Kalangan Akademisi Diminta Ikut Waspadai Penyebaran Radikalisme

Rabu, 16 Oktober 2019 - 13:39 WIB
Kalangan Akademisi Diminta...
Kalangan Akademisi Diminta Ikut Waspadai Penyebaran Radikalisme
A A A
JAKARTA - Penangkapan seorang dosen salah satu perguruan tinggi yang menyembunyikan bom di rumahnya menjadi bukti penyebaran paham radikal terorisme tidak hanya menyasar kalangan mahasiswa, tetapi juga lingkungan dosen.

Bukan tidak mungkin infiltrasi paham dan jaringan kelompok radikal di kampus telah menyebar sedemikian massif. Oleh karena itu, upaya pencegahan secara komprehensif.

“Sekarang ini hampir semua elemen telah kena, polisi, TNI, dosen apalagi mahasiswa. Ini jangan sampai terjadi,” kata Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Hamli di Jakarta, Senin 14 Oktober 2019.

Upaya yang dilakukan pemerintah melalui BNPT ke beberapa kampus merupakan bagian dari progam kontra radikalisasi.

Program di kampus dilaksanakan bukan untuk menghakimi kampus tertentu, tetapi upaya mencegah dan melibatkan sivitas akademika yang belum terpapar paham radikal agar menangkal penyebarannya di kampus.

Seperti yang dilakukan BNPT melalui Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Sulawesi Selatan (Sulsel) pada giat Dialog Pelibatan Sivitas Academika Dalam Pencegahan Terorisme Melalui FKPT Sulawesi Selatan di IAIN Palopo, Kamis 10 Oktober lalu.

“IAIN Palopo tidak ada terorisme, namun kami menggelar acara di sini karena kami memang ingin mencegah. Lebih baik mencegah daripada mengobati atau sebelum terjadi, karena ada seorang dosen yang tertangkap karena membuat bom,” kata Hamli.

Karena itu, sambung dia, seluruh insan kampus harus mengetahui beberapa pola dan modus yang dilakukan oleh kelompok radikal dalam menyebarkan paham dan merekrut anggota baru di lingkungan kampus. Pola-pola yang digunakan bisa sangat beragam, tetapi hampir memiliki modus yang sama di beberapa kampus.

Dia mengungkapkan, ada beberapa jalur yang biasa mereka manfaatkan sebagai metode perekrutan anggota baru semisal kajian kerohanian yang tertutup dan mentoring keagamaan yang ekslusif.

Modus lainnya, kata dia, mereka juga menawarkan tempat tinggal dan kos gratis dengan syarat mengikuti kajian mereka, mendampingi mahasiswa baru dan mengarahkan pada kelompok diskusi tertentu.

Seluruh pola dan modus di atas, menurut Hamli, harus diwaspadai di semua level kebijakan kampus baik rektorat, UKM, maupun mahasiswa. Pihak kampus harus segera menyadari bahwa keberadaan kelompok ini adalah nyata di beberapa kampus dan apabila tidak diberikan penanganan khusus bisa berkembang dengan leluasa.
(dam)
Berita Terkait
Mahasiswa Gelar Aksi...
Mahasiswa Gelar Aksi Solidaritas Mengecam Terorisme
Konflik Berpotensi Jadi...
Konflik Berpotensi Jadi Pemicu Aksi Terorisme
Bos MI5: 31 Rencana...
Bos MI5: 31 Rencana Teror Tahap Akhir Digagalkan dalam 4 Tahun di Inggris
Resmi Ditahan, Munarman...
Resmi Ditahan, Munarman Kini Boleh Dikunjungi Kuasa Hukum
Cegah Terorisme, Masyarakat...
Cegah Terorisme, Masyarakat Harus Peka Lingkungan Sekitar
Moeldoko Minta Jangan...
Moeldoko Minta Jangan Pernah Lupakan Aksi Terorisme
Berita Terkini
Tepis Isu Menguntungkan...
Tepis Isu Menguntungkan Kapolri, Pakar: UU Polri Baru Berpihak pada Kepentingan Publik
Refly Harun Pertanyakan...
Refly Harun Pertanyakan Nasib Kasus Roy Suryo Cs: Sudah 30 Kali Wajib Lapor, Kasus Belum Jelas
Terungkap! Andri Mulyono...
Terungkap! Andri Mulyono Kongkalikong dengan PPK untuk Dapat Proyek Pengadaan Motor Listrik BGN
Kejagung Tetapkan Penyedia...
Kejagung Tetapkan Penyedia Motor Listrik MBG Andri Mulyono Jadi Tersangka
Stafsus Menag: Kunjungan...
Stafsus Menag: Kunjungan Presiden Jerman ke Istiqlal Perkuat Diplomasi Agama RI-Jerman
KPK Rincikan Penyitaan...
KPK Rincikan Penyitaan Uang dari Geledah Rumah Silmy Karim
Infografis
Libur Lebaran 28 Maret-1...
Libur Lebaran 28 Maret-1 April 2025, Waspadai Banjir Rob Jakarta
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved