Pengamat: Pemerintah Sepertinya Melempar Handuk

Selasa, 31 Maret 2020 - 11:35 WIB
Pengamat: Pemerintah...
Pengamat: Pemerintah Sepertinya Melempar Handuk
A A A
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSSB) disertai darurat sipil dalam meredam penyebaran virus Sars Cov-II. Kebijakan ini langsung memancing pro dan kontra karena belum dijelaskan aturan turunannya.

Pengamat kebijakan publik Universitas Trisakti Trubus Rahardiansyah mengatakan, langkah pemerintah mengambil pembatasan sosial berskala besar karena anggaran untuk melakukan karantina wilayah atau lockdown tidak mencukupi.

"Ini pemerintah sepertinya melempar handuk. Kalau karantina wilayah, sesuai UU Nomor 6 Tahun 2018 (pemerintah) bertanggung jawab atas kebutuhan dasar (masyarakat) dan ternak-ternak harus dikasih makan. Ini tentu pemerintah berat," ujarnya.

Trubus juga mengatakan, seharusnya pemerintah menetapkan dulu status kedaruratan kesehatan sebelum menerapkan PSSB. Hal itu tercantum pada Pasal 59 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Namun, Jokowi memilih langsung melakukan pendisiplinan nasional yang akan disertai darurat sipil.

"Ini maksudnya penegakan hukum dan didampingi darurat sipil. Karena situasi yang dipilih seperti itu, ini membingungkan publik. Masuknya bagaimana? Karena apa pembatasan sosial berskala besar, kita harusnya menyatakan dulu dalam keadaan darurat nasional. Ini tidak. Karena mau pendisiplinan nasional harus ada aturan hukumnya, regulasinya harus dikeluarkan," terangnya saat dihubungi SINDOnews, Selasa (31/3/2020).

Dia mengakui, aturan ini penting untuk aparat keamanan di lapangan dalam bertindak terhadap masyarakat yang masih melanggar kebijakan ini. Pemerintah harus membuat aturan mengenai sanksi, bisa pidana atau denda. Namun, Trubus menyarankan agar sanksinya tidak berbentuk pidana, tapi cukup administrasi.

"Sanksi administrasi dan denda. Jangan sanksi pidana. Kalau administrasi, diambil KTP dan SIM, kalau enggak, bayar denda Rp1 juta. Kalau diproses hukum, nanti penjara kita penuh. Kalau ada satu yang corona, penjara bunuh diri," tutur Trubus. (Baca juga: Publik Butuh Kejelasan Tindakan Pemerintah Meredam Covid-19 ).

Ia juga mengkritik rencana darurat sipil. Dalam Pasal 1 ayat 1 UU Nomor 23 Tahun 1959 tentang Penetapan Keadaan Bahaya, dilakukan apabila ada pemberontak, kerusuhan-kerusuhan, dan bencana alam. Masalahnya, yang dihadapi Indonesia saat ini adalah wabah penyebaran virus Covid-19. Namun, dia mengatakan, Presiden mempunyai kewenangan untuk menetapkan keadaan bahaya. Ini termaktub dalam Pasal 12 Undang-Undang Dasar 1945.
(zik)
Berita Terkait
DPR Sebut Karantina...
DPR Sebut Karantina Zona Merah Boleh Asal Dilakukan dengan Tegas
Jalani Karantina Wilayah...
Jalani Karantina Wilayah Corona, Warga Tulungagung Dikucilkan
Kota Bekasi Berlakukan...
Kota Bekasi Berlakukan Karantina Tingkat RT dan RW
Basmi Corona, Water...
Basmi Corona, Water Canon Semprot Perumahan di Bubulak Bogor
Cegah Corona, RW 08...
Cegah Corona, RW 08 Srengseng Lakukan Karantina Wilayah
Empat Pemain Arsenal...
Empat Pemain Arsenal Terobos Aturan Karantina Wilayah
Berita Terkini
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
ASPEK Indonesia Temui...
ASPEK Indonesia Temui Pimpinan UNI Global Union di Jenewa
Infografis
Pemerintah Tetapkan...
Pemerintah Tetapkan 25 Hari Libur dan Cuti Bersama di Tahun 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved