Enam Indikator Menghitung Garis Kemiskinan di Indonesia

Kamis, 15 Agustus 2019 - 18:16 WIB
Enam Indikator Menghitung...
Enam Indikator Menghitung Garis Kemiskinan di Indonesia
A A A
JAKARTA - Direktur Eksekutif Megawati Institute, Arif Budimanta menilai, metode basic needs approach yang dipakai Badan Pusat Statistik (BPS) untuk menghitung angka kemiskinan di Indonesia masih menyisakan tanda tanya di masyarakat.

Hal ini dikatakan Arif, dalam diskusi 'Konsep Garis Kemiskinan Berlandaskan Konstitusi dan Cita-Cita Pendiri Bangsa di Hotel Mercure, Sabang, Jakarta Pusat, Kamis (15/8/2019).

"Kemiskinan sejauh ini dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskinan," kata Arif.

Sementara itu menurut Arif, dalam konstitusi kehidupan yang layak diatur dalam empat pasal yakni Pasal 27 Ayat 2, Pasal 28 A, Pasal 28 c Ayat 1 dan Pasal 31 ayat 1.

Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) itu menegaskan, melihat pasal-pasal tersebut secara terang menyebutkan, setiap orang berhak atas pekerjaan, pemenuhan kebutuhan dasaranya serta berhak hidup dan mempertahankan kehidupannya.

"Para pendiri bangsa juga pernah mengkritik statistik kemiskinan yang dikeluarkan pemerintah Hindia-Belanda. Kritik itu dianggap tidak sesuai dengan gambaran kehidupan yang layak bagi rakyat," ucapnya.

Sejalan dengan Arief, peneliti Sigma Phi, Muhammad Islam menilai, perlu ada perubahan konsep penghitungan tingkat kemiskinan dari konsep saat ini yang menggunakan basic needs menjadi basic right.

Dengan demikian, Indonesia akan mampu menuju pengusahaan agar rakyatnya tidak hanya sekadar mampu bertahan hidup, namun menjadi rakyat yang dapat hidup makmur.

Mengacu hal tersebut, lanjut Muhammad, ada enam indikator untuk mengukur kemiskinan yang terjadi yakni kesehatan, pendidikan, pekerjaan, pangan, air minum dan perumahan. Selain itu, lanjutnya, jika memasukan sejumlah indikator tersebut, terdapat 51,8 persen penduduk Indonesia masuk dalam kategoris hidup tidak layak.

"Tapi angka (51,8) masih berubah. Jadi kalo kemiskinan menurun angkanya di bawah itu," kata Direktur Eksekutif Sigma Phi itu menandaskan.
(maf)
Berita Terkait
BP Taskin Finalisasi...
BP Taskin Finalisasi Buku Rencana Besar Penuntasan Kemiskinan
1,3 Juta Warga Pesisir...
1,3 Juta Warga Pesisir Jadi Target Pengentasan Kemiskinan di Tahun 2022
BP Taskin Gandeng Perusahaan...
BP Taskin Gandeng Perusahaan China Latih Anak Muda Miskin Jadi Tenaga Siap Kerja
Desa Berperan Penting...
Desa Berperan Penting dalam Pengentasan Kemiskinan Berbasis Budaya
Kunjungi BP Taskin,...
Kunjungi BP Taskin, Bupati Indramayu dan Bombana Minta Resep Atasi Kemiskinan
Ganjar Puji Kades Blora...
Ganjar Puji Kades Blora Soal Cara Menurunkan Kemiskinan
Berita Terkini
Vesak Festival 2026,...
Vesak Festival 2026, Stafsus Menag Doakan Presiden Prabowo Diberi Kekuatan Memimpin Bangsa
Relawan Sebut Prabowo...
Relawan Sebut Prabowo Sedang Memimpin Perang Besar Melawan Mafia Ekonomi dan SDA
Ajakan Tobat Ekologis...
Ajakan Tobat Ekologis Menteri Jumhur Sangat Tepat dan Relevan
KPK Sebut Penerimaan...
KPK Sebut Penerimaan Murid Baru Masih Dibayangi Pungli
Ditetapkan Tersangka...
Ditetapkan Tersangka oleh KPK, Bupati Cilacap Syamsul Ajukan Praperadilan
Langkah Berani Kejagung...
Langkah Berani Kejagung Sentuh Korupsi MBG Jadi Sinyal Kuat Penegakan Hukum Tanpa Impunitas
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved