Pancasila Jadi Pedoman, Isu SARA Tak Akan Mempan

Rabu, 28 Agustus 2019 - 04:02 WIB
Pancasila Jadi Pedoman,...
Pancasila Jadi Pedoman, Isu SARA Tak Akan Mempan
A A A
JAKARTA - Sentimen suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) dinilai menjadi momok berbahaya bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Isu SARA mampu menggerakan konflik personal menuju kolektif yang menyulut terjadinya kekerasan bahkan anarkisme.

Di era digital sekarang ini, penyebaran isu SARA menjadi sangat liar dan akselerasi isu menjadi mudah meluas. Seperti yang terjadi saat pelaksanaan pilpres lalu, dan kasus Papua belum lama ini.

Karena itu, mencegah isu SARA dinilai penting untuk membangun daya tangkal yang kuat bagi masyarakat, khususnya di dunia maya.

“Itu memang memerlukan sikap bersama, sikap waspada bersama kita semua, sikap dewasa kita dalam kehidupan bermasyarakat bangsa ini. Karena sejak kita merdeka dulu, para pejuang kemerdekaan ini kan sudah bertekad dan bersepakat untuk mendirikan sebuah bangsa atau negara yang namanya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terdiri dari multi etnis, multi agama, multi budaya dan bertekad menjadikan Pancasila sebagai alat pemersatunya,” kata Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Agum Gumelar di Jakara, Selasa (27/8/2019).

Jika itu semua diresapi dengan baik di hati seluruh rakyat Indonesia, Agum yakin bangsa Indonesia akan sulit terpengaruh hal-hal negatif seperti isu SARA.

“Ke depan bagaimana kita semua bisa merajut persatuan dengan berpedoman kepada Pancasila. Itu yang harus kita lakukan,” katanya.

Untuk itu, Agum mengimbau generasi muda untuk bisa mengenali sejarah bangsa. Tonggak sejarah pada tahun 1945 saat Indonesia merdeka dan hasil keputusan para pejuang kemerdekaan yang sepakat mendirikan NKRI.

Selain itu, kata dia, para pendiri bangsa juga bersepakat menjadikan Pancasila sebagai ideologi dan alat pemersatunya.

Mantan Gubernur Lemhanas ini menilai sejarah bangsa harus diketahui dan dikenali oleh para generasi muda bangsa.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenali sejarah bangsanya dan menghormati jasa-jasa pahlawannya.

"Ini yang harus ditanamkan kepada para generasi muda kita ini, bahwa bangsa kita ini menjunjung tinggi toleransi antar semua golongan, agama dan etnis yang ada. Generasi muda jangan mudah terpancing hasutan, apalagi melalui media sosial,” tuturnya.

Menurut dia, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki andil besar dalam penyebaran isu SARA dan intoleransi.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kata dia, sebenarnya memiliki dampak positif yang seharusnya bisa dimanfaatkan secara bijak untuk kemajuan bangsa dan negara.

Namun di sisi lain, sambung dia, juga berdampak negatif atau residunya yaitu berkembangnya berita-berita yang disebarkan melalui media sosial yang bisa menimbulkan rasa kebencian , perpecahan, dan hoax yang bisa meresahkan masyarakat.

“Hal positif dari perkembangan teknologi ini banyak, tetapi masalahnya ada sebagian kelompok dan masyarakat yang justru memanfaatkan sisi negatifnya,” tutur mantan Pangdam VII/Wirabuana ini.

Hal ini, kata Agum, harus dilawan untuk menjaga persatuan dan perdamaian. Seluruh komponen bangsa harus dewasa menyikapi masalah ini. Apalagi dalam negara demokrasi seperti Indonesia memerlukan kedewasaan bagi rakyatnya untuk bisa mengerti tentang demokrasi.

Peran tokoh bangsa dan masyarakat menjadi penting untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat awam.

Menurut alumni Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1969 ini, peran pemerintah melalui Badan Pembinaan ideologi Pancasila (BPIP) juga harus bisa menyebarluaskan Pancasila agar bisa menjadi sesuatu yang diyakini, lalu kemudian diresapi dan kemudian diimplementasikan dalam perikehidupan sehari-hari.

“Jangan menjadikan Pancasila itu sebagai retorika belaka atau sebagai jargon belaka. Ini yang tidak boleh terjadi. Jadi tugas BPIP kedepan teramat besar dan berat untuk bisa mempersatukan bangsa ini yang kemarin masyarakatnya sempat dibuat seperti itu. Salah satunya mencegah dan menolak isu SARA ini agar tidak berkembang di masyarakat terutama melalui media sosial,” tuturnya
(dam)
Berita Terkait
Ciptakan Komunikasi...
Ciptakan Komunikasi Publik Efektif, Kominfo Ajak Masyarakat Tangkis Hoaks Bersama
TikToker Dedi Tjandra...
TikToker Dedi Tjandra Ditetapkan Tersangka Penyebaran Hoaks
Penyebaran Berita Hoaks...
Penyebaran Berita Hoaks Meningkat, Tertinggi Terkait Isu Politik
Lawan Covid-19, Jaga...
Lawan Covid-19, Jaga Jempol, Stop Penyebaran Berita Hoaks
Polisi Sebut Sudah Tangani...
Polisi Sebut Sudah Tangani 101 Kasus Penyebaran Hoaks Corona
Cegah Penyebaran Hoaks...
Cegah Penyebaran Hoaks Demi Proses Pembangunan yang Lebih Demokratis
Berita Terkini
Yusril Berkunjung ke...
Yusril Berkunjung ke MUI Malam Ini, Jelaskan Penangkapan WNA Palestina Abdul Karim Raeq Miqdad
KPK Panggil 4 Tersangka...
KPK Panggil 4 Tersangka Kasus Suap Dana Hibah Jatim
Pakar Minta Polisi Objektif...
Pakar Minta Polisi Objektif Usut Dugaan Penghinaan Terhadap Jurnalis
Penanganan Dugaan Kasus...
Penanganan Dugaan Kasus Febrie Adriansyah Jadi Ujian Independensi Penegak Hukum
Anak Ferdy Sambo Ikut...
Anak Ferdy Sambo Ikut Dilantik Presiden Prabowo Jadi Perwira Polri di Istana
Prabowo Lantik Donny...
Prabowo Lantik Donny Ermawan Jadi Gubernur Universitas Republik Indonesia dan Yos Sunitiyoso Wagub URI
Infografis
Tahapan Penerimaan Sekolah...
Tahapan Penerimaan Sekolah Kedinasan 2026, Lulus Bisa Jadi Calon PNS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved