Survei BPS, pelayanan haji 2011 meningkat
Rabu, 18 Juli 2012 - 08:54 WIB
Survei BPS, pelayanan haji 2011 meningkat
A
A
A
Sindonews.com - Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan indeks kepuasan jamaah terhadap pelayanan panitia penyelenggara ibadah haji (PPIH) 2011 di atas standar atau meningkat dibandingkan 2010.
Kepala BPS Suryamin mengatakan, secara keseluruhan indeks kepuasan jamaah terhadap pelayanan PPIH di Arab Saudi mencapai 83,31 persen atau naik 1,86 persen dibandingkan indeks kepuasan pelayanan haji 2010 sebesar 81,45 persen.
Jenis pelayanan tersebut meliputi katering Armina sebesar 78,07 persen, transportasi 77,41 persen, katering 80,46 persen, pemondokan 81 persen, ibadah 85,82 persen,petugas nonkloter 85,07 persen, petugas kloter 88,37 persen, dan lainnya 82,98 persen.
“Jadi kepuasan jamaah meningkat,” ungkap Suryamin di Kantor BPS, Jakarta, kemarin.
Menurut dia, aspek pelayanan dengan pemenuhan harapan tertinggi terdapat pada pelayanan petugas kloter dan pelayanan terendah terdapat pada transportasi.
Jika dilihat berdasarkan daerah kerja (daker), indeks kepuasan Daker Armina mencapai 81,25 persen, Mekkah 82,84 persen, Jeddah 84,54 persen, dan Madinah 84,64 persen.
“Kepuasan pelayanan Daker Armina mengalami kenaikan tertinggi. Sedangkan Daker Madinah mengalami penurunan sebesar 2,69 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar 87,33 persen,” ungkapnya.
Sementara indeks kepuasan jamaah terhadap pelayanan kesehatan di Daker Jeddah mencapai 92,20 persen, Madinah 89,85 persen, dan Mekkah 90,58 persen.
Aspek pelayanan kesehatan tersebut meliputi pelayanan kesehatan pada saat safari wukuf, pelayanan jamaah berisiko tinggi, kelengkapan fasilitas pelayanan, ketersediaan tempat, kesiapan memberi pelayanan, serta kemudahan mendapat pelayanan.
“Pelayanan kesehatan di atas standar, tapi kelengkapan fasilitas dan ketersediaan tempat perlu ditingkatkan,” paparnya.
Suryamin mengungkapkan, data primer survei yang dilakukan BPS diperoleh dengan mengumpulkan data dari kuesioner yang diisi jamaah terpilih sebagai sampel.
Sedangkan data sekunder diperoleh dari hasil pengamatan langsung pada obyek penelitian, statistik jamaah, petugas, data operasional haji 2011 dan 2010. Setiap daker ditetapkan sebanyak 2.500 responden, sementara yang mengembalikan kuesioner sebanyak 5.429 jamaah.
“Kuesioner yang layak diolah seluruhnya mencapai 5.348 atau 98,51%,” ucapnya.
Menanggapi survei ini, Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali mengatakan, permasalahan transportasi khususnya bagi jamaah yang tinggal di atas jarak 2.000 m dari Masjidilharam merupakan salah satu aspek pelayanan yang sulit dipecahkan.
Namun, pihaknya memahami karena jumlah bus yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah jamaah yang harus dilayani. Dia menyebutkan, jumlah jamaah mencapai 3 juta orang sehingga dibutuhkan sekitar 30 armada bus.
“Sebetulnya saya juga tidak puas, tapi saya coba memahami,” kata Menag.
Kepala BPS Suryamin mengatakan, secara keseluruhan indeks kepuasan jamaah terhadap pelayanan PPIH di Arab Saudi mencapai 83,31 persen atau naik 1,86 persen dibandingkan indeks kepuasan pelayanan haji 2010 sebesar 81,45 persen.
Jenis pelayanan tersebut meliputi katering Armina sebesar 78,07 persen, transportasi 77,41 persen, katering 80,46 persen, pemondokan 81 persen, ibadah 85,82 persen,petugas nonkloter 85,07 persen, petugas kloter 88,37 persen, dan lainnya 82,98 persen.
“Jadi kepuasan jamaah meningkat,” ungkap Suryamin di Kantor BPS, Jakarta, kemarin.
Menurut dia, aspek pelayanan dengan pemenuhan harapan tertinggi terdapat pada pelayanan petugas kloter dan pelayanan terendah terdapat pada transportasi.
Jika dilihat berdasarkan daerah kerja (daker), indeks kepuasan Daker Armina mencapai 81,25 persen, Mekkah 82,84 persen, Jeddah 84,54 persen, dan Madinah 84,64 persen.
“Kepuasan pelayanan Daker Armina mengalami kenaikan tertinggi. Sedangkan Daker Madinah mengalami penurunan sebesar 2,69 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar 87,33 persen,” ungkapnya.
Sementara indeks kepuasan jamaah terhadap pelayanan kesehatan di Daker Jeddah mencapai 92,20 persen, Madinah 89,85 persen, dan Mekkah 90,58 persen.
Aspek pelayanan kesehatan tersebut meliputi pelayanan kesehatan pada saat safari wukuf, pelayanan jamaah berisiko tinggi, kelengkapan fasilitas pelayanan, ketersediaan tempat, kesiapan memberi pelayanan, serta kemudahan mendapat pelayanan.
“Pelayanan kesehatan di atas standar, tapi kelengkapan fasilitas dan ketersediaan tempat perlu ditingkatkan,” paparnya.
Suryamin mengungkapkan, data primer survei yang dilakukan BPS diperoleh dengan mengumpulkan data dari kuesioner yang diisi jamaah terpilih sebagai sampel.
Sedangkan data sekunder diperoleh dari hasil pengamatan langsung pada obyek penelitian, statistik jamaah, petugas, data operasional haji 2011 dan 2010. Setiap daker ditetapkan sebanyak 2.500 responden, sementara yang mengembalikan kuesioner sebanyak 5.429 jamaah.
“Kuesioner yang layak diolah seluruhnya mencapai 5.348 atau 98,51%,” ucapnya.
Menanggapi survei ini, Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali mengatakan, permasalahan transportasi khususnya bagi jamaah yang tinggal di atas jarak 2.000 m dari Masjidilharam merupakan salah satu aspek pelayanan yang sulit dipecahkan.
Namun, pihaknya memahami karena jumlah bus yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah jamaah yang harus dilayani. Dia menyebutkan, jumlah jamaah mencapai 3 juta orang sehingga dibutuhkan sekitar 30 armada bus.
“Sebetulnya saya juga tidak puas, tapi saya coba memahami,” kata Menag.
(lns)