5 teroris Bali tidak mesti ditembak
Senin, 19 Maret 2012 - 11:58 WIB
5 teroris Bali tidak mesti ditembak
A
A
A
Sindonews.com - Petugas Densus 88 menembak mati lima orang terduga teroris yang akan beraksi di Bali, Minggu 18 Maret 2012. Kelima kawanan itu ditembak di dua lokasi terpisah.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Ansyad Mbai menyatakan, lima orang tersebut idealnya tidak ditembak mati. Tapi ditangkap hidup-hidup. Karena kondisi lapangan yang sudah tidak memungkinkan, akhirnya Densus 88 melumpuhkan mereka.
"Tidak harus. Idealnya, penjahat ditangkap hidup-hidup. Tapi kondisi ideal itu tidak selamanya hadir di lapangan," ujar Ansyad di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (19/3/2012).
Lanjut Ansyad, petugas ketika berhadapan dengan lima orang tersebut sudah tidak aman, pasalnya mereka sudah sangat membahayakan. "Ketika berhadapan dengan itu sudah tak normal lagi. Itu namanya kondisi darurat," terangnya.
Lima orang yang ketangkap tersebut, tambah Ansyad, membawa senjata api dan dianggap sudah membahayakan bagi petugas Densus 88 yang akan melakukan penangkapan sehingga diambil tindakan lebih cepat untuk menggagalkan aksinya. "Orang kalau sudah pegang senjata, dia penjahat sudah jelas melawan," tukasnya.
Kelima orang yang tewas di lokasi masing-masing HN (32) asal Bandung, AG (30) Jimbaran, Bali. Keduanya petugas ditembak di Jalan Gunung Soputan, Denpasar. Sedangkan tiga lainnya, pria bernisial DD (27) asal Jabar, UH alias kapten dan M alias Abu Hanif (30) asal Makassar. (san)
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Ansyad Mbai menyatakan, lima orang tersebut idealnya tidak ditembak mati. Tapi ditangkap hidup-hidup. Karena kondisi lapangan yang sudah tidak memungkinkan, akhirnya Densus 88 melumpuhkan mereka.
"Tidak harus. Idealnya, penjahat ditangkap hidup-hidup. Tapi kondisi ideal itu tidak selamanya hadir di lapangan," ujar Ansyad di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (19/3/2012).
Lanjut Ansyad, petugas ketika berhadapan dengan lima orang tersebut sudah tidak aman, pasalnya mereka sudah sangat membahayakan. "Ketika berhadapan dengan itu sudah tak normal lagi. Itu namanya kondisi darurat," terangnya.
Lima orang yang ketangkap tersebut, tambah Ansyad, membawa senjata api dan dianggap sudah membahayakan bagi petugas Densus 88 yang akan melakukan penangkapan sehingga diambil tindakan lebih cepat untuk menggagalkan aksinya. "Orang kalau sudah pegang senjata, dia penjahat sudah jelas melawan," tukasnya.
Kelima orang yang tewas di lokasi masing-masing HN (32) asal Bandung, AG (30) Jimbaran, Bali. Keduanya petugas ditembak di Jalan Gunung Soputan, Denpasar. Sedangkan tiga lainnya, pria bernisial DD (27) asal Jabar, UH alias kapten dan M alias Abu Hanif (30) asal Makassar. (san)
()