Kepastian hukum jadi tantangan bangsa
Senin, 16 Juli 2012 - 08:27 WIB
Kepastian hukum jadi tantangan bangsa
A
A
A
Sindonews.com - Kalangan profesional dan wiraswasta idealnya menjadikan maraknya kasus korupsi dan rendahnya tingkat kepastian hukum sebagai tantangan untuk membangun Indonesia yang lebih baik.
Hal ini diungkapkan CEO Media Nusantara Citra (MNC) Group yang juga Ketua Dewan Pakar Partai NasDem Hary Tanoesoedibjo (HT) saat menjadi pembicara utama dalam “Dialog Tokoh Nasional” di hadapan ratusan profesional Indonesia di Kedutaan Besar RI di Singapura, Sabtu 14 Juli 2012.
Kegiatan bertema “Kesempatan dan Tantangan Profesional untuk Menjadi Wirausaha” ini digelar oleh Indonesian Professionals Association (IPA), KBRI Singapura, dan Komunitas Rajawali 7.
Lebih lanjut HT mengatakan, korupsi dan kepastian hukum selama ini selalu disebut sebagai titik lemah Bangsa Indonesia. Hal ini memang bisa membuat banyak pihak frustrasi untuk berusaha di Indonesia. Namun, kondisi ini seharusnya dijadikan tantangan untuk membenahi bangsa.
“Kita sudah mengetahui mana saja yang harus diperbaiki. Dengan begitu, peluang Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar sangat terbuka,” ujar HT. Dia mengungkapkan, kelemahan lain Indonesia yang sebenarnya bisa menjadi potensi adalah kualitas sumber daya manusia. Lebih dari 50 persen penduduk masih berpendidikan setingkat sekolah dasar (SD).
Jumlah usia produktif yang tinggi tidak didukung aspek kualitas yang baik pula. Indonesia, kata HT, juga memiliki kelemahan di bidang infrastruktur. Hal ini menjadi salah satu faktor penghambat pertumbuhan ekonomi.
“Tapi dari sisi lain, kelemahan infrastruktur ini membuat peluang di bidang tersebut menjadi sangat besar. Bangsa kita membutuhkan investasi yang besar di bidang infrastruktur. Melihat kondisi ekonomi saat ini, peluang terbesar investor dunia ada di Indonesia,” ungkapnya.
Dengan berbagai kelemahan yang bisa diubah menjadi potensi ini, HT mendorong dan mengajak para profesional dan wiraswasta Indonesia di Singapura dan di negara lain untuk pulang membangun negara dan bangsa.
Di sini mereka bisa tetap menjalankan kiprahnya sebagai profesional maupun sebagai pengusaha. Dia memaparkan, selama ini sangat banyak profesional bahkan pengusaha Indonesia yang bertahan dan berinvestasi di Singapura.
Padahal Indonesia saat ini negara yang paling berprospek di dunia. Indonesia juga merupakan negara di kawasan Asia yang paling siap karena perekonomiannya bersandar pada perekonomian lokal, bukan ekspor.
Seperti diketahui, kawasan Asia adalah kawasan yang perekonomiannya paling maju di dunia. Terlebih, saat ini kawasan Eropa dan Amerika sedang dirundung krisis ekonomi.
Menurut Hary, Eropa mengalami krisis karena beban utang sudah mencapai 70 persen dibanding gross domestic product (GDP). Sementara usia masyarakat relatif 65 tahun ke atas. Akibatnya, biaya untuk tunjangan kalangan usia tua sangat tinggi, sementara kontribusi pajak hanya 35 persen.
“GDP negara-negara Eropa 50 persen didukung anggaran negara. Jadi tidak akan ada perbaikan dalam jangka pendek sehingga pertumbuhan juga akan terus turun,” ungkap pria yang sukses mengembangkan kerajaan bisnis media menjadi terbesar di Asia Tenggara hanya dalam kurun waktu sepuluh tahun ini.
Di sisi lain, negara dengan perekonomian terdepan, Amerika Serikat (AS) juga mengalami hal yang sama. Setelah krisis akibat subprime mortage, perubahan belum banyak terjadi sedangkan angka pengangguran juga terus naik.
“Akibat kedua kawasan ini melambat pertumbuhannya, impor mereka juga menurun. Negara yang paling terkena imbas adalah China yang 70 persen perekonomiannya ditopang ekspor. Mayoritas ekspornya ke kedua kawasan tadi,” tambahnya.
HT membandingkan dengan Indonesia. Dengan jumlah penduduk ketiga terbesar di Asia, Indonesia memiliki penduduk usia produktif sekitar 70 persen atau sekitar 150 juta jiwa. Daya beli penduduk usia produktif juga tinggi sehingga tingkat konsumsi pun tinggi.
Hal ini akan mendorong tingginya produktivitas industri. Sementara angka pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi sangat rendah.
“Basis ekonomi kita 63 persen adalah konsumsi, di mana 65 persennya digerakkan oleh private sector. Inflasi di Indonesia juga sangat rendah sehingga daya beli tinggi tetap dapat dipertahankan,” papar HT.
Di samping itu, sumber daya alam Bangsa Indonesia masih sangat besar, baik perikanan, pertambangan, pertanian, maupun lainnya. Keadaan ini membuat perbedaan dan daya kompetisi yang tinggi karena masih banyak yang bisa diberdayakan secara maksimal.
Saat ini belum terjadi pemanfaatan secara optimal yang dapat menyejahterakan rakyat secara luas. ”Faktor-faktor inilah yang membuat saya sangat optimistis mengajak para profesional serta wiraswasta Indonesia di Singapura dan luar negeri untuk kembali ke Indonesia. Indonesia adalah negara yang memiliki peluang besar untuk maju. Kita membutuhkan orang-orang Indonesia berkualitas di luar negeri untuk ikut membenahi dan memperbaiki bangsa,” tandasnya.
Sementara itu, Partai NasDem saat ini sudah memiliki perwakilan di Singapura dan Malaysia.
Sekjen Partai Nas- Dem Ahmad Rofiq mengungkapkan, pihaknya membuka cabang dan membentuk kepengurusan di kedua negara tersebut agar bisa lebih dekat dengan masyarakat Indonesia di perantauan dan mengakomodasi aspirasi mereka.
NasDem juga memberi perhatian tinggi terhadap para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di sana.“Dengan perwakilan di Singapura dan Malaysia, aspirasi dan kepentingan para WNI terutama TKI dapat tersalurkan dengan cepat dan penuh keberpihakan. Para TKI adalah subjek perubahan juga,” katanya.
Peresmian kepengurusan perwakilan Partai NasDem di Malaysia dan Singapura dilaksanakan pada Juni 2012.
Ketua Liga Mahasiswa NasDem Willy Aditya menyatakan, pihaknya akan terus menggerakkan generasi muda melalui berbagai program berbasis belajar. Di antaranya pelatihan pendidikan teknik paralegal bagi mahasiswa hukum dari berbagai universitas yang digelar pada Mei 2012 lalu.
“Intinya, kaum muda perlu peningkatan kapasitas agar benar-benar mampu menjadi profesional,” kata Willy. Dia menekankan, NasDem akan terus menggelar pelatihan serupa untuk mendekatkan mahasiswa pada dunia praktis yang berbasis pada kemampuan dan kapasitas.
Hal ini diungkapkan CEO Media Nusantara Citra (MNC) Group yang juga Ketua Dewan Pakar Partai NasDem Hary Tanoesoedibjo (HT) saat menjadi pembicara utama dalam “Dialog Tokoh Nasional” di hadapan ratusan profesional Indonesia di Kedutaan Besar RI di Singapura, Sabtu 14 Juli 2012.
Kegiatan bertema “Kesempatan dan Tantangan Profesional untuk Menjadi Wirausaha” ini digelar oleh Indonesian Professionals Association (IPA), KBRI Singapura, dan Komunitas Rajawali 7.
Lebih lanjut HT mengatakan, korupsi dan kepastian hukum selama ini selalu disebut sebagai titik lemah Bangsa Indonesia. Hal ini memang bisa membuat banyak pihak frustrasi untuk berusaha di Indonesia. Namun, kondisi ini seharusnya dijadikan tantangan untuk membenahi bangsa.
“Kita sudah mengetahui mana saja yang harus diperbaiki. Dengan begitu, peluang Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar sangat terbuka,” ujar HT. Dia mengungkapkan, kelemahan lain Indonesia yang sebenarnya bisa menjadi potensi adalah kualitas sumber daya manusia. Lebih dari 50 persen penduduk masih berpendidikan setingkat sekolah dasar (SD).
Jumlah usia produktif yang tinggi tidak didukung aspek kualitas yang baik pula. Indonesia, kata HT, juga memiliki kelemahan di bidang infrastruktur. Hal ini menjadi salah satu faktor penghambat pertumbuhan ekonomi.
“Tapi dari sisi lain, kelemahan infrastruktur ini membuat peluang di bidang tersebut menjadi sangat besar. Bangsa kita membutuhkan investasi yang besar di bidang infrastruktur. Melihat kondisi ekonomi saat ini, peluang terbesar investor dunia ada di Indonesia,” ungkapnya.
Dengan berbagai kelemahan yang bisa diubah menjadi potensi ini, HT mendorong dan mengajak para profesional dan wiraswasta Indonesia di Singapura dan di negara lain untuk pulang membangun negara dan bangsa.
Di sini mereka bisa tetap menjalankan kiprahnya sebagai profesional maupun sebagai pengusaha. Dia memaparkan, selama ini sangat banyak profesional bahkan pengusaha Indonesia yang bertahan dan berinvestasi di Singapura.
Padahal Indonesia saat ini negara yang paling berprospek di dunia. Indonesia juga merupakan negara di kawasan Asia yang paling siap karena perekonomiannya bersandar pada perekonomian lokal, bukan ekspor.
Seperti diketahui, kawasan Asia adalah kawasan yang perekonomiannya paling maju di dunia. Terlebih, saat ini kawasan Eropa dan Amerika sedang dirundung krisis ekonomi.
Menurut Hary, Eropa mengalami krisis karena beban utang sudah mencapai 70 persen dibanding gross domestic product (GDP). Sementara usia masyarakat relatif 65 tahun ke atas. Akibatnya, biaya untuk tunjangan kalangan usia tua sangat tinggi, sementara kontribusi pajak hanya 35 persen.
“GDP negara-negara Eropa 50 persen didukung anggaran negara. Jadi tidak akan ada perbaikan dalam jangka pendek sehingga pertumbuhan juga akan terus turun,” ungkap pria yang sukses mengembangkan kerajaan bisnis media menjadi terbesar di Asia Tenggara hanya dalam kurun waktu sepuluh tahun ini.
Di sisi lain, negara dengan perekonomian terdepan, Amerika Serikat (AS) juga mengalami hal yang sama. Setelah krisis akibat subprime mortage, perubahan belum banyak terjadi sedangkan angka pengangguran juga terus naik.
“Akibat kedua kawasan ini melambat pertumbuhannya, impor mereka juga menurun. Negara yang paling terkena imbas adalah China yang 70 persen perekonomiannya ditopang ekspor. Mayoritas ekspornya ke kedua kawasan tadi,” tambahnya.
HT membandingkan dengan Indonesia. Dengan jumlah penduduk ketiga terbesar di Asia, Indonesia memiliki penduduk usia produktif sekitar 70 persen atau sekitar 150 juta jiwa. Daya beli penduduk usia produktif juga tinggi sehingga tingkat konsumsi pun tinggi.
Hal ini akan mendorong tingginya produktivitas industri. Sementara angka pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi sangat rendah.
“Basis ekonomi kita 63 persen adalah konsumsi, di mana 65 persennya digerakkan oleh private sector. Inflasi di Indonesia juga sangat rendah sehingga daya beli tinggi tetap dapat dipertahankan,” papar HT.
Di samping itu, sumber daya alam Bangsa Indonesia masih sangat besar, baik perikanan, pertambangan, pertanian, maupun lainnya. Keadaan ini membuat perbedaan dan daya kompetisi yang tinggi karena masih banyak yang bisa diberdayakan secara maksimal.
Saat ini belum terjadi pemanfaatan secara optimal yang dapat menyejahterakan rakyat secara luas. ”Faktor-faktor inilah yang membuat saya sangat optimistis mengajak para profesional serta wiraswasta Indonesia di Singapura dan luar negeri untuk kembali ke Indonesia. Indonesia adalah negara yang memiliki peluang besar untuk maju. Kita membutuhkan orang-orang Indonesia berkualitas di luar negeri untuk ikut membenahi dan memperbaiki bangsa,” tandasnya.
Sementara itu, Partai NasDem saat ini sudah memiliki perwakilan di Singapura dan Malaysia.
Sekjen Partai Nas- Dem Ahmad Rofiq mengungkapkan, pihaknya membuka cabang dan membentuk kepengurusan di kedua negara tersebut agar bisa lebih dekat dengan masyarakat Indonesia di perantauan dan mengakomodasi aspirasi mereka.
NasDem juga memberi perhatian tinggi terhadap para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di sana.“Dengan perwakilan di Singapura dan Malaysia, aspirasi dan kepentingan para WNI terutama TKI dapat tersalurkan dengan cepat dan penuh keberpihakan. Para TKI adalah subjek perubahan juga,” katanya.
Peresmian kepengurusan perwakilan Partai NasDem di Malaysia dan Singapura dilaksanakan pada Juni 2012.
Ketua Liga Mahasiswa NasDem Willy Aditya menyatakan, pihaknya akan terus menggerakkan generasi muda melalui berbagai program berbasis belajar. Di antaranya pelatihan pendidikan teknik paralegal bagi mahasiswa hukum dari berbagai universitas yang digelar pada Mei 2012 lalu.
“Intinya, kaum muda perlu peningkatan kapasitas agar benar-benar mampu menjadi profesional,” kata Willy. Dia menekankan, NasDem akan terus menggelar pelatihan serupa untuk mendekatkan mahasiswa pada dunia praktis yang berbasis pada kemampuan dan kapasitas.
(lns)