Bursa calon presiden, publik menunggu figur baru

Jum'at, 09 Maret 2012 - 08:45 WIB
Bursa calon presiden,...
Bursa calon presiden, publik menunggu figur baru
A A A
Sindonews.com – Tokoh sentral di partai politik seperti ketua umum atau ketua dewan pembina diminta tidak mendominasi peluang dalam penjaringan calon presiden (capres).

Mereka harus membuka kesempatan dan peluang bagi kader potensialnya untuk mengikuti uji publik sebagai kandidat capres.

“Ketua umum atau ketua dewan pembina di beberapa partai kita tahu sepertinya mereka itulah yang paling berhak dicalonkan. Mereka tidak boleh mendominasi itu agar publik lebih leluasa dalam melakukan semacam uji kompetensi,” kata pengamat politik dari Universitas Parahyangan Asep Warlan Yusuf kepada SINDO kemarin.

Menurut Asep, partai sebenarnya cukup mulia sebagai pilar demokrasi yang diamanatkan konstitusi sebagai pengusung pasangan calon dalam pilpres. Namun,hal itu tidak boleh ditafsirkan bahwa yang mereka usung haruslah orang partai atau lebih radikal lagi harus tokoh sentral partai.

“Partai itu meneropong dan menjaring siapa pun anak bangsa yang patut dan layak serta kompeten dan kapabel untuk memimpin Indonesia ke depan. Mereka yang menyaring anak bangsa itu kemudian biar publik yang mengujinya,” ujarnya.

Jika tidak ada semacam uji publik, lanjut dia, dikhawatirkan figur yang diusung parpol itu jauh dari harapan publik. Jika itu yang terjadi, kata dia, konsekuensinya kepercayaan publik terhadap partai akan terus menurun dan legitimasinya akan semakin kecil.

“Karena itu, mereka para tokoh sentral partai legawa-lah, tunjukkan kenegarawanannya untuk bertanya siapa sih figur yang dikehendaki publik,” ujarnya.
Dia menyarankan, partai-partai itu bisa menjaring minimal lima tokoh baik internal maupun eksternal partai untuk dimunculkan ke publik agar dinilai.

“Jadi ada semacam fit and proper test dulu sebelum partai menentukan calonnya. Jangan itu dikuasai ketua umum atau tokoh sentralnya. Tidak demokratis itu namanya,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua DPP PDIP Bidang Pemuda dan Olahraga Maruarar Sirait mengatakan, munculnya nama Mega sebagai capres itu datang dari warga PDIP. Dia memastikan bahwa PDIP tidak melakukan rekayasa atau upaya memaksakan kehendak atas pencapresan ketua umum.

“Dan yang patut dilihat adalah beliau saat ini dalam berbagai survei berada di posisi paling atas meskipun partai belum menetapkan soal capres. Itu artinya bahwa Ibu Mega masih didukung arus bawah,” ungkapnya.

Ketua Umum DPP Partai Nasional Demokrat (NasDem) Patrice Rio Capella mengatakan, potret yang disuguhkan oleh lembaga survei belakangan ini harus menjadi sarana introspeksi oleh parpol.

Sebab, kata dia, tokoh-tokoh yang muncul dalam wacana pencapresan sangat rendah elektabilitasnya.

“Itu kan menggambarkan bahwa mayoritas publik itu butuh figur baru. Publik sedang menunggu wajah baru dengan pemikiran dan gagasan baru,” katanya. Sayangnya, kata dia,parpol saat ini kurang merespons kondisi itu.(lin)
()
Berita Terkini
Yusril Tegaskan Abdul...
Yusril Tegaskan Abdul Karim Bukan Ulama dan Aktivis Kemanusiaan Gaza
Soal Peluang Periksa...
Soal Peluang Periksa Nanik S Deyang di Kasus MBG, Kejagung: Minggu Ini Belum Ada Jadwal
Yusril Berkunjung ke...
Yusril Berkunjung ke MUI Malam Ini, Jelaskan Penangkapan WNA Palestina Abdul Karim Raeq Miqdad
KPK Panggil 4 Tersangka...
KPK Panggil 4 Tersangka Kasus Suap Dana Hibah Jatim
Pakar Minta Polisi Objektif...
Pakar Minta Polisi Objektif Usut Dugaan Penghinaan Terhadap Jurnalis
Penanganan Dugaan Kasus...
Penanganan Dugaan Kasus Febrie Adriansyah Jadi Ujian Independensi Penegak Hukum
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved