Guru Agama Berperan Penting Bentengi Anak dari Paham Negatif
Kamis, 31 Oktober 2019 - 19:20 WIB
Guru Agama Berperan Penting Bentengi Anak dari Paham Negatif
A
A
A
JAKARTA - Penyebaran paham radikal disebut sudah menyasar ke setiap lapisan masyarakat, termasuk dunia pendidkan.
Oleh karena itu, para pendidik terutama guru agama memiliki peran vital untuk membentengi anak didik agar tidak terpapar radikalisme. Terutama menyikapi berbagai upaya kelompok radikal yang selalu melakukan upaya pecah belah bangsa dengan membenturkan agama dan kebangsaan.
“Menjadi sangat penting peran bapak ibu guru agama untuk memberikan pengajaran dan pemahaman agama yang benar tentang berbagai upaya penyesatan oleh kelompok radikal seperti membandingkan Pancasila dengan simbol agama,” kata Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Hamli saat berbicara dalam dialog bertajuk Harmonisasi dari Sekolah: Integrasi Nilai-Nilai Agama dan Budaya di Sekolah dalam Menumbuhkan Harmoni Kebangsaan, di Semarang, Jawa Tengah, Rabu 30 Oktober 2019.
Untuk itu, Hamli menilai perlu dilakukan integrasi nilai-nilai agama dan budaya di sekolah dalam upaya menumbuhkan harmoni kebangsaan menghadapi radikalisme.
Selain itu, kata dia, metode pengajaran materi pendidikan agama kepada siswa lebih ditingkatkan agar mereka memahami agamanya dengan baik serta menumbuhkan rasa toleransi terhadap sesama.
Para anak didik juga terus diberikan pemahaman bahwa Indonesia adalah negara perjanjian yang terdiri atas berbagai macam agama dan etnis.
Selain itu, sambung Hamli, anak didik juga harus dijauhkan dari berbagai hal yang berbau radikalisme. Ini penting sudah banyak fakta masuknya radikalisme ini ke sekolah seperti melalui buku pelajaran maupun dari para guru.
Dia mengungkapkan jenis-jenis radikalisme semakin bertambah banyak, meski ukurannya mengecil. Namun demikian, ajaran mereka tetap sama, yaitu menghalalkan kekerasan. Bahkan mereka juga tidak peduli agama apapun. Kalau dianggap berbeda, semua harus dihancurkan.
Hamli juga menggarisbawahi beberapa kasus terorisme di Indonesia. Seperti kasus bom Surabaya yang melibatkan satu keluarga bapak, ibu, dan anak melakukan bom bunuh diri di tiga gereja. Juga kasus bom Sibolga, di mana seorang perempuan terduga teroris meledakkan diri bersama anaknya.
Karena itulah, Hamli meminta masyarakat tidak mempercayai propaganda yang mengaitkan terorisme dengan Islam.
Dia menegaskan terorisme bukan ajaran Islam dan bisa dilakukan oleh semua penganut agama. Dia memberikan contoh teror penyerangan dua buah masjid di Selandia Baru yang memakan 51 korban jiwa dan di Norwegia dilakukan oleh bukan orang Islam. Juga kasus teror gas di kereta bawah tanah di Jepang.
“Terorisme faktanya menyakiti semua agama, tapi bukan agamanya, melainkan orang yang menganut agama itu. Jadi tidak bisa distigmasikan pada satu agama,” tutur Hamli.
Dialog bertajuk Harmonisasi dari Sekolah: Integrasi Nilai-Nilai Agama dan Budaya di Sekolah dalam Menumbuhkan Harmoni Kebangsaan digelar BNPT bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Jawa Tengah (Jateng).
Acara ini juga menghadirkan Dekan Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo Semarang, Prof Dr Syamsul Ma’arif juga dihadiri Kepala Kesbangpol Kota Semarang Abdul Haris dan Ketua FKPT Jateng Budiyanto.
Oleh karena itu, para pendidik terutama guru agama memiliki peran vital untuk membentengi anak didik agar tidak terpapar radikalisme. Terutama menyikapi berbagai upaya kelompok radikal yang selalu melakukan upaya pecah belah bangsa dengan membenturkan agama dan kebangsaan.
“Menjadi sangat penting peran bapak ibu guru agama untuk memberikan pengajaran dan pemahaman agama yang benar tentang berbagai upaya penyesatan oleh kelompok radikal seperti membandingkan Pancasila dengan simbol agama,” kata Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Hamli saat berbicara dalam dialog bertajuk Harmonisasi dari Sekolah: Integrasi Nilai-Nilai Agama dan Budaya di Sekolah dalam Menumbuhkan Harmoni Kebangsaan, di Semarang, Jawa Tengah, Rabu 30 Oktober 2019.
Untuk itu, Hamli menilai perlu dilakukan integrasi nilai-nilai agama dan budaya di sekolah dalam upaya menumbuhkan harmoni kebangsaan menghadapi radikalisme.
Selain itu, kata dia, metode pengajaran materi pendidikan agama kepada siswa lebih ditingkatkan agar mereka memahami agamanya dengan baik serta menumbuhkan rasa toleransi terhadap sesama.
Para anak didik juga terus diberikan pemahaman bahwa Indonesia adalah negara perjanjian yang terdiri atas berbagai macam agama dan etnis.
Selain itu, sambung Hamli, anak didik juga harus dijauhkan dari berbagai hal yang berbau radikalisme. Ini penting sudah banyak fakta masuknya radikalisme ini ke sekolah seperti melalui buku pelajaran maupun dari para guru.
Dia mengungkapkan jenis-jenis radikalisme semakin bertambah banyak, meski ukurannya mengecil. Namun demikian, ajaran mereka tetap sama, yaitu menghalalkan kekerasan. Bahkan mereka juga tidak peduli agama apapun. Kalau dianggap berbeda, semua harus dihancurkan.
Hamli juga menggarisbawahi beberapa kasus terorisme di Indonesia. Seperti kasus bom Surabaya yang melibatkan satu keluarga bapak, ibu, dan anak melakukan bom bunuh diri di tiga gereja. Juga kasus bom Sibolga, di mana seorang perempuan terduga teroris meledakkan diri bersama anaknya.
Karena itulah, Hamli meminta masyarakat tidak mempercayai propaganda yang mengaitkan terorisme dengan Islam.
Dia menegaskan terorisme bukan ajaran Islam dan bisa dilakukan oleh semua penganut agama. Dia memberikan contoh teror penyerangan dua buah masjid di Selandia Baru yang memakan 51 korban jiwa dan di Norwegia dilakukan oleh bukan orang Islam. Juga kasus teror gas di kereta bawah tanah di Jepang.
“Terorisme faktanya menyakiti semua agama, tapi bukan agamanya, melainkan orang yang menganut agama itu. Jadi tidak bisa distigmasikan pada satu agama,” tutur Hamli.
Dialog bertajuk Harmonisasi dari Sekolah: Integrasi Nilai-Nilai Agama dan Budaya di Sekolah dalam Menumbuhkan Harmoni Kebangsaan digelar BNPT bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Jawa Tengah (Jateng).
Acara ini juga menghadirkan Dekan Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo Semarang, Prof Dr Syamsul Ma’arif juga dihadiri Kepala Kesbangpol Kota Semarang Abdul Haris dan Ketua FKPT Jateng Budiyanto.
(dam)