Banyak aral bagi Sri Mulyani menuju RI 1
Minggu, 13 November 2011 - 11:36 WIB
Banyak aral bagi Sri Mulyani menuju RI 1
A
A
A
Sindonews.com - Sri Mulyani digadang-gadang Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) akan dikandidatkan sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2014. Namun jalan Managing Director World Bank itu tidak akan mulus. Banyak aral yang akan dilalui oleh wanita yang kerap dipanggil Bu Ani ini.
Apakah aral yang akan merintangi Sri Mulyani?
Pengamat politik dari Charta Politika Arya Fernandes menyebut salah satu aral yang dihadapi Ani berasal dari partai yang akan mengusungnya, yakni Partai SRI. Partai ini sendiri saat ini belum lolos verifikasi Kementerian Hukum dan HAM.
"Saya kira partai SRI harus penuhi verifikasi dulu di Kemenkum HAM. Gagasan itu irasional, kecuali dia sudah dapat verifikasi baru mengusung calon RI 1," kata Arya saat berbincang dengan Okezone, Sabtu 12 November 2011 malam.
Sejumlah kelengkapan administrasi yang belum rampung, plus belum matangnya strategi, menjadi faktor utama penyebabnya. "Infrastruktur partai saja masih proses dan belum selesai, belum lagi jaringan dan struktur kelembagaan, kaderisasi juga, masih proses semua," tambahnya.
Oleh karena itu Arya menilai Partai SRI masih "hijau" untuk membawa Sri Mulyani bertarung di Pilpres 2014. Arya pesimistis dengan Partai SRI untuk maju dalam pertarungan ini. Karena Partai SRI juga harus terlebih dahulu lolos parliamentary threshold.
Mengacu pada Undang-undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, hanya partai politik atau gabungan partai politik yang memenuhi persyaratan perolehan suara pada Pemilu anggota DPR sekurang-kurangnya tiga persen dari jumlah kursi DPR atau lima persen dari perolehan suara sah secara nasional hasil pemilu.
"Parpol ini kan masih dalam proses, untuk mendapatkan 5-10 persen suara dari hasil pemilu itu sulit. Melihat pengalaman dari Gerindra dan Hanura saja. Mereka saja sangat susah mendapatkan di atas 5 persen," kata Arya.
Jika Partai SRI ngotot untuk mengusung Sri Mulyani, maka perlu adanya jalinan koalisi dengan parpol lain guna memenuhi syarat mengikuti persaingan dalam pilpres nanti.
"Saya rasa juga partai ini harus koalisi dengan parpol lain untuk memenuhi akumulasi 20 persen untuk perolehan kursi di DPR," jelasnya.
Aral lain diungkap oleh Pengamat Komunikasi Politik Universitas Padjajaran (Unpad) Deddy Mulyana. Menurutnya, Sri Mulyani belum pantas untuk menjadi presiden pada lantaran masih memiliki citra negatif dalam dirinya, yakni kasus dana talangan Bank Century.
"Masyarakat kan belum lupa dengan Century," katanya saat berbincang dengan Okezone, Sabtu 12 November 2011 malam.
Sri Mulyani juga sulit menempati kursi RI 1 jika tidak kembali ke Indonesia. Alasannya, jika Sri masih berada di luar negeri dan tak melakukan publikasi apapun, dinilai sangat sulit mendapat simpati dari masyarakat.
"Karena dia di luar negeri, proximity-nya tidak ada. Faktor kedekatan itu penting untuk citra juga, selain di luar juga susah untuk publikasi," katanya.
Sehingga Arya menganggap pencalonan Sri Mulyani sebagai capres 2014 merupakan hal yang aneh dan tidak masuk akal. Gagasan pengusungan Sri Mulyani sebagai capres 2014 sah-sah saja dilontarkan.
Namun, dia menekankan, sebuah gagasan yang dilontarkan haruslah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. "Untuk ide itu sah saja, tapi gagasannya harus rasional lah," cetusnya.
Dikatakan Arya, pengusungan Sri Mulyani bahkan bisa dianggap sebuah lelucon. Pencalonan mantan Menteri Keuangan itu dianggap tak akan memberikan implikasi positif bagi partainya sendiri.
"Ini gaung yang tak membawa implikasi sama sekali. Partai Besar pasti menertawakan hal ini. Belum lulus verifikasi tapi ujug-ujug nyalonin RI 1," katanya.
Pilpres 2014 sepertinya belum menjadi momentum yang tepat bagi mantan Menteri Keuangan itu untuk menjadi presiden. Deddy menganggap saat ini, pencalonan dirinya oleh partai SRI sebagai ajang uji coba semata.
"Bisa jadi dia (Sri Mulyani) test on the water, ngetes diri sendiri," katanya.
Sri baru bisa eksis dalam bursa pilpres berikutnya. "Kalau 2019 mungkin iya," tutupnya.
Apakah aral yang akan merintangi Sri Mulyani?
Pengamat politik dari Charta Politika Arya Fernandes menyebut salah satu aral yang dihadapi Ani berasal dari partai yang akan mengusungnya, yakni Partai SRI. Partai ini sendiri saat ini belum lolos verifikasi Kementerian Hukum dan HAM.
"Saya kira partai SRI harus penuhi verifikasi dulu di Kemenkum HAM. Gagasan itu irasional, kecuali dia sudah dapat verifikasi baru mengusung calon RI 1," kata Arya saat berbincang dengan Okezone, Sabtu 12 November 2011 malam.
Sejumlah kelengkapan administrasi yang belum rampung, plus belum matangnya strategi, menjadi faktor utama penyebabnya. "Infrastruktur partai saja masih proses dan belum selesai, belum lagi jaringan dan struktur kelembagaan, kaderisasi juga, masih proses semua," tambahnya.
Oleh karena itu Arya menilai Partai SRI masih "hijau" untuk membawa Sri Mulyani bertarung di Pilpres 2014. Arya pesimistis dengan Partai SRI untuk maju dalam pertarungan ini. Karena Partai SRI juga harus terlebih dahulu lolos parliamentary threshold.
Mengacu pada Undang-undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, hanya partai politik atau gabungan partai politik yang memenuhi persyaratan perolehan suara pada Pemilu anggota DPR sekurang-kurangnya tiga persen dari jumlah kursi DPR atau lima persen dari perolehan suara sah secara nasional hasil pemilu.
"Parpol ini kan masih dalam proses, untuk mendapatkan 5-10 persen suara dari hasil pemilu itu sulit. Melihat pengalaman dari Gerindra dan Hanura saja. Mereka saja sangat susah mendapatkan di atas 5 persen," kata Arya.
Jika Partai SRI ngotot untuk mengusung Sri Mulyani, maka perlu adanya jalinan koalisi dengan parpol lain guna memenuhi syarat mengikuti persaingan dalam pilpres nanti.
"Saya rasa juga partai ini harus koalisi dengan parpol lain untuk memenuhi akumulasi 20 persen untuk perolehan kursi di DPR," jelasnya.
Aral lain diungkap oleh Pengamat Komunikasi Politik Universitas Padjajaran (Unpad) Deddy Mulyana. Menurutnya, Sri Mulyani belum pantas untuk menjadi presiden pada lantaran masih memiliki citra negatif dalam dirinya, yakni kasus dana talangan Bank Century.
"Masyarakat kan belum lupa dengan Century," katanya saat berbincang dengan Okezone, Sabtu 12 November 2011 malam.
Sri Mulyani juga sulit menempati kursi RI 1 jika tidak kembali ke Indonesia. Alasannya, jika Sri masih berada di luar negeri dan tak melakukan publikasi apapun, dinilai sangat sulit mendapat simpati dari masyarakat.
"Karena dia di luar negeri, proximity-nya tidak ada. Faktor kedekatan itu penting untuk citra juga, selain di luar juga susah untuk publikasi," katanya.
Sehingga Arya menganggap pencalonan Sri Mulyani sebagai capres 2014 merupakan hal yang aneh dan tidak masuk akal. Gagasan pengusungan Sri Mulyani sebagai capres 2014 sah-sah saja dilontarkan.
Namun, dia menekankan, sebuah gagasan yang dilontarkan haruslah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. "Untuk ide itu sah saja, tapi gagasannya harus rasional lah," cetusnya.
Dikatakan Arya, pengusungan Sri Mulyani bahkan bisa dianggap sebuah lelucon. Pencalonan mantan Menteri Keuangan itu dianggap tak akan memberikan implikasi positif bagi partainya sendiri.
"Ini gaung yang tak membawa implikasi sama sekali. Partai Besar pasti menertawakan hal ini. Belum lulus verifikasi tapi ujug-ujug nyalonin RI 1," katanya.
Pilpres 2014 sepertinya belum menjadi momentum yang tepat bagi mantan Menteri Keuangan itu untuk menjadi presiden. Deddy menganggap saat ini, pencalonan dirinya oleh partai SRI sebagai ajang uji coba semata.
"Bisa jadi dia (Sri Mulyani) test on the water, ngetes diri sendiri," katanya.
Sri baru bisa eksis dalam bursa pilpres berikutnya. "Kalau 2019 mungkin iya," tutupnya.
()