Bamsoet dan Airlangga Punya Solusi Masing-Masing Selesaikan Kemelut di Golkar

Jum'at, 27 September 2019 - 03:28 WIB
Bamsoet dan Airlangga...
Bamsoet dan Airlangga Punya Solusi Masing-Masing Selesaikan Kemelut di Golkar
A A A
JAKARTA -
Direktur Lingkar Madani (LiMa) Indonesia Ray Rangkuti menilai kemelut di tubuh Partai Golkar yang terjadi jelang diadakannya Musyawarah Nasional (Munas) karenanya tokoh yang akan bertarung memperebutkan posisi ketua umum memiliki kapasitas yang tidak jauh berbeda. Kemelut yang terjadi hanyalah riak-riak kecil dalam partai sebesar Golkar.

"Saya melihat konflik itu efek dari kesetaraan tokoh. Mereka tak punya tokoh tunggal. Maka saya melihat ini positif saja, agar partai lebih matang," jelas Ray Rangkuti dalam diskusi publik Indonesia Political Studies (IPS) bertema ‘Kemelut Golkar Menjelang Munas’ di Jakarta, Kamis, 26 September 2019.

Saat ini sudah dua nama yang dipastikan akan bertarung dalam Munas Partai Golkar mendatang, yaitu Bambang Soesatyo dan Airlangga Hartarto. Ray menyakini konflik di Partai Golkar ini tak akan jadi besar, karena baik Bamsoet maupun Airlangga sama-sama punya solusi menyelesaikan masalah.

Ray melihat baik Bamsoet ataupun Airlangga mempunyai basis dan kharisma sendiri-sendiri. Jika dilihat dalam permainan, kedua calon ketua umum Golkar itu, satu agak keluar dan satu ke dalam.

"Kalau Bamsoet, lebih banyak membangun kekuatan dari luar. Mungkin kekuatan itu untuk dibawa masuk ke dalam. Saya kira dalam dua hari ini, momentum untuk mengamati gerakan mahasiswa itu menjadi momentum bagi Bamsoet. Sehingga Bamsoet lah yang disorot dalam aksi mahasiswa tersebut," ujar Ray.

Menurut dia, tentu ada tanggungjawab moral bagi Bamsoet, tapi disaat yang sama dia juga tengah mendapat citra sebagai calon Ketum Golkar dan ini berbeda dengan Airlangga, yang terlihat lebih fokus melakukan konsolidasi kekuatan ke dalam.

Ray menambahkan ada satu variabel yang harus diperhatikan dalam menentukan siapa pemenang dalam Munas nanti. Yakni variabel eksternal, dalam hal ini keterlibatan presiden Jokowi.

"Jadi kemana kira-kira presiden punya kecenderungan dari dua kandidat ini. Keduanya butuh itu, baik Bamsoet dan Airlangga. Sampai saat ini presiden menjaga diri agar tak terlalu terlihat. Sampai nanti jelang pemilihan baru akan terlihat. Faktor ini akan menentukan juga," jelasnya.

Pada kesempatan sama, Fungsionaris DPP Partai Golkar Mirwan Bz Vauly mengatakan, Munas Partai Golkar ini sebenarnya tak selalu panas dan banyak kemelut. Bahkan kadang seperti perayaan pesta lima tahunan saja.

"Memang menjadi kemelut kalau ada sesuatu atau masalah yang oleh kader dianggap keliru. Karena ada beberapa orang tak mengindakan aturan organisasi," jelasnya.

Di Partai Golkar, lanjut Mirwan, banyak aturan yang mestinya mengikat semua kader dan pengurus. Keputusan dan sikap itu harus keluar dari kemufakatan. Bukan dari keputusan seorang ketua umum."Jadi Golkar selalu ngambil keputusan melalui kemufakatan. Itulah demokrasi yang ditontonkan Golkar pasca-reformasi. Maka tak ada satu orang yang berkuasa di Golkar, yang berkuasa adalah kemufakatan," lanjutnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif IPS Alfarisi Thalib berpendapat, Partai Golkar tetap jaya dan kuat walaupun banyak cobaan dan konflik. Partai Golkar tidak gagal melajukan kaderisasi, karena struktur sudah jalan. Kekuatan utama Golkar juga bukan personal ataupun kader.

"Tapi yang bikin Golkar kuat adalah sistem partai, aturan partai, dan ideologi partai. Walaupun dihajar katakanlah oleh pecahannya. Tapi tetap dapat suara banyak," ujarnya. Alfarisi menjelaskan, kemelut di Partai Golkar jelang Munas terjadi karena beberapa faktor. Pertama terkait dengan tata kelola partainya. Sebab, sejak 2014 sampai sekarang, partai Golkar terus menerus silih berganti, muncullah dualisme kepemimpinan. Setelah dualisme itu mereda, muncul lagi isme-isme yang lain.

"Kedua, selain pengelolaan partai, ada lagi persoalan komunikasi bagi elit-elit partai terhadap kader kader partai secara struktural, fungsional di dalam tubuh partai politik, baik dari lingkaran politik maupun dari pimpinan pusat ke pimpinan daerah," kata Alfarisi.

Ketiga, persoalan leadership dalam partai, sangat menentukan. Menurut Alfarisi, Jika di Barat leadership itu merupakan simbol dari partai politik sehingga mampu bertahan. "Sehingga kalau elit partai tidak mampu memberikan edukasi yang baik secara politik di dalam kader maka relatif partai politik tersebut mengalami ejukalasi kepemimpinan politik. Sehingga relatif partai tersebut, meskipun partai besar, maka dia dianggap partai partaian, dianggap besar dari situasi politik, namun dalam proses lobby-loby politik, dia tidak dianggap,” ucapnya.
(cip)
Berita Terkait
HUT ke-57 Partai Golkar...
HUT ke-57 Partai Golkar Bertema Bersatu untuk Menang
Bahlil Lahadalia Tegaskan...
Bahlil Lahadalia Tegaskan Soliditas Kader di HUT ke-61 Partai Golkar
Persiapan Jelang Perayaan...
Persiapan Jelang Perayaan HUT Ke-61 Partai Golkar
Soal Peluang Golkar...
Soal Peluang Golkar Ubah AD/ART untuk Jokowi Maju Ketum, Aburizal Bakrie: Bisa Saja jika Daerah Mau
Pembukaan Rapimnas Partai...
Pembukaan Rapimnas Partai Golkar
Tasyakuran HUT Ke-57...
Tasyakuran HUT Ke-57 Partai Golkar
Berita Terkini
Said Iqbal Bakal Dilantik...
Said Iqbal Bakal Dilantik Prabowo Jadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan Sore Ini
Korlantas Polri Tunda...
Korlantas Polri Tunda Pelaksanaan Operasi Patuh Jaya 2026
25 Wilayah Indonesia...
25 Wilayah Indonesia Berpotensi Tsunami Akibat Gempa M7,7 di Mindanao Filipina
Hari Ini Presiden Akan...
Hari Ini Presiden Akan Menerima Surat Kepercayaan dari Dubes Negara Sahabat
BNPP Raih Peningkatan...
BNPP Raih Peningkatan Signifikan Capaian Reformasi Birokrasi 2025 dari Kemenpan RB
Brigjen TNI Marinir...
Brigjen TNI Marinir Rino Rianto Resmi Jabat Dandenjaka, Pimpin Pasukan Elite TNI AL
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved