Agar Tidak Nyasar, Jamaah Diminta Pelajari Rute Pemondokan
Rabu, 10 Juli 2019 - 09:00 WIB
Agar Tidak Nyasar, Jamaah Diminta Pelajari Rute Pemondokan
A
A
A
MADINAH - Salah satu persoalan menonjol dalam penyelenggaraan ibadah haji dari tahun ke tahun adalah tingginya jumlah jamaah yang tersesat. Jamaah pun diminta mengenali rute dari pemondokan ke Masjid Nabawi di Madinah atau Masjidil Haram di Makkah. Pengenalan rute salah satunya bisa dilakukan dengan terlebih dahulu menghafalkan nama-nama hotel tempat jamaah menginap.
Para jamaah bisa meminta kartu nama penginapan dari petugas hotel atau memfoto nama hotel dengan telepon seluler. Pelaksana Tugas Daerah Kerja Madinah Amin Handoyo mengatakan jamaah haji yang baru sampai kota nabi harus segera mengenali pemondokan sebelum beranjak ke Masjid Nabawi.
"Untuk tahu nama hotel ada beberapa cara, yang pertama minta kartu nama hotel di resepsionis, di kartu hotel biasanya ada peta. Jamaah juga bisa foto papan nama hotel dengan telepon seluler sehingga nanti kalau bingung bisa melihat dengan mudah,” ujarnya.
Pengenalan nama hotel, lanjut Amin sangat penting karena bentuk bangunan di Madinah hampir sama. Jika tidak hafal nama hotel, dipastikan jamaah akan kebingungan. "Soalnya di sini gedungnya hampir sama semua, kalau tidak lihat papan namanya bisa saja salah," kata Amin.
Ia juga menyarankan agar ketika jemaah berjalan menuju Masjid Nabawi untuk mengingat-ingat rute perjalanan ke Nabawi. Setelah menyimpan nama hotel dan mengingat jalan pulang, langkah selanjutnya adalah mengingat pintu Masjid Nabawi. Orientasi lapangan juga mesti dilakukan di Masjid Nabawi dengan mengetahui melalui pintu berapa ketika masuk.
Dengan demikian akan lebih aman ketika harus kembali ke tempat semula. “Jamaah juga harus mengenali petugas haji Indonesia yang sudah dilengkapi atribut khusus sehingga tidak panik saat mereka bingung jalan kembali ke pemondokan,” katanya.
Sementara itu Kasi Akomodasi Daerah Kerja (Daker) Madinah, Ihsan Faisal BR mengungkapkan tahun ini Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menyiapkan 111 hotel di sekitar Masjid Nabawi untuk menginap jamaah dari Indonesia. Hingga kemarin sebanyak 60 hotel yang telah ditempati jamaah Indonesia. "Hotel tersebar di lima sektor yang semuanya berada di markaziyah Masjid Nabawi," katanya, Selasa (9/7/2019).
Sektor 1 dan 2 terdapat di Markaziyah Syimaliah (utara), sektor 3 berada di Markaziyah Gharbiyah (barat), adapun sektor 4 dan 5 berada di Markaziyah Janubiah (selatan). Jarak hotel paling dekat 10 meter dan terjauh 570 meter dari pagar Masjid Nabawi. "Selain lima sektor itu ada juga sektor khusus yang melayani jamaah haji Indonesia di area Masjid Nabawi," kata Ihsan Faisal.
Di masing-masing sektor, kata Ihsan, memiliki kantor yang menjadi tempat koordinasi dan pelayanan jamaah. Bagi jamaah yang mengalami kendala, seperti hilang barang, bingung mencari hotel dan lainnya, bisa melaporkan ke kantor sektor. Petugas sektor nanti akan membantu menyelesaikan permasalahan yang terjadi.
Ihsan memaparkan bahwa kantor Sektor 1 berada di Hotel Mubarak Fidhi, Sektor 2 di Hotel Fairuziyah Al Khoir, Sektor 3 berada di Hotel Gulnar Al Salam, Sektor 4 di Hotel Nibras Syahba, dan Sektor 5 ada di Hotel Gulnar Taibah. Sementara kantor Sektor Khusus ada di Taibah Arac Suites. "Bagi jamaah yang membutuhkan bantuan bisa datang ke kantor sektor. Petugas akan membantu," katanya.
Menurut Ihsan, hingga saat ini tidak ada laporan menonjol terkait kendala yang dialami jamaah. Yang paling banyak dialami adalah kebingungan jamaah di Masjid Nabawi. Ada yang bingung pulang ke hotel, kehilangan sandal, dan disorientasi. Untuk menangani permasalahan tersebut, Sektor Khusus menyiagakan petuga 24 jam di sejumalh pintu Masjid Nabawi.
"Kami siagakan petugas di pintu-pintu utama, seperti pintu 21, pintu 7, dan pintu 1," kata Ihsan. Bagi jamaah yang mengalami kesulitan bisa langsung mencari para petugas di pintu-pintu tersebut. Atau bisa juga datang ke Kantor Sektor Khusus di Hotel Taibah Arac Suites yang berjarak 10 meter dari pagar Masjid Nabawi. "Kantor Sektor Khusus menyiapkan kursi roda, sandal, makanan, minuman, dan obat-obatan bagi jamaah yang membutuhkan," katanya.
Jangan Sungkan Minta Fasilitas Hotel
Pada bagian lain, jamaah haji diimbau jangan takut dan malu meminta fasilitas hotel yang ditempati. Sebab, panitia telah menyewa seluruh ruangan hotel untuk mereka. "Misalnya jangan sungkan meminta ganti sprei atau handuk," ucap Ketua Sektor 3 Madinah Jamal M Marki di Hotel Isyraq Al Bustam.
Hotel ini yang memiliki 10 lantai dengan 140 kamar ini berjarak sekitar 150 meter dari Masjid Nabawi. Di dalamnya terdapat 560 tempat tidur. Juga terdapat ruang makan yang mampu menampung 450 jamaah. "Satu kamar dilengkapi empat tempat tidur dengan fasilitas kamar mandi dalam dan kelengkapan lain termasuk dua air mineral galon di tiap lantai," katanya.
Selain itu di tiap lantai juga dilengkapi tempat menjemur pakaian yang cukup luas. Diharapkan dengan layanan yang diberikan ini, jemaah haji makin merasa nyaman sehingga dapat menjalankan aktivitas ibadah dengan baik. "Jaga kebersihan dan ketertiban. Jangan merokok di ruangan. Jangan juga makan di kamar karena sudah disediakan di ruang makan," imbuhnya.
Sementara itu, Aspudiatun mengaku langsung pergi ke Masjid Nabawi setelah tiba di Madinah, Sabtu (6/7/2019). Menurutnya, posisi masjid tidak terlalu jauh meski sedikit membingkan. "Pergi sama rombongan, bingung kalau sendiri," kata nenek berusia 73 tahun ini.
ABDUL MALIK MUBARAK
Laporan Wartawan KORAN SINDO
MADINAH
Para jamaah bisa meminta kartu nama penginapan dari petugas hotel atau memfoto nama hotel dengan telepon seluler. Pelaksana Tugas Daerah Kerja Madinah Amin Handoyo mengatakan jamaah haji yang baru sampai kota nabi harus segera mengenali pemondokan sebelum beranjak ke Masjid Nabawi.
"Untuk tahu nama hotel ada beberapa cara, yang pertama minta kartu nama hotel di resepsionis, di kartu hotel biasanya ada peta. Jamaah juga bisa foto papan nama hotel dengan telepon seluler sehingga nanti kalau bingung bisa melihat dengan mudah,” ujarnya.
Pengenalan nama hotel, lanjut Amin sangat penting karena bentuk bangunan di Madinah hampir sama. Jika tidak hafal nama hotel, dipastikan jamaah akan kebingungan. "Soalnya di sini gedungnya hampir sama semua, kalau tidak lihat papan namanya bisa saja salah," kata Amin.
Ia juga menyarankan agar ketika jemaah berjalan menuju Masjid Nabawi untuk mengingat-ingat rute perjalanan ke Nabawi. Setelah menyimpan nama hotel dan mengingat jalan pulang, langkah selanjutnya adalah mengingat pintu Masjid Nabawi. Orientasi lapangan juga mesti dilakukan di Masjid Nabawi dengan mengetahui melalui pintu berapa ketika masuk.
Dengan demikian akan lebih aman ketika harus kembali ke tempat semula. “Jamaah juga harus mengenali petugas haji Indonesia yang sudah dilengkapi atribut khusus sehingga tidak panik saat mereka bingung jalan kembali ke pemondokan,” katanya.
Sementara itu Kasi Akomodasi Daerah Kerja (Daker) Madinah, Ihsan Faisal BR mengungkapkan tahun ini Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menyiapkan 111 hotel di sekitar Masjid Nabawi untuk menginap jamaah dari Indonesia. Hingga kemarin sebanyak 60 hotel yang telah ditempati jamaah Indonesia. "Hotel tersebar di lima sektor yang semuanya berada di markaziyah Masjid Nabawi," katanya, Selasa (9/7/2019).
Sektor 1 dan 2 terdapat di Markaziyah Syimaliah (utara), sektor 3 berada di Markaziyah Gharbiyah (barat), adapun sektor 4 dan 5 berada di Markaziyah Janubiah (selatan). Jarak hotel paling dekat 10 meter dan terjauh 570 meter dari pagar Masjid Nabawi. "Selain lima sektor itu ada juga sektor khusus yang melayani jamaah haji Indonesia di area Masjid Nabawi," kata Ihsan Faisal.
Di masing-masing sektor, kata Ihsan, memiliki kantor yang menjadi tempat koordinasi dan pelayanan jamaah. Bagi jamaah yang mengalami kendala, seperti hilang barang, bingung mencari hotel dan lainnya, bisa melaporkan ke kantor sektor. Petugas sektor nanti akan membantu menyelesaikan permasalahan yang terjadi.
Ihsan memaparkan bahwa kantor Sektor 1 berada di Hotel Mubarak Fidhi, Sektor 2 di Hotel Fairuziyah Al Khoir, Sektor 3 berada di Hotel Gulnar Al Salam, Sektor 4 di Hotel Nibras Syahba, dan Sektor 5 ada di Hotel Gulnar Taibah. Sementara kantor Sektor Khusus ada di Taibah Arac Suites. "Bagi jamaah yang membutuhkan bantuan bisa datang ke kantor sektor. Petugas akan membantu," katanya.
Menurut Ihsan, hingga saat ini tidak ada laporan menonjol terkait kendala yang dialami jamaah. Yang paling banyak dialami adalah kebingungan jamaah di Masjid Nabawi. Ada yang bingung pulang ke hotel, kehilangan sandal, dan disorientasi. Untuk menangani permasalahan tersebut, Sektor Khusus menyiagakan petuga 24 jam di sejumalh pintu Masjid Nabawi.
"Kami siagakan petugas di pintu-pintu utama, seperti pintu 21, pintu 7, dan pintu 1," kata Ihsan. Bagi jamaah yang mengalami kesulitan bisa langsung mencari para petugas di pintu-pintu tersebut. Atau bisa juga datang ke Kantor Sektor Khusus di Hotel Taibah Arac Suites yang berjarak 10 meter dari pagar Masjid Nabawi. "Kantor Sektor Khusus menyiapkan kursi roda, sandal, makanan, minuman, dan obat-obatan bagi jamaah yang membutuhkan," katanya.
Jangan Sungkan Minta Fasilitas Hotel
Pada bagian lain, jamaah haji diimbau jangan takut dan malu meminta fasilitas hotel yang ditempati. Sebab, panitia telah menyewa seluruh ruangan hotel untuk mereka. "Misalnya jangan sungkan meminta ganti sprei atau handuk," ucap Ketua Sektor 3 Madinah Jamal M Marki di Hotel Isyraq Al Bustam.
Hotel ini yang memiliki 10 lantai dengan 140 kamar ini berjarak sekitar 150 meter dari Masjid Nabawi. Di dalamnya terdapat 560 tempat tidur. Juga terdapat ruang makan yang mampu menampung 450 jamaah. "Satu kamar dilengkapi empat tempat tidur dengan fasilitas kamar mandi dalam dan kelengkapan lain termasuk dua air mineral galon di tiap lantai," katanya.
Selain itu di tiap lantai juga dilengkapi tempat menjemur pakaian yang cukup luas. Diharapkan dengan layanan yang diberikan ini, jemaah haji makin merasa nyaman sehingga dapat menjalankan aktivitas ibadah dengan baik. "Jaga kebersihan dan ketertiban. Jangan merokok di ruangan. Jangan juga makan di kamar karena sudah disediakan di ruang makan," imbuhnya.
Sementara itu, Aspudiatun mengaku langsung pergi ke Masjid Nabawi setelah tiba di Madinah, Sabtu (6/7/2019). Menurutnya, posisi masjid tidak terlalu jauh meski sedikit membingkan. "Pergi sama rombongan, bingung kalau sendiri," kata nenek berusia 73 tahun ini.
ABDUL MALIK MUBARAK
Laporan Wartawan KORAN SINDO
MADINAH
(amm)