Sikapi Aksi Demonstrasi, Pengamat: Kejelian Pemerintah dan Aparat Keamanan Diuji
Jum'at, 27 September 2019 - 13:09 WIB
Sikapi Aksi Demonstrasi, Pengamat: Kejelian Pemerintah dan Aparat Keamanan Diuji
A
A
A
JAKARTA - Direktur Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti menganggap gerakan massa yang masif dilakukan kalangan mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat bisa berimbas ke mana pun.
Terlebih, kata Ray, gerakan massa ini sampai jatuh korban meninggal dunia dan luka-luka dari kalangan mahasiswa dan pelajar.
"Tetapi belum tentu ada keterkaitannya. Atau bahkan tidak ada sama sekali. Di sini, kejelian pemerintah dan aparat keamanan diuji," ujar Ray kepada SINDOnews, Jumat (27/9/2019).
Ray berharap, pemerintah jangan sampai mencampuradukkan antara gerakan murni mahasiswa dengan gerakan-gerakan lain yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan tuntuan dan isu yang dibawa para demonstran.
Mantan Aktivis 98 asal UIN Jakarta ini menambahkan, pemerintah dan polisi baiknya belajar dari banyak peristiwa seperti ini. Menurutnya, mencoba mengait-kaitkan dua hal yang sama sekali berbeda itu, bukan hanya akan mengaburkan cara menyelesaikannya, namun malah berpotensi jadi makin membesar.
Ray juga berharap, pemerintah dan aparat keamanan menahan stigma apapun, apalagi misalnya menyebut analisa yang melampaui fakta lapangannya. Solusi yang elegan adalah mengundang mahasiswa berbicara, memikirkan ulang tuntutan mereka dengan mencari solusi yang tepat, serta disampaikan sejelas-jelasnya langkah pemerintah menyelamatkan agenda reformasi dan pemberantasan korupsi.
"Dengan mengajak mereka dialog, selain berpotensi menurunkan tensi protes mahasiswa, juga sekaligus mencegah dan memisahkan gerakan politik di luar agenda dan tuntutan mahasiswa," tandasnya.
Terlebih, kata Ray, gerakan massa ini sampai jatuh korban meninggal dunia dan luka-luka dari kalangan mahasiswa dan pelajar.
"Tetapi belum tentu ada keterkaitannya. Atau bahkan tidak ada sama sekali. Di sini, kejelian pemerintah dan aparat keamanan diuji," ujar Ray kepada SINDOnews, Jumat (27/9/2019).
Ray berharap, pemerintah jangan sampai mencampuradukkan antara gerakan murni mahasiswa dengan gerakan-gerakan lain yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan tuntuan dan isu yang dibawa para demonstran.
Mantan Aktivis 98 asal UIN Jakarta ini menambahkan, pemerintah dan polisi baiknya belajar dari banyak peristiwa seperti ini. Menurutnya, mencoba mengait-kaitkan dua hal yang sama sekali berbeda itu, bukan hanya akan mengaburkan cara menyelesaikannya, namun malah berpotensi jadi makin membesar.
Ray juga berharap, pemerintah dan aparat keamanan menahan stigma apapun, apalagi misalnya menyebut analisa yang melampaui fakta lapangannya. Solusi yang elegan adalah mengundang mahasiswa berbicara, memikirkan ulang tuntutan mereka dengan mencari solusi yang tepat, serta disampaikan sejelas-jelasnya langkah pemerintah menyelamatkan agenda reformasi dan pemberantasan korupsi.
"Dengan mengajak mereka dialog, selain berpotensi menurunkan tensi protes mahasiswa, juga sekaligus mencegah dan memisahkan gerakan politik di luar agenda dan tuntutan mahasiswa," tandasnya.
(kri)