Keanekaragaman Hayati Jadi Program Prioritas Riset Nasional

Rabu, 30 Oktober 2019 - 09:52 WIB
Keanekaragaman Hayati...
Keanekaragaman Hayati Jadi Program Prioritas Riset Nasional
A A A
TANGERANG - Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa. Pemerintah pun memasukkan sumber daya hayati sebagai salah satu prioritas riset nasional 2020-2024.

Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek Ocky Karna Radjasa mengatakan, UU Sistem Nasional Iptek memberikan perlindungan bagi sumber daya hayati Indonesia. Dalam Program Riset Nasional 2020-2024, ada sembilan bidang fokus riset.

Di poin nomor sembilan ada program multidisiplin dan lintas sektoral. Di dalamnya ada lima topik dan salah satunya tentang biodiversitas. Dia menjelaskan, setelah masuk ke program prioritas riset, maka sumber daya hayati itu mendapat jaminan pendanaan riset. Pola pendanaannya untuk penelitian satu produk yang melibatkan multidisiplin.

"Jadi, sudah jelas biodiversitas akan menjadi primadona terkait dengan prioritas riset nasional 2020-2024," ungkap Ocky seusai seminar nasional "Pencegahan Pencurian Sumber Daya Hayati Indonesia' di Tangerang, Banten, kemarin.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kemaritiman dan Investasi Agung Kuswandono mengatakan, sumber daya hayati yang terkandung di Indonesia itu sangat kaya keberagamannya. Sumber dayanya pun sangat banyak dan jika diolah menjadi produk maka keanekaragaman hayati Indonesia akan dikenal ke seluruh dunia.

Dia mencontohkan, jika Korea dikenal dengan ginsengnya, maka Indonesia memiliki jahe, kencur, temulawak, dan tumbuhan lain yang bahkan memiliki khasiat lebih baik dari ginseng. "Negara kita kaya luar biasa. Mari sumber daya alam hayati kita dijaga. Buat menjadi icon negara kita," ujarnya.

Menurut Agung, sumber daya alam hayati di Indonesia adalah yang terbaik di dunia. Namun diperlukan langkah-langkah khusus untuk memberdayakan dan menjaganya. Agung pun berharap semakin banyak penelitian yang ditopang anggaran khusus untuk pengembangan sumber daya alam hayati itu.

Agung berharap, penelitian yang dilakukan itu bukan sekadar penelitian yang berhenti di skala lab saja. Melainkan, bisa dipakai untuk menyelesaikan permasalahan di Indonesia. Penelitian harus bisa didorong ke skala industri yang membutuhkan. "Bagaimana hasil penelitian bisa dimanifestasikan untuk industri baru yang bisa mengangkat kesejahteraan masyarakat. Tapi karena berhenti di skala lab, maka tidak bisa mengembangkan untuk buat industri baru," paparnya.

Karena itu, agar sumber daya hayati Indonesia bisa berkembang menjadi industri, maka harus ada identifikasi dan membuat database sehingga bisa terkumpul keanekaragaman hayati yang bisa menyejahterakan masyarakat. (Neneng Zubaidah)
(nfl)
Berita Terkait
25 Peneliti Ikut Pelatihan...
25 Peneliti Ikut Pelatihan dan Sertifikasi Peneliti Kuantitatif Internasional
Menristek Sampaikan...
Menristek Sampaikan Fokus Prioritas Riset Nasional pada Rakornas PRN
Pemerintah Perlu Benahi...
Pemerintah Perlu Benahi Ekosistem PeĀ­neĀ­litian di Dalam Negeri
Wakil Kepala BRIN Amarulla...
Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian Kukuhkan 4 Profesor Riset
Sajikan Sains dari Sudut...
Sajikan Sains dari Sudut Berbeda, SINDO Media Kunjungi Menristek
Didukung Dana Rp3 triliun,...
Didukung Dana Rp3 triliun, Program Riset Prioritas 2026 Diluncurkan
Berita Terkini
Eks Jampidsus Febrie...
Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Belum Selesai Diperiksa, 2 Mobil Tahanan Siaga di Kejagung
Pemeriksaan Febrie Adriansyah...
Pemeriksaan Febrie Adriansyah di Kejagung, Eks Penyidik KPK: Penahanan Penting agar Penyidikan Tak Diintervensi
Kritisi Rapat Pleno...
Kritisi Rapat Pleno IX AMPI, Wasekjen Leriadi: Produknya Cacat Hukum
Petani Tebu yang Belum...
Petani Tebu yang Belum Merdeka
Pemerintah Perkuat Pengelolaan...
Pemerintah Perkuat Pengelolaan Dana Lingkungan Hidup via BPDLH
Hormati Putusan MK,...
Hormati Putusan MK, Komdigi Siap Kaji Aturan Kuota Internet
Infografis
Profil Letjen TNI Robi...
Profil Letjen TNI Robi Herbawan, Ajudan Prabowo yang Jadi Kabais TNI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved