebut,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Nasdem Ferry Mursyidan Baldan mengatakan, bergabungnya sejumlah anggota DPR ke Partai Nasdem sejatinya masih dalam tataran rencana. Hal ini pun belum menjadi fokus Nasdem yang saat ini tengah berusaha menghadapi proses verifikasi di Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk bisa menjadi peserta Pemilu 2014.
"Kita masih harus mengikuti tahapan verifikasi KPU agar bisa lolos sebagai peserta pemilu. Jadi, bagaimana mungkin partai yang belum menjadi peserta pemilu sudah dikatakan mengikat komitmen dengan anggota DPR yang masih menjalankan tugas negara di parlemen,” ungkapnya.
Ferry mengatakan, secara faktual Partai Nasdem sudah dikenal sebagai gerakan perubahan, dan mendapat banyak simpati dan dukungan dari kalangan masyarakat. Pada saat bersamaan, Nasdem juga terus membahas masalah figur-figur anak bangsa yang baik dan berkarakter agar bisa menjalankan gagasan perubahan tersebut.
Sebagai partai baru, ujarnya, Nasdem tentu akan membuka diri dan relasi dengan semua kalangan dalam rangka menyebarkan gagasan perubahan. Komunikasi tersebut bukan hanya dengan kalangan anggota DPR saja, tetapi juga dengan pemuka agama, tokoh masyarakat, mahasiswa, pemuda, kaum perempuan, kalangan media, musisi, pekerja, pedagang kecil, serta politisi.
(lil)